<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RAHMAN : ANAK JAKARTA DI SELAYAR</title>
	<atom:link href="http://rahmanjakarta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com</link>
	<description>KARENA TERLALU RINDUNYA AKU PADAMU</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Mar 2011 06:16:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rahmanjakarta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RAHMAN : ANAK JAKARTA DI SELAYAR</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rahmanjakarta.wordpress.com/osd.xml" title="RAHMAN : ANAK JAKARTA DI SELAYAR" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rahmanjakarta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Metode Center of Gravity dalam Penentuan Lokasi Strategis KPPN Benteng</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2010/04/21/metode-center-of-gravity-dalam-penentuan-lokasi-strategis-kppn-benteng/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2010/04/21/metode-center-of-gravity-dalam-penentuan-lokasi-strategis-kppn-benteng/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 06:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[center of gravity method]]></category>
		<category><![CDATA[kppn benteng]]></category>
		<category><![CDATA[metode center of gravity]]></category>
		<category><![CDATA[metode pusat gravitasi]]></category>
		<category><![CDATA[mmugm]]></category>
		<category><![CDATA[penentuan lokasi]]></category>
		<category><![CDATA[strategis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan Dalam setiap menjalankan kegiatan operasi perusahaan untuk menghasilkan produk berupa barang atau jasa terdapat beberapa fungsi yang saling terkait satu sama lainnya. Fungsi-fungsi tersebut minimal antara lain terdiri dari fungsi operasi atau produksi, fungsi keuangan atau akuntansi, dan fungsi pemasaran. Fungsi operasi atau produksi merupakan salah satu fungsi yang sangat penting karena merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=172&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2010/04/untitled1.jpg?w=84&#038;h=150" alt="" title="untitled" width="84" height="150" class="alignleft size-large wp-image-174" /><br />
A.	Pendahuluan<br />
	Dalam setiap menjalankan kegiatan operasi perusahaan untuk menghasilkan produk berupa barang atau jasa terdapat beberapa fungsi yang saling terkait satu sama lainnya. Fungsi-fungsi tersebut minimal antara lain terdiri dari fungsi operasi atau produksi, fungsi keuangan atau akuntansi, dan fungsi pemasaran. Fungsi operasi atau produksi merupakan salah satu fungsi yang sangat penting karena merupakan fungsi yang berperan dalam menciptakan nilai dalam bentuk barang atau jasa dengan cara mengubah suatu input menjadi output. Dalam memproses input menjadi output, seorang manajer operasi atau produksi bertugas dalam menentukan serangkaian kebijakan dalam rangka pengambilan keputusan strategis. Salah satu keputusan yang harus diambil adalah keputusan mengenai strategi penentuan lokasi yang tepat untuk beroperasinya suatu perusahaan atau organisasi.<span id="more-172"></span><br />
	Tujuan strategi penentuan lokasi perusahaan adalah dalam rangka memaksimalkan benefit dari lokasi suatu perusahaan. Penentuan lokasi perusahaan sangat tergantung dari tipe usaha yang bersangkutan. Bagi perusahaan industri, strategi ini bertujuan untuk meminimalkan biaya terkait dengan letak perusahaan, misalnya biaya pengangkutan, biaya komunikasi dengan pelanggan, biaya penyimpanan dan lain-lain. Sedangkan bagi perusahaan atau organisasi yang bergerak di bidang jasa strategi penentuan lokasi bertujuan untuk memaksimalkan pelayanan jasa yang diberikan untuk pelanggannya.<br />
	Terdapat beberapa metode dalam menentukan lokasi suatu perusahaan atau organisasi dalam menentukan letak lokasi tempat usahanya. Salah satu metode yang menarik perhatian Penulis adalah metode center of gravity. Ketertarikan ini membuat Penulis terdorong untuk membuat suatu tulisan mengenai penerapan metode center of gravity dalam penentuan lokasi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar, yang merupakan tempat bekerja Penulis selama ini.<br />
	Tujuan penulisan adalah untuk melihat bagaimana hasil penentuan lokasi kantor tempat bekerja Penulis berdasarkan metode ini. Apakah lokasi yang ditempati sekarang merupakan lokasi yang tepat menurut metode center of gravity, apakah terdapat perbedaan jarak yang cukup jauh antara penentuan lokasi berdasarkan metode center of gravity dengan lokasi yang sesungguhnya saat ini. Juga diharapkan penulisan ini dapat menjadi bahan kajian lebih lanjut baik bagi diri Penulis maupun pembaca tulisan ini di masa yang akan datang.</p>
<p>B.	Letak Geografis Kabupaten Kepulauan<br />
	Kabupaten Kepulauan Selayar (dahulu Kabupaten Selayar) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Benteng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 903,35 km² dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 100.000 jiwa. Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan suatu kabupaten yang mempunyai beberapa kecamatan yang dipisahkan oleh lautan (Gambar 1).</p>
<p>Gambar 1.  Gambar Kabupaten Kepulauan Selayar (gambar kanan perbesaran dari gambar kiri)</p>
<p>	Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu Kabupaten diantara 24 Kabupaten/Kota di Propinsi Sulawesi Selatan yang letaknya di ujung selatan dan memanjang dari Utara ke Selatan. Daerah ini memiliki kekhususan, yakni satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi Selatan dan lebih dari itu wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga merupakan wilayah kepulauan.<br />
Gugus	an pulau-pulau yang berjumlah 123 buah baik pulau-pulau besar maupun pulau-pulau kecil yang membentang dari Utara ke Selatan. Luas wilayah Kabupaten Selayar tercatat 1.188,28 km persegi, wilayah daratan (5,23%) dan 21.138,41 km² (94,68%) wilayah lautan, yang diukur 4 (empat) mil keluar pada saat air surut terhadap pulau-pulau terluar.<br />
Secara geografis, Kabupaten Kepulauan Selayar berada pada koordinat (letak astronomi) 5°42&#8242; &#8211; 7°35&#8242; Lintang Selatan dan 120°15&#8242; &#8211; 122°30&#8242; Bujur Timur yang berbatasan dengan:<br />
•	Sebelah Utara dengan Kabupaten Bulukumba dan Teluk Bone<br />
•	Sebelah Timur dengan Laut Flores (Provinsi Nusa Tenggara Timur)<br />
•	Sebelah Selatan dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur<br />
•	Sebelah Barat dengan Laut Flores dan Selat Makassar<br />
	Berdasarkan letak, Kepulauan Selayar merupakan kepulauan yang terletak diantara jalur alternatif perdagangan internasional, yang menjadikan Selayar secara geografis sangat strategis sebagai pusat perdagangan dan distribusi baik secara nasional untuk melayani Kawasan Timur Indonesia maupun pada skala internasional melayani negara-negara di kawasan Asia.<br />
C.	Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Benteng<br />
	Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Benteng merupakan instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan Republik Indonesia. Secara organisasi, kedudukan KPPN Benteng berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Propinsi Sulawesi Selatan.<br />
	Tugas pokok KPPN Benteng melaksanakan tugas Kuasa Bendahara Umum di wilayahnya yang meliputi kegiatan penyaluran dana atas beban APBN, penatausahaan penerimaan negara, penyelenggaraan kegiatan akuntansi atas penerimaan dan pengeluaran negara. Dalam melaksanakan tugasnya itu, KPPN Benteng memiliki wilayah pembayaran hanya meliputi satu kabupaten yang memang secara geografis terpisah dari daratan Propinsi Sulawesi Selatan.<br />
	Sebelum berdirinya KPPN Benteng pada akhir tahun 2001,  pelaksanaan penyaluran dana APBN untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar dilakukan melalui KPPN Bantaeng yang berlokasi di Kabupaten Bantaeng. Setiap bendahara yang ingin mengajukan permintaan pembayaran harus menempuh perjalanan darat dan menyebrangi selat Selayar menuju daratan seberang yang memerlukan waktu tempuh sekitar 5 jam. Untuk dapat kembali ke tempat semula harus menunggu hingga keesokan harinya karena sudah tidak dimungkinkan melakukan penyeberangan kembali pada hari yang sama mengingat jadwal penyeberangan kapal fery yang hanya melayani satu kali penyeberangan. Jika pengajuan tagihan atas beban negara tersebut masih harus diperbaiki mengakibatkan yang bersangkutan harus kembali lagi memperbaikinya. Belum lagi jika sudah tiba musim angin barat yang datang sekitar bulan Desember-April dimana sering terjadi pembatalan jadwal penyeberangan mengingat cuaca yang sangat berbahaya untuk melakukan penyeberangan.<br />
	Melihat semakin banyaknya dana APBN yang harus disalurkan di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar dan demi memudahkan proses penyalurannya, mendorong Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk mendirikan kantor bayar tersendiri yang khusus menangani pembayaran di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar pada Desember 2001. Pada awalnya KPPN Benteng menempati bekas kantor Kecamatan Benteng di Jalan Sutoyo Siswomihardjo hingga Maret 2004. Kini KPPN Benteng memiliki kantornya sendiri seluas 2.818 m2 yang berada di Jalan DI Panjaitan dan baru diresmikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perbendaharaan pada tanggal 14 maret 2006.<br />
	Secara geografis KPPN Benteng memang tidak terletak di daerah pusat kota namun masih dapat terjangkau oleh para pihak yang berkepentingan dengannya mengingat kecilnya wilayah geografis Kabupaten Kepulauan Selayar. Namun demikian penentuan letak yang strategis dapat lebih mempermudah pihak satuan kerja dan pihak-pihak lainnya dalam berurusan dengan KPPN terkait pencairan dana.<br />
	Penentuan lokasi kantor baru yang lebih strategis bukanlah merupakan hal sulit, mengingat di daerah ini masih banyak terdapat lahan kosong yang bisa dijadikan tempat membangun kantor. Banyak terdapat alternatif tempat yang dapat digunakan selain yang ditempati saat ini. Jalan DI Panjaitan yang menjadi pilihan lokasi KPPN Benteng bukanlah merupakan jalan utama yang ada di kabupaten ini. Tidak banyak kantor instansi pemerintahan yang berada di sekitar jalan tersebut. Jika ditarik garis lurus dari arah Utara ke Selatan hanya terdapat dua instansi pemerintahan yang ada di sepanjang jalan tersebut yaitu KPPN Benteng sendiri dan Balai Taman Nasional Takabonerate yang merupakan instansi vertikal Departemen Kehutanan RI.<br />
	Dengan menggunakan bantuan aplikasi Google Earth didapatkan posisi geografis KPPN Benteng berada pada titik koordinat 6°11&#8217;4.89&#8243; Lintang Selatan dan 120°26&#8217;37.32&#8243; Bujur Timur. </p>
<p>D.	Satuan Kerja di Wilayah Pembayaran KPPN Benteng<br />
	Pengertian satuan kerja adalah instansi vertikal dan/atau unit pelaksana teknis dari suatu departemen/kementerian Negara/lembaga/badan dan/atau satuan kerja perangkat daerah yang mengelola dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan. Mayoritas satuan kerja yang dilayani KPPN Benteng merupakan instansi vertikal dari suatu departemen/badan dan satuan kerja pelaksana dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan.<br />
	Masing-masing satuan kerja memiliki tugas sebagaimana yang diamanatkan oleh departemen/badan yang membawahinya. Untuk melaksanakan tugas dan fungsinya tersebut, masing-masing satuan kerja diberikan kewenangan untuk mengelola dana APBN yang menjadi tanggung jawabnya berdasarkan alokasi yang telah ditetapkan oleh menteri departemen/kepala badan. Besar kecilnya volume pengajuan dana ke KPPN Benteng sangat ditentukan oleh besar kecilnya dana yang dikelola oleh satuan kerja bersangkutan. Semakin besar dana yang dikelola maka semakin banyak dan semakin sering bendahara satuan kerja yang bersangkutan mengajukan tagihan atas beban negara ke KPPN Benteng. Demikian pula sebaliknya, satuan kerja yang lebih sedikit mengelola dana APBN akan lebih jarang mengajukan dana kecuali hanya untuk keperluan rutin bulanan berupa dana operasional kantor dan belanja gaji pegawai. Untuk itulah dalam rangka menentukan bobot penentuan lokasi berdasarkan metode center of gravity digunakan data jumlah dana yang dikelola oleh masing-masing satuan kerja, selain faktor letak geografis masing-masing kantor.<br />
	Sebagian besar lokasi satuan kerja terletak di ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu kota Benteng. Hanya terdapat beberapa satuan kerja yang letaknya sangat jauh dari pusat kota dan bahkan berada di luar daratan kepulauan Selayar itu sendiri. Satuan kerja ini biasanya merupakan Sekolah Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di bawah Departemen Agama yang terletak di berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Kepulauan Selayar. Sedangkan satuan kerja yang terpisah dari daratan induk Kepulauan Selayar adalah Kantor Pelabuhan Jampea di bawah Departemen Perhubungan yang ada di Kecamatan Jampea sekitar 30 jam perjalanan menggunakan perahu motor dari pelabuhan Benteng Selayar. Satuan kerja yang sangat jauh lokasinya ini biasanya mengelola dana yang tidak terlalu besar. Oleh karenanya Penulis tidak memasukkan satuan kerja ini karena tidak terlalu signifikannya terhadap hasil perhitungan penentuan lokasi KPPN Benteng berdasarkan metode center of gravity nantinya.<br />
	Beberapa satuan kerja yang menjadi pemangku kepentingan KPPN Benteng yang dijadikan bahan perhitungan metode penentuan lokasi ini dilengkapi dengan data besarnya dana yang dikelola untuk APBN 2010 yang dituangkan dalam dokumen yang disebut DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran), alamat dan letak astronomis berdasarkan aplikasi Google Earth adalah sebagaimana tabel berikut.</p>
<p>Tabel 1<br />
Daftar Nama, Jumlah Dana DIPA, dan Lokasi Astronomis Satuan Kerja di Wilayah Pembayaran KPPN Benteng</p>
<p>No	Nama Satuan Kerja	Dana DIPA<br />
(Rupiah)	Letak Astronomis<br />
			Lintang Selatan	Bujur Timur<br />
1.	Pengadilan Negeri Selayar	1.676.958.000<br />
6°11&#8217;1.05&#8243;	120°26&#8217;37.70&#8243;<br />
2.	Pengadilan Agama Selayar	2.035.525.000<br />
6°11&#8217;1.90&#8243;	120°26&#8217;44.24&#8243;<br />
3.	Kejaksaan Negeri Selayar	1.971.178.000<br />
6°11&#8217;1.86&#8243;	120°26&#8217;36.66&#8243;<br />
4.	Pemerintah Daerah	11.200.195.000	6°11&#8217;1.91&#8243;	120°26&#8217;44.26&#8243;<br />
5.	Rumah Tahanan Negara	1.927.288.000<br />
6°11&#8217;3.08&#8243;	120°26&#8217;33.05&#8243;<br />
6.	Kantor Pajak Benteng	564.283.000<br />
6°11&#8217;2.07&#8243;	120°26&#8217;37.14&#8243;<br />
7.	Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara	1.550.397.000<br />
6°11&#8217;4.89&#8243;	120°26&#8217;37.32&#8243;<br />
8.	Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Selayar	315.000.000<br />
6°11&#8217;8.80&#8243;	120°26&#8217;35.06&#8243;<br />
9.	Kantor Pelabuhan Selayar	2.949.194.000<br />
6°11&#8217;3.91&#8243;	120°26&#8217;34.76&#8243;<br />
10.	Bandar Udara Aroepala	7.496.842.000<br />
6°11&#8217;16.72&#8243;	120°26&#8217;31.60&#8243;<br />
11.	Kandep Agama Kab. Selayar	7.295.724.000<br />
6°11&#8217;8.56&#8243;	120°26&#8217;34.92&#8243;<br />
12.	Madrasah Aliyah Negeri Bontoharu	1.768.233.000<br />
6°11&#8217;3.90&#8243;	120°26&#8217;35.10&#8243;<br />
13.	Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kohala	817.853.000<br />
6°10&#8217;16.97&#8243;	120°27&#8217;4.41&#8243;<br />
14.	Madrasah Ibtidaiyah Negeri Laiyolo	432.137.000<br />
6°11&#8217;21.76&#8243;	120°26&#8217;39.85&#8243;<br />
15.	Madrasah Ibtidaiyah Negeri Buki	454.263.000<br />
6°10&#8217;27.89&#8243;	120°27&#8217;2.82&#8243;<br />
16.	Madrasah Ibtidaiyah Negeri Benteng	669.391.000<br />
6°11&#8217;3.90&#8243;	120°26&#8217;35.10&#8243;<br />
17.	Madrasah Ibtidaiyah Negeri Matang Selatan	436.039.000<br />
6°11&#8217;43.12&#8243;	120°27&#8217;4.82&#8243;<br />
18.	Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi	2.808.788.000<br />
6°11&#8217;1.84&#8243;	120°26&#8217;36.60&#8243;<br />
19.	Balai Taman Nasional Takabonerate	8.267.366.000<br />
6°11&#8217;10.88&#8243;	120°26&#8217;36.02&#8243;<br />
20.	Dinas Kelautan dan Perikanan	15.081.067.000<br />
6°11&#8217;8.80&#8243;	120°26&#8217;35.10&#8243;<br />
21.	Pembangunan Infrastruktur Permukiman	220.000.000<br />
6°11&#8217;1.84&#8243;	120°26&#8217;36.60&#8243;<br />
22.	Badan Pusat Statistik Kab. Selayar	3.014.791.000<br />
6°11&#8217;3.08&#8243;	120°26&#8217;35.17&#8243;<br />
23.	Kantor Pertanahan Kab. Selayar	1.291.953.000<br />
6°11&#8217;1.11&#8243;	120°26&#8217;30.08&#8243;<br />
24.	Polres Selayar	16.019.735.000<br />
6°11&#8217;3.01&#8243;	120°26&#8217;35.15&#8243;<br />
25	KPU Kab. Selayar	2.192.289.000<br />
6°11&#8217;3.08&#8243;	120°26&#8217;34.09&#8243;<br />
Sumber : data nama dan jumlah dana DIPA diolah dari http://www.benteng.kppn.net, lokasi astronomis didapat dari aplikasi Google Earth</p>
<p>E.	Metode Center of gravity dalam Penentuan Lokasi KPPN Benteng<br />
1.	Pengertian<br />
	Metode Center of gravity adalah sebuah teknik matematis yang digunakan untuk menemukan lokasi yang paling baik untuk suatu titik distribusi yang dapat meminimalkan biaya distribusi. Metode ini memperhitungkan jarak lokasi pasar, jumlah barang yang akan dikirim ke pasar tersebut, dan biaya pengiriman untuk menemukan lokasi terbaik untuk sebuah pusat distribusi. Langkah awal metode pusat gravitasi adalah menempatkan lokasi pada suatu sistem koordinat. Proses ini akan diilustrasikan pada Contoh 1. Titik asal sistem koordinat dan skala yang digunakan keduanya memiliki sifat berubah-ubah, selama jarak relatif (antar lokasi) dinyatakan secara tepat. Hal ini dapat dikerjakan dengan mudah dengan menempatkan titik-titik pada peta biasa. Pusat gravitasi ditentukan dengan persamaan (2-1) dan (2-2):</p>
<p>Koordinat-x pusat gravitasi = Persamaan (2-1)</p>
<p>∑i dixQi<br />
	∑i Qi	</p>
<p>Koordinat-y pusat gravitasi = Persamaan (2-2)<br />
	∑i diyQi<br />
	∑i Qi<br />
Di mana dix = koordinat-x lokasi i<br />
Di mana diy = koordinat-y lokasi i<br />
Qi = kuantitas barang yang dipindahkan ke atau dari lokasi i</p>
<p>	Perhatikan bahwa Persamaan (2-1) dan (2-2) mengandung istilah Qi yang merupakan banyaknya pasokan yang dipindahkan ke atau dari lokasi i.<br />
	Karena jumlah kontainer yang dikirim setiap bulan mempengaruhi biaya, maka jarak tidak dapat menjadi satu-satunya kriteria utama. Metode pusat gravitasi mengasumsikan bahwa biaya secara langsung berimbang pada jarak dan jumlah yang dikirim. Lokasi yang ideal adalah lokasi yang meminimalkan jarak berbobot antara gudang dan toko ecerannya, di mana pembobotan jarak dilakukan sesuai dengan jumlah kontainer yang dikirim.<br />
	Contoh perhatikan kasus Quain’s Discount Department Stores, yang merupakan rantai dari empat toko outlet besar sejenis Target. Toko perusahaan ini terletak di Chicago, Pittsburgh, New York dan Atlanta; mereka sekarang dipasok dari sebuah gudang tua yang tidak lagi memadai di Pittsburgh, tempat toko pertama yang dibuka dari rantai tersebut. Data tingkat permintaan setiap outlet ditunjukkan sebagai berikut.<br />
Tabel 2 Permintaan untuk Quain’s Discount Department Stores<br />
Lokasi Toko	Jumlah Kontainer yang Dikirim<br />
Chicago	2.000<br />
Pittsburgh	1.000<br />
New York	1.000<br />
Atalanta	2.000<br />
	Perusahaan telah memutuskan untuk menemukan lokasi “pusat” untuk membangun sebuah gudang baru. Lokasi toko sekarang diperlihatkan pada Gambar 2.<br />
Gambar 2. Lokasi Koordinat dari Empat Quain’s Department Stores dan Pusat Gravitasi<br />
	Sebagai contoh, lokasi 1 adalah Chicago, dan dari Tabel 2 dan Gambar 2, didapatkan d1x = 30,<br />
d1y = 120 dan Q1 = 2000. Lokasi 2 adalah Pittsburgh dengan d1x = 90, d1y = 110 dan Q1 = 1.000. Demikian juga untuk wilayah-wilayah lainnya.<br />
	Dengan menggunakan data pada tabel 2 dan Gambar 2 untuk setiap kota, dalam Persamaan      (2-1) dan (2-2) didapatkan koordinat pusat gravitasi:<br />
Koordinat-x pusat gravitasi = </p>
<p>(30)(2.000)+(90)(1.000)+(130)(1.000)+(60)(2.000 =  400.000 = 66.7<br />
            2.000 + 1.000 + 1.000 + 2.000                           6.000				</p>
<p>Koordinat-y pusat gravitasi =</p>
<p>(120)(2.000)+(110)(1.000)+(130)(1.000)+(40)(2.000) = 560.000 = 93.3<br />
          2.000 + 1.000 + 1.000 + 2.000                                  6.000				</p>
<p>	Lokasi (66,7 , 93,3) ini ditunjukkan dengan tanda bulat abu-abu dalam Gambar 2. Dengan melapisi gambar ini dengan peta Amerika maka ditemukan lokasi ini di bagian tengah negara bagian Ohio. Perusahaan dapat mempertimbangkan Columbus, Ohio, atau kota yang berada disekitarnya sebagai lokasi yang tepat untuk dijadikan sebagai gudang baru.</p>
<p>2.	Analisa Letak Geografis KPPN Benteng Berdasarkan Metode Center of gravity<br />
	Apa yang dipaparkan mengenai metode center of gravity sebelumnya memang dimaksudkan bahwa penggunaan metode ini adalah untuk menentukan lokasi pabrik yang strategis yang dapat meminimalkan biaya distribusi. Dengan kata lain, penggunaannya lebih kepada perusahaan yang menghasilkan produk berupa barang.  Namun pada kesempatan ini, Penulis mencoba menerapkan metode center of gravity untuk mengetahui letak strategis dari KPPN Benteng yang dapat memudahkan para pihak yang berkepentingan dengannya. Jadi penggunaannya lebih kepada institusi yang menghasilkan produk berupa jasa.<br />
	Masing-masing letak astronomis satuan kerja terdiri dari satuan derajat (o), menit (′) dan detik ( ). Misalkan untuk lokasi kantor Pengadilan Negeri Selayar yang terletak pada posisi 6°11’1.05&#8243; Lintang Selatan dan  120°26&#8217;37.70&#8243; Bujur Timur maka letak tersebut dapat dibaca pada posisi 6 derajat 11 menit dan 1.05 detik Lintang Selatan dan 120 derajat 26 menit dan 37.70 detik Bujur Timur. Demikian seterusnya untuk satuan kerja lainnya. Perubahan pada derajat, menit dan detik posisi Lintang Selatan menuju satuan yang lebih besar menunjukkan posisi tersebut bergerak semakin ke Selatan (jika dilihat pada peta makan posisi tersebut akan bergerak semakin ke bawah), demikian jika perubahannya menuju satuan yang lebih kecil pada garis Lintang Selatan menunjukkan posisi tersebut bergerak semakin ke Utara (jika dilihat pada peta makan posisi tersebut akan bergerak semakin ke atas). Pada garis Bujur Timur, perubahan pada derajat, menit dan detik posisi Bujur Timur menuju satuan yang lebih besar menunjukkan posisi tersebut bergerak semakin ke Timur (jika dilihat pada peta makan posisi tersebut akan bergerak semakin ke kanan), demikian jika perubahannya menuju satuan yang lebih kecil pada garis Bujur Timur menunjukkan posisi tersebut bergerak semakin ke Barat (jika dilihat pada peta makan posisi tersebut akan bergerak semakin ke kiri).<br />
	Dalam menentukan letak strategis KPPN Benteng berdasarkan metode ini, titik koordinat x yang digunakan adalah letak astronomis masing-masing satuan kerja pada posisi Lintang Selatan sebagaimana terlihat pada Tabel 1 sebelumnya. Posisi Lintang Selatan masing-masing satuan kerja rata-rata terletak pada derajat dan menit yang sama yaitu 6 derajat dan 11 menit kecuali untuk satuan kerja Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kohala dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Buki yang terletak pada posisi 6 derajat dan 10 menit. Secara geografis kedua satuan kerja ini memang terletak lebih ke arah Utara (bagian atas Pulau Selayar) dibandingkan satuan kerja lainnya. Untuk memudahkan perhitungan menentukan koordinat x nantinya, maka satuan menit pada masing-masing garis Lintang Selatan Penulis sama ratakan menjadi pada posisi 10 menit. Hal ini mengingat akan sangat sulit untuk mengubah satuan 10 menit menjadi satuan yang lebih tinggi yaitu 11 menit. Sedangkan untuk mengubah satuan menit dari yang tertinggi menjadi menit terendah hanya menambahkan 60 detik pada setiap satuan detik posisi Lintang Selatan masing-masing satuan kerja, karena posisi 1 menit sama dengan posisi 60 detik. Misalkan posisi satuan kerja Pengadilan Negeri Selayar yang garis Lintang Selatannya terletak pada posisi 6 derajat 11 menit 1.05 detik akan sama dengan 6 derajat 10 menit 61.05 detik, demikian perubahan yang sama diperlakukan terhadap satuan kerja lainnya yang terletak pada posisi menit 11. Kini semua satuan kerja yang ada didapat posisi garis Lintang Selatan pada dua satuan ukuran yang sama yaitu derajat dan menit, atau pada posisi 6 derajat 10 menit, yang membedakan masing-masing hanyalah posisi satuan detiknya.<br />
	Sedangkan dalam menentukan titik koordinat y yang digunakan adalah letak astronomis masing-masing satuan kerja pada posisi Bujur Timur sebagaimana terlihat pada Tabel 1 sebelumnya. Posisi Bujur Timur masing-masing satuan kerja rata-rata terletak pada derajat dan menit yang sama yaitu 120 derajat dan 26 menit kecuali untuk satuan kerja Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kohala,  Madrasah Ibtidaiyah Negeri Buki dan Madrasah Ibtidaiyah Matang Selatan yang terletak pada posisi 120 derajat dan 27 menit. Secara geografis ketiga satuan kerja ini memang terletak lebih ke arah Timur (semakin ke bagian kanan Pulau Selayar) dibandingkan satuan kerja lainnya. Untuk memudahkan perhitungan menentukan koordinat y nantinya, maka satuan menit pada masing-masing garis Bujur Timur Penulis sama ratakan menjadi pada posisi 26 menit. Hal ini mengingat akan lebih mudah untuk mengubah satuan 27 menit menjadi satuan yang lebih rendah yaitu 26 menit dengan hanya menambahkan sejumlah 60 detik pada satuan posisi detik dari ketiga satuan kerja tersebut, karena dimana posisi 1 menit sama dengan 60 detik. Misalkan posisi satuan kerja Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kohala yang garis Bujur Timurnya terletak pada posisi 120 derajat 27 menit 4.41 detik akan sama dengan 120 derajat 26 menit 64.41 detik, demikian perubahan yang sama diperlakukan terhadap dua satuan kerja lainnya yang terletak pada posisi menit 27. Kini semua satuan kerja yang ada didapat posisi garis Bujur pada dua satuan ukuran yang sama yaitu derajat dan menit, atau pada posisi 120  derajat 26 menit, yang membedakan masing-masing hanyalah posisi satuan detiknya.<br />
	Selanjutnya, faktor lain yang diperlukan selain koordinat x dan koordinat y untuk menentukan lokasi yang tepat dengan menggunakan metode center of gravity yaitu faktor Qi atau jika dalam contoh penentuan lokasi pabrik di atas dengan menggunakan satuan jumlah barang yang dipindahkan dari suatu lokasi toko. Semakin besar jumlah barang yang dipindahkan pada suatu lokasi toko maka semakin besar pula bobot lokasi toko tersebut dalam menentukan letak dari pabik yang akan dibangun. Dalam pembahasan ini, faktor Qi yang digunakan adalah jumlah dana DIPA yang dikelola oleh masing-masing satuan kerja sebagaimana yang terdapat pada Tabel 1. Semakin besar jumlah dana DIPA yang dikelola oleh suatu satuan kerja makan akan semakin besar pula bobot lokasi satuan kerja tersebut dalam menentukan letak strategis dari KPPN Benteng.<br />
	Ketiga unsur yang diperlukan dalam penentuan letak strategis KPPN Benteng dengan menggunakan perhitungan metode center of gravity telah diketahui dan ditentukan. Namun perlu Penulis sampaikan disini bahwa satuan kerja KPPN Benteng sendiri turut disertakan dalam perhitungan ini karena pada hakikatnya kantor ini merupakan salah satu bagian dari satuan kerja yang dilayani oleh KPPN Benteng, dengan kata lain satuan kerja ini juga mengelola dana DIPA dan melakukan kegiatan terkait dengan KPPN sebagaimana halnya satuan kerja lainnya. Sehingga dengan penghitungan di bawah ini, titik koordinat x untuk lokasi KPPN Benteng didapat sebagai berikut:<br />
(61.05&#215;1.676.958.000) + ( 61.90&#215;2.035.525.000) + ( 61.86&#215;1.971.178.000) + ( 61.91&#215;11.200.195.000)<br />
+ (63.08&#215;1.927.288.000) + ( 62.07&#215;564.283.000) + ( 64.89&#215;1.550.397.000) + ( 68.80&#215;315.000.000)<br />
+ (63.91&#215;2.949.194.000) + (76.72&#215;7.496.842.000) + (68.56&#215;7.295.724.000) + (63.90&#215;1.768.233.000)<br />
+ (16.97&#215;817.853.000) + (81.76&#215;432.137.000) + (27.89&#215;454.263.000) + (63.90&#215;669.391.000)<br />
+ (103.12&#215;436.039.000) + (61.84&#215;2.808.788.000) + (70.88&#215;8.267.366.000) + (68.80&#215;15.081.067.000)<br />
+ (61.84&#215;220.000.000) + (63.08&#215;3.014.791.000) + (61.11&#215;1.291.953.000) + (63.01&#215;16.019.735.000)<br />
+ (63.08&#215;2.192.289.000)<br />
1.676.958.000+2.035.525.000+1.971.178.000+11.200.195.000+1.927.288.000+564.283.000+1.550.397.000<br />
+315.000.000+2.949.194.000+7.496.842.000+7.295.724.000+1.768.233.000+817.853.000+432.137.000<br />
+454.263.000+669.391.000+436.039.000+2.808.788.000+8.267.366.000+15.081.067.000+220.000.000<br />
+3.014.791.000+1.291.953.000+16.019.735.000+2.192.289.000</p>
<p>= 6.076.723.920.390/92.456.489.000<br />
= 65.73</p>
<p>Sedangkan untuk koordinat y lokasi KPPN Benteng didapat melalui perhitungan sebagai berikut:<br />
(37.70&#215;1.676.958.000) + (44.24&#215;2.035.525.000) + (36.66&#215;1.971.178.000) + (44.26&#215;11.200.195.000)<br />
+ (33.05&#215;1.927.288.000) + (37.14&#215;564.283.000) + (37.32&#215;1.550.397.000) + (35.06&#215;315.000.000)<br />
+ (34.76&#215;2.949.194.000) + (31.60&#215;7.496.842.000) + (34.92&#215;7.295.724.000) + (35.10&#215;1.768.233.000)<br />
+ (64.41&#215;817.853.000) + (39.85&#215;432.137.000) + (62.82&#215;454.263.000) + (35.10&#215;669.391.000)<br />
+ (64.82&#215;436.039.000) + (36.60&#215;2.808.788.000) + (36.02&#215;8.267.366.000) + (35.10&#215;15.081.067.000)<br />
+ (36.60&#215;220.000.000) + (35.17&#215;3.014.791.000) + (30.08&#215;1.291.953.000) + (35.15&#215;16.019.735.000)<br />
+ (34.09&#215;2.192.289.000)<br />
1.676.958.000+2.035.525.000+1.971.178.000+11.200.195.000+1.927.288.000+564.283.000+1.550.397.000<br />
+315.000.000+2.949.194.000+7.496.842.000+7.295.724.000+1.768.233.000+817.853.000+432.137.000<br />
+454.263.000+669.391.000+436.039.000+2.808.788.000+8.267.366.000+15.081.067.000+220.000.000<br />
+3.014.791.000+1.291.953.000+16.019.735.000+2.192.289.000<br />
= 3.401.967.488.570/92.456.489.000<br />
= 36.80 </p>
<p>	Sehingga lokasi strategis KPPN Benteng berdasarkan metode ini secara keseluruhan terletak pada 6°11&#8217;5.73&#8243;  Lintang Selatan (lokasi sekarang 6°11&#8217;4.89&#8243;) dan 120°26&#8217;36.80&#8243; Bujur Timur (lokasi sekarang 120°26&#8217;37.32&#8243;). Pergeseran pada garis Lintang Selatan menuju satuan detik yang lebih besar menandakan lokasi strategis KPPN Benteng seharusnya bergerak lebih ke arah Selatan (bawah). Hal ini dapat disebabkan oleh daya penarik dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Selayar (6°11&#8217;8.80&#8243; Lintang Selatan) yang memang terletak lebih ke Selatan dari lokasi KPPN Benteng saat ini dan memiliki dana DIPA terbesar kedua (16.31% dari keseluruhan total dana) sehingga memiliki bobot kontribusi yang lebih besar pula dalam menentukan koordinat x yaitu sebesar 17.07%. Pergeseran pada garis Bujur Timur menuju satuan detik yang lebih kecil menandakan lokasi strategis KPPN Benteng seharusnya bergerak lebih ke arah Barat (sebelah kiri). Hal ini disebabkan oleh daya penarik dari satuan kerja Polres Selayar (120°26&#8217;35.15&#8243; Bujur Timur) yang memang terletak lebih ke arah Barat dari lokasi KPPN Benteng saat ini dan memiliki dana DIPA terbesar pertama (17.33% dari keseluruhan total dana) sehingga memiliki bobot kontribusi yang lebih besar pula dalam menentukan koordinat y sebesar 16.55%. Jika titik koordinat x dan y yang didapat berdasarkan metode center of gravity diletakkan di peta, maka lokasi strategis dari keberadaan KPPN Benteng yang seharusnya adalah terletak di Jalan Pangeran Diponegoro atau bergerak sekitar 500 meter dari lokasi sebelumnya.<br />
F.	Kesimpulan dan Saran<br />
	Metode center of gravity selain digunakan untuk mengetahui letak strategis dari pabrik atau tempat usaha yang akan didirikan agar dapat meminimalkan biaya distribusi, dapat juga digunakan untuk menentukan lokasi strategis suatu kantor instansi pemerintahan dalam rangka memberikan pelayanan kepada para pemangku kepentingan (stakeholder) berupa kemudahan menjangkau lokasi kantor. Penentuan lokasi strategis KPPN Benteng dengan menggunakan metode ini sangat ditentukan oleh faktor lokasi satuan kerja yang berhubungan dengan KPPN Benteng dan jumlah dana APBN yang dikelolanya.<br />
	Kelemahan penentuan lokasi berdasarkan metode ini adalah sulitnya mendapatkan lahan di daerah yang disarankan jika di daerah tersebut ternyata memang sudah tidak lagi dimungkinkan untuk dibangun suatu pabrik, tempat usaha atau kantor. Hal yang terbaik dilakukan adalah mencari lahan yang mendekati titik koordinat yang disarankan. Lokasi strategis KPPN Benteng dengan menggunakan metode center of gravity ternyata bergeser lebih ke arah Selatan sebesar 0.84 menit dan lebih ke arah Barat sebesar 0.52 menit dari lokasi yang sekarang, jika digunakan satuan jarak maka pergeserannya sekitar 500 meter ke arah Barat Daya. Dengan menggunakan peta untuk mengetahui titik koordinat yang ditemukan, letak strategis KPPN Benteng berdasarkan perhitungan seharusnya berada di Jalan Pangeran Diponegoro (lihat Gambar 3)</p>
<p>Di sekitar  jalan tersebut memang banyak terdapat kantor/instansi/satuan kerja yang berhubungan dengan KPPN Benteng, mulai dari Kantor Departemen Agama, Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Pertanian dan Kehutanan. Namun melihat tidak terlalu signifikannya perbedaan jarak antara lokasi KPPN Benteng yang sekarang dengan lokasi berdasarkan perhitungan, Penulis berpendapat bahwa lokasi yang ada saat ini masih cukup strategis untuk dijangkau oleh berbagai satuan kerja dalam berhubungan dengan KPPN Benteng guna melakukan proses pencairan dana APBN.<br />
	Penulis menyadari apa yang dipaparkan dalam tulisan ini masih jauh dari sempurna. Berbagai penyempurnaan yang dapat dilakukan antara lain penggunaan cara yang lebih cepat dan akurat untuk menentukan lokasi astronomis masing-masing satuan kerja selain menggunakan bantuan aplikasi Google Earth, misalnya dengan bantuan alat Global Positioning System (GPS). Kelemahan penggunaan aplikasi Google Earth terletak pada seberapa besar bandwith jalur internet yang dapat dimaksimalkan ketika menggunakan aplikasi tersebut. Semakin besar jalur yang tersedia, semakin akurat titik koordinat diperoleh. Penulis mengalami kesulitan ketika harus melakukan perbesaran gambar peta Kepulauan Selayar hingga dapat menemukan lokasi yang akurat dari masing-masing satuan kerja dikarenakan terbatasnya bandwith internet yang digunakan.<br />
	Penyempurnaan yang lain adalah mengenai faktor intensitas satuan kerja ketika berhubungan dengan KPPN Benteng. Dalam tulisan ini Penulis menggunakan data jumlah dana DIPA tahun 2010 yang dikelola oleh masing-masing satuan kerja. Berdasarkan pengalaman Penulis, semakin besar dana DIPA yang dikelola semakin sering satuan kerja yang bersangkutan melakukan penarikan dana ke KPPN Benteng. Namun, untuk dapat lebih mengetahui seberapa besar korelasi antara jumlah dana DIPA yang dikelola dengan tingkat intensitas satuan kerja berhubungan dengan KPPN Benteng harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam.<br />
	Atas semua keterbatasan tersebut, Penulis mohon maaf dan mengharapkan sumbang saran, kritik dan masukan untuk penyempurnaan tulisan ini di kemudian hari.</p>
<p>G.	Referensi<br />
1.	Jay Heizer and Barry Render, Operations Management, 9th Edition, Pearson Education International, 2008.<br />
2.	www.selayar.go.id<br />
3.	www.benteng.kppn.net</p>
<br /> Tagged: <a href='http://rahmanjakarta.wordpress.com/tag/center-of-gravity-method/'>center of gravity method</a>, <a href='http://rahmanjakarta.wordpress.com/tag/kppn-benteng/'>kppn benteng</a>, <a href='http://rahmanjakarta.wordpress.com/tag/metode-center-of-gravity/'>metode center of gravity</a>, <a href='http://rahmanjakarta.wordpress.com/tag/metode-pusat-gravitasi/'>metode pusat gravitasi</a>, <a href='http://rahmanjakarta.wordpress.com/tag/mmugm/'>mmugm</a>, <a href='http://rahmanjakarta.wordpress.com/tag/penentuan-lokasi/'>penentuan lokasi</a>, <a href='http://rahmanjakarta.wordpress.com/tag/strategis/'>strategis</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=172&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2010/04/21/metode-center-of-gravity-dalam-penentuan-lokasi-strategis-kppn-benteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2010/04/untitled1.jpg?w=84" medium="image">
			<media:title type="html">untitled</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyampaian cash disbursement satker:  langkah berikut DJPBN untuk menjadi The Real Treasurer</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/09/27/penyampaian-cash-disbursement-satker-langkah-berikut-djpbn-untuk-menjadi-the-real-treasurer/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/09/27/penyampaian-cash-disbursement-satker-langkah-berikut-djpbn-untuk-menjadi-the-real-treasurer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 06:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[I. Cash disbursement dalam kerangka Manajemen Kas Topik utama majalah treasury Indonesia edisi pertama adalah “next assignment: the real treasurer”, topik yang berkenaan langsung dengan alasan mengapa kantor perbendaharaan dengan besaran sebuah direktorat jenderal masih perlu ada. Namun saat ini pertanyaan yang menggelitik sebelum melangkah pada cash management, jantungnya the real treasurer, yaitu ‘apakah kantor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=170&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I.	Cash disbursement dalam kerangka Manajemen Kas<br />
Topik utama majalah treasury Indonesia edisi pertama adalah “next assignment: the  real treasurer”, topik yang berkenaan langsung dengan alasan mengapa kantor perbendaharaan dengan besaran sebuah direktorat jenderal masih perlu ada. Namun saat ini pertanyaan yang menggelitik sebelum melangkah pada cash management, jantungnya the real treasurer, yaitu ‘apakah kantor teknis perbendaharaan (KPPN) saat ini telah dapat memprediksi dengan akurat pengeluaran negara untuk satu hari kedepan, atau bahkan untuk satu bulan kedepan?<span id="more-170"></span></p>
<p>Manajemen Kas saat ini merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan, hal tersebut telah menjadi tuntutan yang harus dilaksanakan oleh Ditjen Perbendaharaan. Sebagai Unit di Departemen Keuangan yang sehari-harinya melaksanakan tugas Bendahara Umum Negara, Ditjen Perbendaharaan mempunyai kewajiban melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran yang antara lain adalah melakukan pembayaran tagihan pihak ketiga sebagai pengeluaran anggaran. </p>
<p>Manajemen kas sektor publik meliputi empat elemen antara lain: mobilisasi dan manajemen arus kas (mobilizing and managing the cash flow), perencanaan (forecasting), pemeliharaan hubungan dengan perbankan (maintaining banking relations), dan investasi kelebihan kas (investing surplus cash). Setiap elemen harus dikelola secara aktif untuk mencapai efektifitas manajemen kas.</p>
<p>Secara umum, terdapat tujuh karakteristik yang dapat dijadikan acuan dalam praktek manajemen kas yang berlaku secara luas (internasional best practices), yaitu:<br />
1.	Efisiensi dalam proses pembayaran internal<br />
2.	Pengumpulan rekening dan pengurangan saldo yang menganggur/idle cash.<br />
Syarat-syarat akuntansi internal dan pengawasan internal untuk mengurangi tingkatan saldo kas yang menganggur (idle cash) yang diadakan oleh badan pemerintahan selain kementerian keuangan, dan untuk menciptakan kepastian yang lebih besar mengenai jatuh tempo penerimaan dan pembayaran.<br />
3.	Sistem yang internal untuk memperkirakan aliran penerimaan dan pembayaran (forecasting).<br />
4.	Kesepakatan Antara Kementerian Keuangan dan Bank Sentral<br />
5.	Pengintegrasian (pengkoordinasikan antara) fungsi manajemen kas dan utang sektor publik<br />
6.	Manfaat instrumen pinjaman jangka pendek guna membantu mengelola perbedaan waktu (mismatch) antara penerimaan dan pengeluaran.<br />
7.	Infrastruktur yang efisien untuk pembayaran dan penyelesaian, dengan sekuritas yang secara khusus disimpan pada demateralised form.</p>
<p>Saat ini Ditjen Perbendaharan telah berhasil melakukan beberapa langkah dalam mengupayakan manajemen  kas sebagaimana diatas. Efisiensi dalam proses pembayaran internal telah berhasil dengan  menerapkan pola layanan perbendaharaan (pembayaran) dengan SOP KPPN Percontohan. Pengumpulan rekening dan pengurangan saldo yang menganggur dilakukan dengan penerapan TSA. Langkah berikutnya yang harus dilakukan segera adalah penyusunan perencanan perkiraan penerimaan dan pembayaran yang akan dilakukan.<br />
Perencanaan (cash forecasting) dimaksud adalah perencanaan terhadap perubahan yang akan terjadi dimasa yang akan datang atas rekening Menteri Keuangan di bank sentral (penerimaan dan pengeluaran), bersamaan dengan pemantauan perubahan hal lainnya yang aktual yang mendekati kenyataan. Perencanaan dibutuhkan pemerintah untuk merencanakan strategi-strategi yang akan digunakan yang mempunyai pengaruh terhadap kelancaran perubahan-perubahan tersebut. Untuk melakukaan perencanaan tersebut pada gilirannya membutuhkan suatu sistem internal yang digunakan untuk meramalkan aliran penerimaan dan pengeluaran kas pemerintah dengan basis harian.</p>
<p>Cash forecasting dalam rangka manajemen kas di Indonesia merupakan tugas Ditjen Perbendaharaan baik untuk sisi penerimaan maupun sisi pengeluaran. Khususnya sisi pengeluaran, mengingat pengeluaran negara hanya dilakukan melalui Ditjen Perbendaharan maka untuk melakukan hal tersebut, kiranya dapat dipastikan, Ditjen Perbendaharan mempunyai sumber-sumber  informasi yang cukup dari seluruh KPPN yang ada yang merupakan kantor bayar untuk pengeluaran negara.</p>
<p>Secara teknis, cash forecasting sisi pengeluaran yang akan dilakukan Ditjen Perbendaharaan disusun oleh Dit.PKN, penyusunan cash forecasting tersebut  berdasarkan besaran rencana kebutuhan dana dari seluruh Kantor bayar (KPPN). KPPN sendiri dalam menyusun rencana kebutuhan dana sangat tergantung pada informasi tentang rencana penarikan dana seluruh satker yang ada dalam wilayah kerjanya masing-masing.</p>
<p>Untuk itu keberhasilan penyusunan cash forecasting yang akurat oleh Dit. PKN sangat  tergantung pada dukungan informasi/data yang akurat tentang besaran rencana kebutuhan dana dari seluruh kantor bayar (KPPN), hal tersebut hampir dapat dipastikan, karena besaran rencana kebutuhan dana dari seluruh Kantor bayar merupakan input utama bagi Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan dalam menyusun cash forecasting.  </p>
<p>Data yang akurat tentang besaran rencana kebutuhan dana dari seluruh KPPN sendiri, sangat ditentukan dari tingkat akurasi/kepastian data rencana penarikan dana (cash disbursement) dari seluruh satker yang ada dalam wilayah KPPN berkenaan.</p>
<p>II.	Penerapan cash disbursement  di KPPN Garut<br />
Kenyataan yang terjadi di KPPN Garut pada Bulan Januari 2009 adalah keadaan yang saat ini sama terjadi pada beberapa KPPN lainnya, dimana jumlah permintaan penyediaan dana yang wajib disampaikan pukul 16.00 setiap harinya, hampir dipastikan akan membutuhkan tambahan dana atau sebaliknya mengalami  kelebihan peyediaan dana dibandingkan dengan realisasi pengeluaran KPPN melalui SP2D. Adapun tambahan dana yang diajukan KPPN pada hari kerja berkenaan, semata-mata hanya didasarkan pada jumlah tambahan SPM satker yang masuk ke KPPN. Hal demikan terjadi dikarenakan KPPN sebagai kuasa Bendahara Umum Negara tidak mempunyai data rencana penarikan dana satker dalam wilayah kerjanya untuk masa satu bulan kedepan bahkan untuk kebutuhan  keesokan harinya. </p>
<p>Permintaan penyediaan dana  yang disampaikan KPPN ke Dit.PKN sebagaimana prakteknya, didasarkan hanya pada prakiraan KPPN tentang berapa pengeluaran melalui SP2D yang akan dilakukan esok hari. Dalam hal terjadi kekurangan kas pada hari berkenaan, KPPN akan mengajukan permintaan tambahan, karena saat ini KPPN dimungkinkan untuk mengajukan beberapa kali permintaan tambahan dana ke  Kantor  Pusat DJPBN (SE-12/PB/2009).</p>
<p>Berawal dari keadaan tersebut, KPPN Garut berupaya untuk dapat memperoleh data tentang besaran kebutuhan dana satker untuk pengeluaran satu hari kedepan, rencana penarikan untuk masa satu bulan kedepan dan bahkan untuk masa satu tahun kedepan.  Tidak adanya data rencana penarikan dana satker di KPPN, disebabkan tidak adanya kewajiban satker untuk menyampaikan rencana penarikan dana kepada KPPN. Untuk mengatasi hal itu KPPN Garut pada Bulan Pebruari 2009 mewajibkan KPA satker untuk menyampaikan rencana penarikan dana (cash disbursement) tahunan satuan kerjanya yang di disampaikan perbaikannya secara bulanan dan harian kepada petugas di KPPN.<br />
Permasalahan kritis dalam implementasi pengumpulan data cash disbursement satker ini adalah: koordinasi yang harus dilakukan KPPN dengan satuan kerja-satuan kerja dalam wilayah kerjanya. Selain koordinasi, proses pembelajaran kepada satuan kerja dalam membreak-down DIPA/POK menjadi rencana bulanan dan rencana bulanan ke dalam rencana harian merupakan proses yang harus dilalui dalam kerangka hubungan kerja yang hangat dengan satuan kerja. Hal lain yang nampaknya juga perlu dilakukan adalah pemberian pemahaman tentang mekanisme cash-flow  dana pengeluaran yang ada di KPPN, yang kini telah menggunakan pola TSA. Data rencana penarikan dana satker tidak didapati di KPPN adalah merupakan akumulasi dari hal-hal ini, tidak diwajibkannya satuan kerja menyampaikan  perbaikan cash disbursement bulanan dan harian kepada KPPN, pembelajaran kepada satker yang kurang dan pengetahuan satker mengenai ketersediaan dana di KPPN, yang hari ini jelas telah berbeda dibandingkan pola saldo harian pada Bank Operasional di masa lalu.<br />
Secara teknis, untuk pelaksanaan penyampaian cash disbursement satker, KPPN Garut menerbitkan Surat Edaran yang mewajibkan satker menyampaikan cash disbursement bulan yang akan datang yang disampaikan pada minggu terakhir bulan sebelumnya. Guna mempermudah satker melakukan kewajibannya, KPPN memberikan sosialisasi dan pembelajaran penyusunan cash disbursement dengan menggunakan format rincian per belanja per-hari dengan format yang telah dimuat dalam Surat Edaran. Berdasarkan cash disbursement yang disampaikan satker, pada setiap akhir bulan petugas KPPN akan meng-entry data-data dimaksud kedalam format cash disbursement seluruh satker.  Database cash disbursement seluruh satker ini yang akan menjadi data awal untuk bulan yang akan datang, adapun dalam hal satker akan merevisi cash disbursement-nya, satker diberikan waktu penyampaian revisinya kepada KPPN satu hari sebelum penyampaian SPM paling lambat pukul 15.30. Berdasarkan revisi tersebut, petugas KPPN akan meng-update database yang ada di KPPN. Berdasarkan database cash disbursement seluruh satker ini, setiap hari KPPN Garut akan mendapatkan data kumulatif cash disbursement seluruh satker yang akan diajukan SPM-nya esok hari.  Besaran cash disbursement harian ini yang kemudian dijadikan dasar KPPN Garut dalam mengajukan permintaan penyediaan dana yang disampaikan sore hari pukul 16.00  ke Dit.PKN.<br />
  Dengan menggunakan pola ini, masih terdapat kemungkinan terjadinya kelebihan kas dan kekurangan kas di KPPN  yang disebabkan oleh adanya satker yang tidak menyampaikan revisi cash disbursement harian ke KPPN dalam hal terdapat perubahan rencana di pihak satker. Sehingga dengan keadaan demikian KPPN garut akan tetap mengajukan permintaan tambahan dana ke Dit.PKN guna memenuhi kekurangan kas yang terjadi pada hari berkenaan. Namun hal yang cukup menggembirakan dalam pelaksanaan beberapa bulan ini, KPPN Garut dalam statistiknya tidak lagi mengajukan permintaan tambahan dana ke Dit.PKN (tambahan dana: 0%), adapun sejumlah kas yang telah disediakan pada hari berkenaan, dapat direalisasikan melalui pengeluaran SP2D sebesar 99,4% dengan proses  penyelesaian SPM yang tepat waktu. Ukuran ini paling tidak menunjukkan bahwa pola penyampaian cash disbursement satker ke KPPN dapat meningkatkan akurasi perkiraan pengeluaran kas KPPN atau memperkecil deviasi permintaan penyediaan dana KPPN. Sebagai perbandingan besarnya deviasi, pada Bulan Juni 2009 rata-rata permintaan dana tambahan KPPN dalam suatu kanwil adalah 65% dari realisasi pengeluaran masing-masing KPPN.<br />
III.	Implementasi di KPPN dan pengukuran kinerja treasurer<br />
Perdebatan yang muncul dalam implementasi nampaknya tidak juga sedikit, dimulai dari manfaat hingga prioritas fungsi layanan KPPN. Untuk manfaat dapat diketahuinya rencana penarikan dana satker, nampaknya tidak dapat dihubungkan langsung dengan pertanyaan: apa manfaatnya bagi ‘investasi’ uang negara. Hal yang minimum terpenuhi dengan pola ini adalah: memberikan kemampuan KPPN untuk memprediksi dengan lebih tepat mengenai berapa pengeluaran yang akan dilakukan esok hari, satu bulan kedepan dan bahkan besaran rencana penarikan dana satker pada bulan tertentu dalam suatu tahun anggaran. Karena hal yang aneh terjadi, jika kantor perbendaharaan negara tidak dapat mengetahui berapa besaran pengeluaran negara yang akan dilakukannya untuk esok hari. Tentunya dengan teori sederhana, rencana pengeluaran yang dapat di-prediksi sebelumnya akan dapat lebih memberi manfaat bagi kepentingan kantor pusat dalam melakukan manajemen kas. Selain itu untuk kepentingan updating halaman tiga DIPA,  dimana proses updating data tersebut paling efektif jika dilakukan di KPPN,  pola ini mampu memberi pembelajaran kepada satker untuk menyusun perencanaan kegiatan dan keuangannya. Adapun berkaitan dengan fungsi layanan KPPN dalam penyelesaian SPM/penerbitan SP2D, penerapan pola ini memberikan solusi win-win kepada KPPN dan pihak satker, dimana KPPN mendapat kepastian rencana penarikan dana (tidak terbebani dengan ketidakpastian pengeluaran SP2D) dan disisi lain satker memperoleh kepastian penyelesaian SPM yang diajukan kepada KPPN.<br />
Beberapa Manfaat lain yang dapat ditemukan saat implementasi pola ini selain adanya kepastian penarikan dana dan kepastian pembayaran SPM satker, adalah adanya pembelajaran bagi satker dalam merencanakan penarikan dana yang kemudian mengarah pada sikap profesional satker dalam merencanakan kegiatan, adanya sikap tanggungjawab staf KPPN atas penggunaan dana yang telah diajukan permintaan penyediannya ke kantor pusat,  fleksibilitas ritme pelaksanaan tugas di KPPN yang muncul dari kepastian penyampaian SPM satker,  pemberian informasi yang akurat kepada kantor pusat  tentang besaran kebutuhan penyediaan dana, dan adanya data base di KPPN yang dapat digunakan untuk memprediksi pengeluaran KPPN dalam tiap bulannya. </p>
<p>Dalam beberapa bulan penerapaan pola penyampaian cash disbursement satker, dengan menggunakan simulasi perhitungan sederhana, KPPN Garut menyusun formula pengukuran kinerja suatu KPPN dalam pengelolaaan cashflow-nya (sisi pengeluaran). Dengan menggunakan pengukuran deviasi penyediaan dana harian, maka dapat diperoleh tingkat deviasi penyediaan dana bulanan suatu KPPN dibandingkan dengan realisasi pengeluarannya. Suatu pola yang mengukur kemampuan KPPN dalam menyusun rencana pengeluarannya dalam kerangka waktu bulan berkenaan. Adapun batasan yang digunakan dalam pengukuran ini adalah deviasi atas (+ 10 %) dan deviasi bawah (– 10 %).  Ukuran deviasi bulanan ini dapat digunakan untuk mengukur kinerja pelaksanaan tugas KPPN sebagai Kuasa BUN dalam menyalurkan dana APBN yang pengukurannya dapat dilakukan oleh Kanwil maupun oleh kantor pusat DJPBN.<br />
Setelah pola penyampaian  cash disbursement satker berjalan baik di KPPN Garut, perkembangan berikutnya berlanjut pada penerapan pola ini di KPPN-KPPN dalam lingkup Kanwil DJPBN Provinsi Jawa Barat. Setelah dipresentasikan dalam rapat kerja tingkat Kanwil, rapat kerja merekomendasikan penerapan pola ini di KPPN dalam lingkup Kanwil DJPBN Provinsi Jawa Barat terhitung mulai September 2009. Adapun fungsi pengukuran kinerja bulanan KPPN, dengan formula sebagaimana  diatas akan dilakukan oleh Bidang Pembinaan Perbendaharaan Kanwil DJPBN Provinsi Jawa Barat dengan menggunakan data penyediaan dana dan realisasi pengeluaran yang disampaikan oleh KPPN. Sedangkan diluar Kanwil DJPBN Provinsi Jawa Barat, beberapa Kanwil lainnya dan beberapa KPPN telah mempelajari penerapan pola ini di KPPN Garut, guna menilai kemungkinan implementasi pola yang sama di tempatnya masing-masing.<br />
Pola penyampaian cash disbursement satker ini adalah langkah yang dapat dilaksanakan nyata di lapangan dan bukan hanya sekedar retorika dari manajemen kas. Suatu mekanisme sederhana yang kiranya baik diterapkan di KPPN yang ada, guna memberikan kepastian penyediaan dana dan kepastian pengeluaran anggaran yang akan dilakukan melalui KPPN berkenaan. Kumulasi dari kepastian pengeluaran seluruh KPPN, pada gilirannya akan memberikan jalan bagi DJPBN sebagai Treasurer untuk dapat memberikan kepastian besaran pengeluaran negara dalam beberapa periode waktu kedepan.  Secara teknis, mekanisme ini merupakan model dalam melakukan pemutakhiran rencana penarikan dana satker yang sebelumnya telah tertuang dalam halaman tiga DIPA, yang pasti akan sangat membantu mengarahkan pada pendayagunaan halaman tiga DIPA sebagaimana makna diciptakannya dokumen tersebut, untuk menjadi dokumen pendukung perencanaan kas.<br />
Dalam hal pola ini belum mungkin untuk diterapkan di KPPN ibukota Provinsi, memperhitungkan volume layanan yang tinggi, pilihan untuk menerapkannya di KPPN Kabupaten/kota kiranya merupakan pilihan yang bijak. Dan mengingat KPPN adalah Kuasa Treasurer, seyogianya saat ini pengukuran kinerja KPPN tidak hanya didasarkan pada tingkat kinerja penyelesaian laporan keuangan saja. Pengukuran kinerja KPPN sudah saatnya harus didasarkan pada kinerja pelaksanaan tugas pokok KPPN selaku kuasa treasurer yaitu kemampuan KPPN menyusun rencana pengeluaran yang akurat, yang merupakan gambaran kemampuan KPPN melakukan koordinasi dalam mengatur kas untuk penggunaan satker-satker dalam wilayah kerjanya.<br />
Pada akhirnya, statement Menteri Keuangan bahwa “pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan adalah korps elit Departemen Keuangan, Treasury itu adalah core-nya Departemen Keuangan, sehingga harus selalu meningkatkan kompetensi dan kapasitas agar bisa menjadi The Real Treasurer”, kiranya dapat menjadi motivasi KPPN-KPPN selaku kuasa treasurer untuk melakukan langkah maju, dengan memastikan besaran pengeluaran yang akan terjadi esok hari dan beberapa bulan yang akan datang melalui pola penyampaian cash disbursement satker, yang merupakan satu langkah berikut yang akan mengarahkan DJPB untuk menjadi The Real Treasurer.</p>
<p>Catatan:<br />
-	Penerapan pola penyampaian cash disbursement  pada Pebruari 2009 di KPPN garut, telah dilaporkan tertulis ke Kantor Pusat Ditjen Perbendaharan dan secara khusus telah dipresentasikan kepada Bapak Piyus Desay, IMF senior treasury advisor, pada tanggal 28 Mei 2009 di Jakarta.<br />
-	Pola ini sejalan dengan hasil workshop ‘meninjau perbendaharaan keempat penjuru dunia’ yang dilaksanakan Kantor Pusat DJPBN pada tanggal 22-24 Juni 2009 di Jakarta dengan rumusan “untuk mendukung manajemen kas, perencanaan kas dibuat dalam kerangka satu tahun yang kemudian di-update setiap bulan dalam bentuk harian”.<br />
-	Dan rekomendasi World Bank yang disampaikan dalam rapat Tim Pemantuan Percepatan Realisasi Anggaran pada Bulan Agustus 2009, bahwa “diperlukan adanya rencana penarikan dana APBN bulanan yang di-update secara harian”</p>
<p>Penulis: Syakran Rudy.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=170&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/09/27/penyampaian-cash-disbursement-satker-langkah-berikut-djpbn-untuk-menjadi-the-real-treasurer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LAMPU MERAH DI SELAYAR</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/04/01/lampu-merah-di-selayar/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/04/01/lampu-merah-di-selayar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 22:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/04/01/lampu-merah-di-selayar/</guid>
		<description><![CDATA[Keselamatan berkendara merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh para pengendara jalan. Salah satu faktor yang menunjang keselamatan berkendara di jalan adalah tersedianya lampu pengatur lalu lintas yang terpasang diberbagai persimpangan. Sudah lama di beberapa persimpangan jalan di Selayar terpasang lampu lalu lintas seperti yang terlihat pada Rabu (1/4). Namun, pemasangan lampu lalu lintas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=122&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/04/lampu-merah.jpg?w=120&#038;h=150" alt="lampu-merah" title="lampu-merah" width="120" height="150" class="alignleft size-large wp-image-130" />Keselamatan berkendara merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh para pengendara jalan. Salah satu faktor yang menunjang keselamatan berkendara di jalan adalah tersedianya lampu pengatur lalu lintas yang terpasang diberbagai persimpangan. Sudah lama di beberapa persimpangan jalan di Selayar terpasang lampu lalu lintas seperti yang terlihat pada Rabu (1/4). Namun, pemasangan  lampu lalu lintas di suatu persimpangan dinilai sangat berlebihan dan memboroskan.<span id="more-122"></span></p>
<p>Jalan utama di Kabupaten Kepulauan Selayar memang terkenal dengan jalan seribu persimpangan. Sebentar saja kita berjalan di suatu jalan utama pasti sudah menemukan persimpangan. Setidaknya terdapat 25 persimpangan jalan. Dari sejumlah persimpangan itu baru terdapat 3 lampu pengatur lalu lintas. Yakni pada persimpangan antara Jalan Jenderal Sudirman dengan Jalan Kemiri dekat dengan kantor BPD Sulsel, Jalan Sudirman dengan Jalan Hati Mulia dekat dengan Hotel Shafira, dan antara Jalan Ki Hajar Dewantara dengan Jalan Aroepala dan Jalan Robert Wolter Monginsidi di dekat taman kota. Sungguh jumlah yang sangat jauh dari memadai. Itupun salah satunya belum berfungsi ketiga lampunya. Hanya menyala lampu warna kuning yang berarti setiap arah dari persimpangan itu dapat melaju kapan saja meski harus tetap hati-hati.</p>
<p>Penempatan lampu lalu lintas di 3 tempat itu memang sudah tepat. Ketiga persimpangan itu memang merupakan persimpangan paling ramai dan rawan kecelakaan yang ada di kota Benteng, terlebih lagi persimpangan yang ada di dekat taman kota yang merupakan jalur pertemuan 5 arah jalan. Namun, pemasangan lampu lalu lintas dengan menempatkan 3 unit pada masing-masing  arah dinilai sangat berlebihan dan memboroskan.</p>
<p>Misalkan yang tampak pada lampu lalu lintas persimpangan taman kota. Masing-masing arah yang terdiri atas 5 arah jalan memiliki 3 unit lampu lalu lintas yang masing-masing terletak di samping kanan-kiri jalan dan yang dipasang tinggi di atas jalan. Sehingga total unit lampu lalu lintas pada satu persimpangan itu saja terdapat 15 unit. Penempatan 3 unit untuk masing-masing arah dimaksudkan agar pengendara dapat melihat dengan jelas lampu lalu lintas baik yang sedang berhenti di sebelah kiri atau kanan jalan maupun yang berhenti jauh di belakang antrian kendaraan. Pemakaian masing-masing 3 unit untuk setiap arahnya hanya cocok jika diterapkan pada jalan dengan mobilitas dan jumlah kendaraan yang sangat padat semacam di kota-kota besar. Namun, akan menjadi tidak bermanfaat jika diterapkan di kota Benteng dengan mobilitas dan jumlah kendaraan yang sangat sedikit. Dapat dipastikan bahwa pada saat lampu menyala merah, hanya satu dua kendaraan saja yang ada di depannya. Sehingga dengan hanya menggunakan 1 unit lampu lalu lintas untuk setiap ruas jalan saja sudah dirasa cukup.</p>
<p>Seandainya hanya dipasang 1 unit saja untuk setiap ruas jalan, maka dapat dipastikan dapat menghemat sekitar 8 unit lampu lalu lintas untuk satu persimpangan saja. Itu berarti akan terdapat penghematan sekitar 24 unit dari 3 persimpangan yang sudah terpasang lampu lalu lintas. Jumlah penghematan itu dapat digunakan untuk menempatkan lampu lalu lintas di 6 persimpangan lagi dengan masing-masing ruas jalan hanya menggunakan 1 unit lampu lalu lintas yang diletakkan di sebelah kiri jalan. Persimpangan yang mendesak untuk ditempatkan lampu lalin antara lain : persimpangan Jalan Ki Hajar Dewantara  dengan Jalan Dr. Mukhtar dekat kantor Dinas Kesehatan, persimpangan jalan Ki Hajar Dewantara dengan Jalan Muh. Krg. Bonto dekat Gedung PKK, persimpangan Jalan Syarif Alqadri dengan Jalan RA Kartini dekat Masjid Agung.</p>
<p>Benteng, 1 April 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=122&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/04/01/lampu-merah-di-selayar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/04/lampu-merah.jpg?w=120" medium="image">
			<media:title type="html">lampu-merah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISAH NADINE MENDAPATKAN TAS BARUNYA</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/30/kisah-nadine-mendapatkan-tas-barunya/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/30/kisah-nadine-mendapatkan-tas-barunya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 03:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Nadine (5 tahun), anak kami yang pertama, semenjak kepindahannya dari TK Adituka ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri Benteng, kami perhatikan mengalami perubahan sikap menuju ke gejala konsumerisme yang berlebihan. Sikapnya ini dapat dilihat dari selalu menuntut dibelikannya segala sesuatu yang dimiliki oleh teman-temannya. Suatu sikap yang wajar terjadi pada anak-anak seusianya. Namun, sebagai orang tua kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=117&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/nadine2.jpg?w=149&#038;h=150" alt="nadine2" title="nadine2" width="149" height="150" class="alignleft size-large wp-image-134" />Nadine (5 tahun), anak kami yang pertama, semenjak kepindahannya dari TK Adituka ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri Benteng, kami perhatikan  mengalami perubahan sikap menuju ke gejala konsumerisme yang berlebihan. Sikapnya ini dapat dilihat dari selalu menuntut dibelikannya segala sesuatu yang dimiliki oleh teman-temannya. Suatu sikap yang wajar terjadi pada anak-anak seusianya. Namun, sebagai orang tua kami harus mengarahkan sikapnya ini agar tidak mengarah kepada sikap yang kurang baik di kemudian hari.<span id="more-117"></span></p>
<p>Kepindahannya ke MIN Benteng pada usia yang sangat dini untuk ukuran seseorang memasuki sekolah dasar hanya dikarenakan alasan yang sebenarnya sangat sepele. Kami selalu merasa bersalah telah menempatkannya di TK tersebut manakala Nadine selalu mempertanyakan mengapa hanya dia saja (dan para gurunya) yang menggunakan jilbab, sementara teman-temannya (yang perempuan) tidak ada yang memakai jilbab. Pada satu kesempatan kami hanya bisa menjawab dengan menanamkan pemahaman padanya bahwa menggunakan jilbab itu adalah kewajiban kita sebagai orang Islam dan itu merupakan perbuatan yang baik. Namun, pada kesempatan lain di saat dia menanyakan kembali hal yang sama kadang kami kewalahan untuk memberikan jawaban lainnya kecuali kembali kami mengulang apa yang pernah kami tanamkan dulu. Demikianlah hingga akhirnya kami memutuskan untuk memindahkanya ke MIN Benteng yang dapat dipastikan tidak akan muncul lagi pertayaan semacam itu dikarenakan teman-teman satu kelasnya (yang perempuan) pasti menggunakan jilbab.</p>
<p>Seminggu yang lalu dia merengek-rengek minta dibelikan tas yang baru setelah melihat salah seorang temannya mempunyai tas yang menurutnya sangat bagus dari segi bentuk dan warna. Tas tersebut terdiri dari beberapa bagian atau sekat yang dapat menampung lebih banyak sesuatu yang dapat dimuat. Warna pink tas temannya itupun menarik perhatiannya. Baginya akan lebih menyenangkan jika mempunyai tas dengan bentuk dan warna demikian dibanding tas yang dimiliki sekarang yang dengan sedikit sekat dan kuning pula warnanya. Hingga malam tiba, Nadine masih meminta dengan sedikit memaksa untuk dibelikan tas tersebut malam itu juga.</p>
<p>Kami sepakat untuk tidak mengajarkan padanya bahwa ia akan dengan mudah selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Karena bagi kami, jika dituruti keinginannya malam itu juga, pasti hal yang sama akan terulang  saat datang keinginannya untuk mempunyai barang-barang  lainnya yang menarik hatinya. Dan itu adalah tidak baik bagi perkembangan sikapnya di kemudian hari. Untuk itu kami hendak mengajarinya bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu dia harus sabar menunggu disertai dengan pengorbanan darinya. Bentuk pengajaran itu sederhananya adalah Nadine harus mau menyisakan uangnya (menabung) dalam jangka waktu tertentu dari sejumlah uang yang kami berikan setiap hari padanya. Kami putuskan untuk memberinya uang lebih dari yang setiap hari diterimanya selama satu minggu. Seperti biasa, dia dapat menggunakan uang Rp. 1.000 untuk keperluannya jajan di sekolah, sedang sisanya harus ditabung untuk membeli tas yang dikehendaki. Untuk itu kami telah menyiapkan celengan tempat dia menyimpan sisa uangnya dan uang-uang ribuan yang akan diberikan setiap harinya.</p>
<p>Pikir kami, waktu satu minggu adalah waktu yang sangat singkat untuk memberikan pelajaran yang akan sangat berguna baginya di beberapa tahun kemudian. Namun, tidak bagi Nadine. Baginya waktu satu minggu tersebut masih terlalu lama. Sehingga wajar saja, jika pada malam hari pertama dia menabung tetap merengek untuk dibelikan tas saat itu juga dengan hasil uang tabungannya. Kembali kami harus bisa mengalahkan keinginannya itu demi memberinya satu pelajaran berguna seraya mencari cara mengekang keinginannya. Akhirnya kami ajak dia untuk membuka tabungannya. Tentu saja uang yang terkumpul baru sedikit. Saat itu baru terkumpul Rp. 12.000,- hasil pemberian uang dari kami Rp. 10.000,- dan sisa uang jajannya Rp. 2.000,-. Akhirnya kami ajak dia untuk menghitung betapa masih banyak uang yang harus diperlukan untuk memperoleh tas yang baru. Kami contohkan padanya bahwa harga tas yang baru adalah Rp. 60.000,- sedangkan uang yang dimilikinya baru Rp. 12.000,-, dengan menuliskannya di white board, Nadine mencoba menghitung kekurangannya. Ya, Rp. 48.000,-. Dia dapat mengetahui betapa masih banyak uang lagi yang harus dikumpulkan dan akhirnya bisa memahami bahwa keinginan untuk memiliki tas barunya masih terlalu dini untuk direalisasikan malam itu. Kami pun tak lupa mengiming-imingi bahwa ia bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi untuk ditabung jika mau membantu kedua orang tuanya melakukan sesuatu semampu dia. Kami berikan contoh padanya, misalkan membantu membereskan rumah, menjaga adiknya, atau sekadar memberi pijatan dan urutan tangan halusnya yang pikir kami belum terasa apapun di badan kami. Malam itu kami lega karena beberapa pelajaran penting sudah kami tanamkan dan sepertinya dia bisa menerimanya.</p>
<p>Kami merasa dengan teknik-teknik seperti itu dia akan mau menunggu sampai malam ke-tujuh. Ternyata dugaan kami meleset. Pada malam ke-dua, kembali Nadine meminta dibelikan tas baru saat itu juga seraya membawa celengannya dan mengatakan bahwa uang yang terkumpul telah cukup baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Habis sudah cara yang dapat kami perbuat untuk meyakininya bahwa waktunya belum tiba. Kembali cara-cara semula kami gunakan kembali. Kami ajak dia untuk membuka kembali tabungannya. Ternyata malam ini memang jumlah uang yang terkumpul lebih banyak dari sebelumnya. Kini uang tabungannya menjadi Rp. 26.000,-. Kembali dia berhitung di whiteboard untuk mengetahui jumlah yang masih harus ditabung. Ternyata tetap masih banyak kekurangan pikirnya. Kesabarannya sudah hilang. Nadine masih merengek-rengek seraya mengajak kami untuk mengambil uang di ATM BRI guna menutupi sisanya dan membeli tas malam itu juga. </p>
<p>Memang kami selalu mengajaknya ke ATM BRI manakala kami hendak melakukan penarikan tunai. Sudah menjadi kebiasaan bahwa dialah yang akan mengambil struk transaksi penarikan tunai berikut uangnya saat keluar dari mesin ATM untuk selanjutnya menyerahkannya kepada kami. Dia sendiri sepertinya sudah hapal betul kapan waktunya tanda bukti transaksi keluar dan kapan uang yang keluar dengan mendengar suara mesin ATM saat menghitung nominal yang akan dikeluarkan. Tanpa kami sadari, bahwa apa yang kami lakukan itu ternyata sudah memberikannya pelajaran yang buruk. Pikirnya, untuk mendapatkan uang hanya tinggal datang ke ATM tersebut, memencet sejumlah tombol maka keluarlah uang yang kita kehendaki. Dia belum dapat memahami apakah saldo uang kita ditabungan masih mencukupi atau tidak untuk melakukan penarikan tunai. </p>
<p>Terang saja ajakannya untuk ke ATM BRI kami tolak. Tentunya dengan penjelasan bahwa untuk menarik uang dari ATM harus melihat berapa jumlah uang yang kita simpan di bank itu. Tentunya dia belum memahami hal itu. Nadine pun masih belum puas. Kali ini dia meminta saya untuk menuliskan di secarik kertas bahwa saya harus berjanji membelikannya tas pada saat yang telah ditentukan. Kami terkesima. Subhanallah. Bagaimana caranya muncul sebuah ide yang kami pikir sangat brilian bagi seorang seusia Nadine. Mau tidak mau saya turuti kemauannya. Akhirnya di selembar kalender, tepatnya di bagian bulan Maret 2009, saya tuliskan kata-kata dengan ukuran besar yang dapat terbaca olehnya sebagai berikut: “<em>Abi janji, insya Allah minggu depan, tanggal 29 Maret 2009, akan membelikan Nadine tas yang baru. [tanda tangan saya]</em>.” Janji saya inilah yang selalu dia bacakan setiap harinya guna mengingatkan saya agar tidak lupa.</p>
<p>Hal yang sama dilakukannya ketika kami berdua memakai uang tabungannya untuk keperluan mendesak yang memerlukan uang kecil. Di bawah tulisan saya ditulisnya pula kalimat dengan gaya penulisannya sekadar untuk megingatkan kami berdua: “<em>Umi Abi boleh ngutang tapi diganti 7500</em>.” Begitulah kira-kira peringatan kepada kami ketika menggunakan uangnya Rp. 7500,- untuk membayar sesuatu yang saat itu kami tidak memiliki uang kecil. Kami mengagumi daya nalarnya untuk segera mencatat segala sesuatu terkait utang piutang. Dapat dimungkinkan tanpa dilakukan pencatatan, kami berdua di kemudian hari akan lupa. Memang demikianlah Alquran mengajarkan kita untuk segera mencatat segala transaksi sebagai bukti saat diperlukan.</p>
<p>Hari demi hari selalu saja dia menghitung sisanya menuju hari minggu. Ada saja yang dia tawarkan untuk dikerjakannya demi mendapatkan tambahan uang selain yang secara rutin kami berikan. Kejadian merengek-rengek memang sudah tidak dia lakukan. Namun, kebiasaan untuk membuka tabungannya pada setiap malamnya tetap saja terjadi. Seperti biasa, setelah menghitung hasil uang yang terkumpul, dia lakukan penghitungan terhadap kekurangan uangnya. Semakin sering dia menghitung, semakin  ceria saja pancaran wajahnya. Hasil pengurangan antara jumlah uang yang seharusnya ada dengan yang sudah terkumpul semakin kecil. Terbayang olehnya hari yang dinantikan saat hasil perhitungannya mendapatkan jumlah angka 0.</p>
<p>Kini, hari yang ditunggu-tunggu itu datang. Baginya menunggu satu minggu saja sudah seperti melakukan penantian berpuluh-puluh tahun. Lengkap dengan rasa tersiksanya lantaran terkekang dari keinginan memiliki sesuatu. Tapi bagi kami, waktu seminggu sangatlah singkat untuk memberikannya pelajaran tentang pengorbanan dalam memiliki sesuatu. Di tengah-tengah kami berempat sudah siap celengan yang akan dibuka. Kami pun telah rapi berpakaian karena memang akan keluar membeli tas setelah menghitung uang tabungan Nadine. Begitu dibuka, keluarlah semua apa yang dikumpulkan selama ini. Mulai dari uang logam nominal 500 rupiah hingga yang terbesar 10.000 rupiah. Total seluruh uang tabungan Nadine Rp. 38.000,-. Kami rasa tidaklah akan terlalu banyak uang tambahan untuk membelikan tas barunya. Dengan wajah cerah ceria dia bergegas menyeret kami mengajak toko langganan kami di sini.</p>
<p>Lama sekali Nadine mengamati setiap tas yang terpajang di toko itu. Kami biarkan dia untuk memilih sendiri tas yang diinginkannya. Mulai dari model, warna, maupun harganya. Bagi kami menentukan pilihan ada di tangannya adalah wujud pembelajaran berdemokrasi sejak dini. Kami beri dia kebebasan untuk memilih namun dia juga harus bisa mempertanggungjawabkan pilihannya. Demikian juga sebaliknya, kami harus menghargai apapun pilihannya. Se-norak apapun model dan warna tas pilihannya, kami anggap itulah pilihan terbaiknya. Setelah pilih sana pilih sini, lihat sini lihat sana, tenyata pilihannya jatuh pada tas dengan warna hijau tosca berbalut list oranye dengan gambar hamtaro. Hmm… pilihan yang smart, pikir kami. Tak terpikir sebelumnya dia akan memilih tas dengan warna tersebut. Bayangan kami justru tas yang akan dipilihnya berwarna pink dengan gambar boneka Barbie. Ada alasan dia memilih tas tersebut, selain karena warnanya yang eye cathing. Model tas itu banyak terdiri atas lembar yang dapat digunakan untuk menampung banyak keperluan, seperti yang selama ini dia inginkan. Selain lembar utama tempat menyimpan buku dan keperluan sekolah utama, ada juga tiga lembar tambahan di luar, tempat menampung barang-barang lainnya. Satu bonus lembar yang menjadikan Nadine tambah jatuh hati pada tas itu adalah adanya lembar untuk menyimpan uang jajannya. Bentuknya kecil dan terletak di dalam lembar utama. Setelah tawar menawar dengan pemilik toko, akhirnya harga tas tadi jatuh pada harga Rp. 45.000,- Berarti tidak terlalu banyak kami harus menambahkan uang tabungannya. Bagi kami tidak menjadi masalah jika harus mengeluarkan uang lebih banyak. Semahal apapun harga tas pilihannya, kami sudah sepakat untuk tetap membelikannya. Kami tidak ingin semangat untuk memiliki barang impiannya hilang begitu saja setelah dia rela berkorban untuk itu selama beberapa hari. Disinilah kami melihat bedanya antara konsumerisme berlebihan (yang cenderung ke hedonisme) dengan konsumerisme pembelajaran (istilah kami sendiri). Kini tas sudah berpindah tangan. Rasa ingin segera memakainya ke sekolah sangat membuncah di ubun-ubunnya. Kami pun memakluminya. </p>
<p>“<em>Selamat menggunakan tas baru, Nadine. Kami yakin, esok kamu di sekolah tidak akan menyombongkan tas barumu Nak. Karena selain kami telah mengajarimu untuk tidak boleh sombong, kamu dapatkan tas itu dengan pengorbananmu sendiri. Semoga pembelajaran ini akan berkesan di masa-masamu mendatang. Doakan selalu agar kita bisa bersama dalam suka dan duka.</em>”</p>
<p>Benteng, 30 Maret 2009.</p>
<br /> Tagged: pembelajaran anak <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=117&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/30/kisah-nadine-mendapatkan-tas-barunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/nadine2.jpg?w=149" medium="image">
			<media:title type="html">nadine2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SITU GINTUNG, PONARI DAN EARTH HOUR</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/29/situ-gintung-ponari-dan-earth-hour/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/29/situ-gintung-ponari-dan-earth-hour/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 08:38:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[ponari dan earth hour]]></category>
		<category><![CDATA[situ gintung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/29/situ-gintung-ponari-dan-earth-hour/</guid>
		<description><![CDATA[Akibat hujan deras yang mengguyur daerah Ciputat dan sekitarnya selama 6 jam sejak pukul 6 petang hingga 01.00 dini hari berikutnya, sekitar pukul 05.00 WIB Jumat (27/3) tanggul Situ Gintung yang terletak di Kelurahan Cireundeu, Tanggerang Selatan, jebol. Jutaan kubir air yang tumpah memorakporandakan ratusan rumah yang terletak di daerah bawah tanggul dan menelan puluhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=115&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/musibah-situ-gintung.jpg?w=150&#038;h=150" alt="musibah-situ-gintung" title="musibah-situ-gintung" width="150" height="150" class="alignleft size-large wp-image-142" />Akibat hujan deras yang mengguyur daerah Ciputat dan sekitarnya selama 6 jam sejak pukul 6 petang hingga 01.00 dini hari berikutnya, sekitar pukul 05.00 WIB Jumat (27/3) tanggul Situ Gintung yang terletak di Kelurahan Cireundeu, Tanggerang Selatan, jebol. Jutaan kubir air yang tumpah memorakporandakan ratusan rumah yang terletak di daerah bawah tanggul dan menelan puluhan korban jiwa. Sungguh peristiwa yang sangat mengejutkan. Sebelumnya, kita pun dikejutkan oleh munculnya fenomena saat ribuan orang yang sudah terdesak di sudut batas keputus-asaan akan datangnya kesembuhan dengan air mujarab setelah dicelupkan batu Ponari. Musibah jebolnya tanggul Situ Gintung terjadi di saat dunia mengampanyekan 60 Earth Hour untuk bersatu selama 60 menit dengan mematikan satu lampu per satu jiwa demi menekan laju pemanasan global. Lantas apa hubungannya antara musibah Situ Gintung, fenomena Ponari dan kampanye Earth Hour?<span id="more-115"></span></p>
<p>Lagi-lagi air yang menjadi medium “perenggut” nyawa banyak orang. Masih lekat di ruang nalar traumatis kita saat bah besar menerjang daerah Aceh, Nias dan bahkan sampai wilayah tetangga Thailand, 26 Desember 2004. Korban nyawa pun berjatuhan. Bukan puluhan, apalagi ratusan, tapi saat itu ribuan nyawa melayang. Menyusul kejadian serupa terjadi di daerah Parangtristis Yogyakarta, Pantai Pangandaran Jawa Barat, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia terutama yang merupakan daerah di tepi pantai. Mengapa air kembali menjadi “mesin pembunuh” banyak nyawa. Padahal sebelumnya air justru diagung-agungkan menjadi medium penyembuh banyak penyakit yang diderita oleh sebagian dari ribuan pasien Ponari. </p>
<p>Disinilah Sang Pencipta Air ingin memberikan petunjuk kepada manusia untuk kembali menggunakan akal sehat dalam mencari solusi atas permasalahan hidup yang dialaminya. Kita diingatkan untuk tidak begitu saja menyerah atas segala derita yang menimpa. Kita diajarkan untuk menempatkan sesuatu itu pada tempatnya. Air tetaplah air. Obat adalah obat. Setiap penyakit yang diderita manusia pasti ada obatnya. Air memang bisa menjadi obat ketika air tersebut diniatkan untuk kesembuhan dengan dibacakan beberapa ayat Alquran sebagaimana yang disunahkan Nabi. Bahkan seorang professor Jepang mengakui hal ini melalui penelitiannya terhadap perubahan molekul air saat diperdengarkan suara-suara yang memiliki gelombang suara tertentu. Untuk itu, menganggap air yang telah dicelupkan “batu petir” milik Ponari dapat mengobati berbagai penyakit pasien yang telah putus asa dengan pengobatan medis, merupakan bentuk pengingkaran dari sifat alamiah air itu sendiri. Bahkan anggapan ribuan pasien Ponari dikhawatirkan akan menjerumuskan mereka ke dalam sifat kemusyrikan dengan menuhankan sebuah benda yang dapat menyembuhkan. </p>
<p>Musibah Situ Gintung memberikan pelajaran sangat berarti bagi kita. Bagaimana pun kita harus dapat mengembalikan fungsi air dan memahami sifat alamiah dari air. Air akan menerjang apa saja saat kekuatannya meningkat, bahkan untuk menjebol tanggul yang memang sudah sangat tua umurnya. Air akan mengalir mencari tempat-tempat yang lebih rendah. Oleh karena itu, jutaan kubik air Situ Gintung tidak memorakmorandakan tempat wisata yang selama ini dianggap sebagai biang keladi jebolnya tanggul. Karena memang tempat tersebut ada pada posisi yang lebih tinggi daripada permukiman warga yang terkena musibah. Bukan saatnya kita menyalahkan satu sama lain atas jebolnya tanggul Situ Gintung, namun salahkanlah diri kita yang sudah melupakan-Nya dan bahkan menyekutukan-Nya, Zat yang Maha Menyembuhkan.</p>
<p>Kampanye 60 Earth Hour tepat dilaksanakan di seluruh dunia tentunya juga di Indonesia pada Sabtu (28/3) pukul 20.30 dengan mematikan satu lampu selama satu jam. Kampanye diserukan guna menekan laju pemanasan global yang di derita bumi ini. Artis, pelaku bisnis, politisi, pemerintah, atau siapapun kita, diharapkan untuk bersatu menyukseskan program ini selama 60 menit. Dapat dibayangkan jika semua pihak, siapapun kita, mengikuti kampanye ini maka dunia dan juga Indonesia akan gelap gulita selama satu jam itu. Namun, tanpa kita sadari bahwa ternyata saudara-saudara kita yang menjadi korban musibah Jumat kelabu ini sudah menjalankan kampanye ini. Mereka sejak Jumat subuh sudah bergelap gulita sampai kini. Gelap gulita akan nyala lampu pada malam hari, juga gelap gulita akan masa depan setelah sebagian besar harta benda mereka ludes terbawa air. Merekalah pahlawan Earth Hour sesungguhnya. Ironis memang, mereka menjadi pahlawan sekaligus korban dari pemanasan global. Mereka bukan hanya tidak menyalakan lampu pada 28 Maret antara pukul 20.30-21.30, tapi mereka tidak akan pernah lagi menyalakan lampu di tempat tinggalnya yang memang sudah porak poranda sampai benar-benar dilakukan rekonstruksi dan rehabilitasi tempat tinggalnya. </p>
<p>Saatnya kita menyadari betapa banyak yang harus disyukuri dengan hanya mematikan lampu selama satu jam. Di samping tentunya simpati dan bantuan harus tetap dikucurkan kepada saudara-saudara kita di sana, di kawasan musibah Situ Gintung.</p>
<p>Rahman: Selayar 29 Maret 2009</p>
<br /> Tagged: ponari dan earth hour, situ gintung <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=115&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/29/situ-gintung-ponari-dan-earth-hour/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/musibah-situ-gintung.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">musibah-situ-gintung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEMOGA SELAMANYA KAU HADIRKAN DIA UNTUKKU</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/26/hari-pertama/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/26/hari-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 14:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Seharusnya tulisan ini saya posting tepat hari pertama kerja sekembalinya dari Pelatihan Jurnalistik. Tempatnya tepat setelah tulisan AKHIRNYA DATANG JUGA. Hal tersebut terlupakan dan baru ingat setelah melihat-lihat kembali file di folder my documents saya. Ternyata ada tulisan yang saya buat sewaktu di Jakarta. Inilah dia tulisan itu. Selamat membaca. ====================================================================================  Hari ini, Senin, 9 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=105&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/tino.jpg?w=119&#038;h=150" alt="tino" title="tino" width="119" height="150" class="alignleft size-large wp-image-144" />Seharusnya tulisan ini saya posting tepat hari pertama kerja sekembalinya dari Pelatihan Jurnalistik. Tempatnya tepat setelah tulisan AKHIRNYA DATANG JUGA. Hal tersebut terlupakan dan baru ingat setelah melihat-lihat kembali file di folder <em>my documents</em> saya. Ternyata ada tulisan yang saya buat sewaktu di Jakarta. Inilah dia tulisan itu. Selamat membaca.<br />
==================================================================================== </p>
<p>Hari ini, Senin, 9 Maret 2009, hari pertama aku menginjakkan kaki kembali di Jakarta setelah terakhir kalinya kusinggahi kota kelahiranku ini Nopember tahun yang lalu.</p>
<p>Perjalanan kali ini kulakukan dalam rangka mengikuti Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media yang diselenggarakan oleh Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Rencananya acara ini akan berlangung selama 3 hari mulai Selasa, 10 Maret sampai dengan Kamis, 13 Maret 2009. Hari ini acaranya hanya registrasi peserta di Hotel Grand Cemara yang terletak di Jalan Cemara kawasan Menteng. Selebihnya tidak ada acara resmi dari panitia, hanya diisi makan malam sambil bercengkrama dengan beberapa kawan yang baru saja kenal ketika registrasi tadi atau saat dimulainya makan malam.<span id="more-105"></span></p>
<p>Pada akhir malam, kembali kuingat-ingat  bahwa betapa hari ini teryata banyak yang harus kusyukuri. Ya, tentunya bersyukur atas  berbagai karunia Allah SWT yang dilimpahkan pada hari ini. Aku baru hanya bisa bersyukur atas nikmat yang bisa kuhitung saja, entah sampai kapan kubisa bersyukur atas nikmat yang tidak akan pernah terhitung.</p>
<p><strong>Pertama</strong>. Harus kusyukuri bahwa aku termasuk dalam 31 peserta terpilih dari 155 peserta yang turut ikut seleksi, namun sebagian banyak dari mereka kurang beruntung seperti saya. Di antara yang kurang beruntung itu banyak teman-temanku yang kutahu sekali memang menghendaki bisa terpilih mengikuti bimtek ini. Ada berbagai alasan mereka supaya bisa terpilih. Ada yang menghendaki dapat berangkat ke Jakarta guna mendapatkan perjalanan gratis namun untuk lain keperluan selain ikut bimtek. Namun, aku yakin panitia dapat menilai mana peserta yang layak mengikuti pelatihan ini dan mana yang hanya sekadar iseng-iseng berhadiah.</p>
<p><strong>Kedua</strong>. Untuk hal ini tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Mulai berangkat dari kediaman di Selayar hingga tiba di hotel Jakarta dengan berbagai moda transportasi yang aku gunakan, <em>Alhamdulillah</em>, Allah melindungi selama perjalanan ini. Bis yang membawa kami ke Makassar tidak ada hambatan apapun selama dalam perjalanan. Semuanya berjalan seperti biasanya. Ferry yang menyeberangkan bis kami menuju daratan Sulawesi pun begitu. Perairan Selat Selayar terasa tenang tidak sedikitpun ombak besar mengoleng-olengi kapal kami. Demikian pula penerbangan dengan pesawat Garuda rute Makassar-Jakarta pada siang hari, tidak terkendala secara teknis maupun non teknis. Keadaan cuaca di kedua bandara tersebut juga dalam keadaan cerah saat lepas landas maupun hendak mendarat. Bertambah lagi rasa syukurku ketika tiba di hotel demi membaca <em>running text</em> di sebuah stasiun televisi yang mengabarkan pesawat Lion Air jurusan Makassar-Jakarta tergelincir di Bandara Soekarno Hatta. Dikabarkan semua penumpang selamat dalam insiden tersebut. Memang pada sore harinya Jakarta diguyur hujan yang cukup deras yang menyebabkan landasan mendarat bandara Cengkareng menjadi licin.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>. Ini juga yang tak kalah pentingnya harus kusyukuri, bahwa aku dianugrahi seorang teman yang begitu sangat baik sekali. Bukan hanya teman dalam perjalanan ini melainkan juga teman saat mendampingi masa pengabdianku di kantor. Memang, untuk kegiatan bimtek ini kami berangkat berdua dari kantor yang sama. Namanya <strong>Tino Adhi Prabowo</strong>. Usianya terpaut sembilan tahun, jauh lebih muda dariku tentunya. Tapi jangan ditanya tentang kedewasaannya yang dibalut  oleh jiwa muda petualangannya. Malah sampai-sampai kadang aku pingin mengikuti jiwa mudanya itu. Untuk kebaikannya hari ini yang kucatat adalah dia mau menemaniku jalan-jalan pagi di Makassar sebelum pada jam 9 nanti kita harus ke bandara. Dia dengan senang hati menemaniku meski dia sedang melaksanakan puasa. Ya, dia memang sedang menjalankan syariat puasa Daud. Hari ini puasa, esok makan, esoknya lagi puasa, hari selanjutnya berbuka, demikian seterusnya. Berlanjut kekagumanku akan pribadinya ketika dia memutuskan untuk menggunakan jasa dari seorang bapak tua yang mencari nafkah di bandara Cengkareng dengan menyewakan mobilnya untuk mengantar kami ke hotel. Betapa tidak aku harus mengagumi kepribadiannya, dia rela mengajakku untuk mengendari sebuah mobil tua tanpa pendingin udara dan kursi yang empuk dari bandara meski saat itu kami bisa menyewa sebuah taksi yang lebih menyejukkan dan menyenangkan. Dia beralasan saatnya kita harus mengapresiasi usaha seorang yang sudah demikian tua namun masih semangat untuk mencari penghidupan di kota ini. Kekagumanku berlanjut ketika setibanya di hotel dan saat aku hendak mengunjungi orang tua di daerah yang lumayan jauh dari tempat kami menginap. Dia rela untuk ikut aku meski menurutku sendiri sepertiya akan lebih enak baginya jika ia beristirahat sambil menunggu jam buka puasa tiba di hotel. Tapi demi menyambung silaturrahmi, alasannya, dia rela hujan-hujanan ikut ke rumah orang tua dan nenekku sendiri. Subhanallah!. Semoga sampai kapanpun dan dimanapun aku ditugaskan mengabdi selalu bersamanya, atau setidaknya menemukan orang yang sepertinya. </p>
<p>Jakarta, 9 Maret 2009.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=105&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/26/hari-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/tino.jpg?w=119" medium="image">
			<media:title type="html">tino</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PLAGIATOR OH.. PLAGIATOR</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/23/plagiator-oh-plagiator/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/23/plagiator-oh-plagiator/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 02:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[plagiator]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/23/plagiator-oh-plagiator/</guid>
		<description><![CDATA[Pada Sabtu (7/3) menjelang keberangkatan saya ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media yang diselenggarakan oleh Bagian Pengembangan Pegawai Sekretariat Direktorat Jenderal Perbendaharaan, saya menyempatkan waktu sejenak untuk membuka milis Forum Prima yang sangat saya banggakan melalui internet kantor. Dua postingan yang ada saat itu mengundang saya untuk turut berkomentar. Postingan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=102&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/plagiat11.jpg?w=150&#038;h=113" alt="plagiat11" title="plagiat11" width="150" height="113" class="alignleft size-large wp-image-148" />Pada Sabtu (7/3) menjelang keberangkatan saya ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media yang diselenggarakan oleh Bagian Pengembangan Pegawai Sekretariat Direktorat Jenderal Perbendaharaan, saya menyempatkan waktu sejenak untuk membuka milis Forum Prima yang sangat saya banggakan melalui internet kantor. Dua postingan yang ada saat itu mengundang saya untuk turut berkomentar.<span id="more-102"></span></p>
<p>Postingan pertama berasal dari miliser dengan username “Sukarnon”. Beliau memosting ke milis pada 6 Maret 2009 dengan nomor postingan 12336 di bawah judul PLUS TALENT MANAGEMENT. Pada postingannya ini dia menambahkan apa yang telah disampaikan oleh “Budisan” terkait tema Talent Management. Materi yang ditulis membuat saya terkagum akan kemahirannya menulis dan kedalaman pengetahuannya tentang Talent Management. Bahasa yang digunakannya terasa renyah, alur penulisannya teratur, dan kedalaman materi menandakan yang bersangkutan benar-benar ahli dalam bidangnya.</p>
<p>Namun, alasan keterkaguman saya terhadap tulisan “Sukarnon” mulai saya ragukan setelah membaca postingan kedua dari miliser “Budisan” pada tanggal yang sama, dengan nomor postingan tepat pada nomor berikutnya setelah postingan “Sukarnon” di atas. Pada postingannya, “Budisan” sungguh mengagumi tulisan “Sukarnon” tentang Talent Management. Namun, beliau enggan untuk memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan “Sukarnon” lantaran yang bersangkutan tidak menyertakan sumber tulisan yang dikutip olehnya. Seraya menunjukkan sebuah link yang mungkin menjadi referensi “Sukarnon” dalam membuat tulisannya, beliau menawarkan kepada miliser semuanya (juga tentunya saya) jika mau mempelajari lebih jauh tentang Talent Management dan masuk ke link yang dimaksud. </p>
<p>Keterkaguman saya menjadi hilang sama sekali setelah saya mencoba masuk ke dalam link yang dirujuk oleh “Budisan”. Betapa saya benar-benar menyaksikan sendiri bagaimana sama persisnya antara tulisan yang dibuat oleh Yodhia Antariksa pemilik situs http://strategimanajemen.net  dengan apa yang diposting oleh “Sukarnon”. Hanya saja, “Sukarnon” dalam postingannya menambahkan 1 kalimat yang terdiri atas 35 kata pada awal tulisannya dan diberi jeda dengan tanda koma (,) kemudian mengutip habis tulisan Yodhia Antariksa yang diposting pada tanggal 15 September 2008 pukul 12.10 am, serta mengakhirinya dengan sebuah kata-katanya sendiri : “thank’s” tanpa menuliskan sedikitpun sumber dari mana dia mendapatkan kutipan itu.</p>
<p>Siapapun akan memiliki pendapat yang sama dengan saya untuk mengatakan bahwa telah terjadi penggunaan tulisan orang lain untuk suatu kepentingan dalam bentuk tulisan lainnya tanpa menyebutkan sumber dari mana tulisan itu berasal. Dalam hal ini, menurut saya “Sukarnon” telah mengutip tulisan Yodhia Antariksa mengingat tulisan Antariksa ada lebih dahulu dibanding tulisan “Sukarnon”. Menurut saya juga, “Sukarnon” bukanlah Yodhia Antariksa, dan Yodhia Antariksa bukanlah salah seorang miliser Forum Prima, sehingga antara “Sukarnon” dan Yodhia adalah dua orang yang berbeda tentunya. Oleh karena itu, dengan tingkat keyakinan yang “haqqul yaqin” bahwa telah terjadi upaya secara sengaja untuk mengutip sebagian atau seluruh tulisan orang lain dan mengesankan bahwa tulisan itu asli darinya (ditandai dengan penambahan 35 kata dimuka dan satu kata di akhir kutipan) maka saya perlu mengambil suatu sikap. Saya berada pada posisi untuk tidak berapresiasi terhadap apa yang dilakukannya, namun tetap memandang bagus isi tulisan (kutipan)nya, seraya mengingatkan kepada semua miliser untuk tetap menjaga etika penulisan dengan mencoba untuk menghargai karya tulis orang lain dalam bentuk penulisan sumbernya. Postingan reply nomor 12339 itu saya beri judul  PLUS PLUS TALENT MANAGEMENT : TURUT BERDUKA ATAS BUDAYA PLAGIATOR.</p>
<p>Dari sinilah mulai bermunculan postingan reply lainnya atas judul postingan saya yang sangat provokatif. </p>
<p>Postingan reply pertama muncul pada 8 Maret 2009 dengan nomor postingan 12342 yang dikirim oleh “yondi_l”. Jujur saja, saya tidak dapat mengambil inti dari postingannya kecuali sebuah kalimatnya yang berbunyi “Buat Bung Sukarnon terus menulis bung!&#8230;”. Pikiran saya melayang membawa saya pada kesimpulan bahwa judul yang saya buat sudah membuat orang lain simpati pada “Sukarnon” dengan tetap memberinya semangat untuk “keep on writing”. </p>
<p>Postingan reply kedua muncul pada 10 Maret 2009 yang berasal dari Harsono Budi Waluyo di Kendari. Saya kenal dengan nama ini karena beliau sering sekali menulis di forum ini terutama saat mengomentari postingan-postingan saya sebelumnya. Saya pun tahu tentang posisi kedinasannya mulai dari SK mutasi Maret 2004 (satu SK dengan saya) sampai dengan sekarang di KPPN Percontohan Kendari. Pada intinya, beliau ingin menyampaikan bahwa memberikan cap plagiator kepada “Sukarnon”  bukanlah tindakan yang tepat. Lagi-lagi muncul sebuah dukungan untuk menjaga semangat menulis “Sukarnon”. Pada satu kalimat yang dapat saya kutip disini adalah “Sebuah permintaan maaf saya rasa pantas untuk ke-khilafan ini.” Saya mulai bingung, kok sepertinya ada kesan bahwa postingan saya telah mematahkan semangat “Sukarnon” untuk terus menulis, dan siapa pula yang dimaksud beliau untuk minta maaf atas sebuah kekhilafan. Apakah “Sukarnon” yang telah ceroboh mengutip tanpa menyebutkan sumbernya ataukah saya yang telah menggunakan judul “plagiator” terhadap orang yang menurut keyakinan saya memenuhi kriteria seorang plagiator?</p>
<p>Saat membaca postingan HaBeWe (biasa beliau menyingkat namanya) ini saya sedang berada di Jakarta dalam sebuah acara pelatihan jurnalistik. Di samping saya duduk Heryanto Sijabat, salah seorang miliser aktif Forum Prima. Si Abang ini pernah menanyakan saya (juga teman-teman pelatihan) tentang keberanian saya mereply tulisan “Sukarnon” dengan memberikan judul yang bombastis. Begitu muncul postingan nomor 12351 dari HaBeWe di atas dengan berbagai maksudnya, kepada si Abang saya tunjukan layar laptop saya yang terhubung dengan jaringan LAN tempat pelatihan tentang perbandingan  antara tulisan “Sukarnon” dengan sumber asli http://strategimanajemen.net. Komentarnya saat itu hanyalah “Kalau begitu, gak perlu kamu minta maaf”. Kometarnya itu membuat saya yakin bahwa sayalah target dari permintaan maaf atas kekhilafan saya menuduh orang sebagai plagiator.</p>
<p>Postingan balasan mengenai tema plagiator ini masih berlanjut. Kali ini kembali datang dari “Budisan”, orang pertama yang “membongkar” postingannya “Sukarnon”. Melalui postingan nomor 12400 yang dikirim tanggal 20 Maret 2009 beliau mengajak semua miliser agar jangan asal menuduh (Mr. Sukarnon sebagai plagiator) dan menyetujui adanya permintaan maaf atas kekhilafan ini. Lagi-lagi dukungan untuk keep on writing kepada “Sukarnon” muncul. Saya semakin merasa tersudutkan atas suatu kesan bahwa tindakan saya seakan-akan sudah mematahkan semangat “Sukarnon” untuk menulis. Pada bagian akhir beliau mengajak miliser untuk mampu membedakan plagiator-teri dan plagiator-kakap. Dimana dapat dimungkinkan seorang penulis handal sekalipun dahulunya bisa saja seorang plagiator-teri.</p>
<p>Terakhir yang saya pantau, terdapat satu lagi postingan tentang tema ini. Datangnya bukan dari siapa-siapa, melainkan kembali HaBeWe menulis. Pada postingannya nomor 12404 tanggal 20 Maret 2009, dia menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan “Sukarnon” bukanlah tindakan plagiat, hanya saja dia menyayangkan tidak dicantumkannya sumber yang mungkin karena terlalu menggebu-gebunya “Sukarnon” menulis.</p>
<p>Atas dasar postingan-postingan di atas, terutama mulai dari postingan saya, juga dengan memperhatikan posting-rules milis kita ini, saya tidak dalam posisi untuk berdebat kusir mengenai apakah yang sudah dilakukan oleh “Sukarnon” dikategorikan perbuatan plagiat atau bukan. Namun, sesuai kaidah jurnalistik, untuk hal ini saya memiliki hak jawab. Meskipun hak jawab saya itu terbentur oleh posting-rules yang menghendaki untuk menghindari polemik di milis (bagi saya ini sebuah posting rules yang tidak sesuai dengan iklim demokrasi yang sedang kita bangun, tapi tetap saja akan saya patuhi). Untuk itu saya gunakan hak jawab saya dalam bentuk lain yaitu mengirimkannya melalui jaringan e-mail pribadi (japri), yang berisi :</p>
<p>1.	Saya tetap bersikap bahwa apa yang sudah dilakukan oleh “Sukarnon” termasuk dalam kategori perbuatan plagiat. Konsekuensinya, subjek dari seorang yang melakukan tindakan itu disebut plagiator. Terlepas apakah nanti dia mau dikategorikan plagiator-teri atau plagiator-kakap. “Plagiator adalah mereka yang dengan sengaja mengambil ide, pendapat, atau karya tulis orang lain, baik secara utuh atau dimodifikasi sedikit supaya tidak nampak sama persis, dan mengakui (atau memberikan kesan kepada pembacanya) bahwa ide, pendapat dan karya tulis itu adalah milik (buah tangan)nya.” [Budisan : Forum Prima mailing list, posting #12400, 2009]. Saya tidak akan meminta maaf untuk sebuah perbuatan yang saya yakini bukan suatu kesalahan atau kekhilafan.</p>
<p>2.	Pada saat mengikuti pelatihan jurnalistik, saya sempat berbincang sejenak dengan salah seorang narasumber yang merupakan Direktur Rakyat Merdeka Institute. Saya menyampaikan tentang keinginan saya untuk menyediakan dua halaman di blog saya (http://rahmanjakarta.wordpress.com) yang akan berisi ketikan ulang utuh dari dua buku yang saya punya. Buku pertama berjudul Fiqih Lima Mazhab dan buku kedua berjudul Menjadi Kekasih Allah yang merupakan kumpulan wejangan dari Syaikh Abdul Qadir Jaelani kepada murid-muridnya dalam setiap pengajian. Maksud saya melakukan itu adalah untuk sekadar membagi pengetahuan dari buku yang pernah saya baca kepada pengunjung blog saya, meski mereka tidak sempat membeli bukunya namun bisa mendapatkannya dari blog saya. Di pengantar halaman itu tetap akan saya announce tentang sumbernya, lengkap dengan judul buku dan siapa penulisnya. Namun, narasumber tadi dengan nada keras mengingatkan saya untuk membatalkan maksud tadi karena bagaimanapun dan untuk tujuan apapun apa yang akan saya lakukan termasuk kategori pelanggaran terjadap hak cipta. Betapa saya menggebu-gebu sebelumnya untuk membuat dua halaman tambahan di blog saya itu, betapa tidak ada maksud komersialisasi blog saya, betapa baiknya maksud tujuan saya, betapa saya tetap akan mencantumkan sumber isi halaman itu, namun, karena tindakan tersebut masuk dalam kategori plagiator, dengan senang hati saya batalkan.</p>
<p>3.	Tidak ada maksud sedikitpun dengan mengingatkan “Sukarnon” (juga miliser lainnya) untuk menghargai karya tulis orang lain dengan menuliskan sumber ketika mengutip serta dengan menggunakan judul : TURUT BERDUKA ATAS BUDAYA PLAGIATOR, bahwa saya hendak mematikan semangat menulis yang bersangkutan. Apalah artinya saya ini yang hanya menjadi pembaca setia dari milis. Apapula kekuatan dan kewenangan saya untuk melakukan itu. Tujuan saya semata-mata untuk mengajak semua miliser agar dalam menulis tetap menjunjung etika jurnalistik (etika penulisan) meski forum kita ini hanyalah forum warung kopi [HaBeWe : 2009]. Justru sebagai bentuk dari hasil pelatihan jurnalistik dan manajemen media yang saya ikuti, saya mengajak semua miliser untuk menggiatkan kegiatan tulis menulis seraya tetap memperhatikan kaidah dan etika penulisan.</p>
<p>4.	Satu hari setelah saya muat tulisan ini di blog saya, banyak bermunculan komentar dari teman-teman yang menyempatkan membaca tulisan saya. Diantaranya ada yang mengungkapkan pengalaman pribadinya saat banyak orang lain men-copypaste materi dari blognya untuk dmuat di blognya sendiri tanpa mencantumkan sumber dia mendapatkannya. Baginya tindakan itu sangat menyakitkan hatinya. Namun, tidak banyak yang dapat diperbuat kecuali menyayangkan tindakan tersebut seraya mengikhlaskannya. Kometar kedua datang melalui SMS ke saya langsung yang mengatakan : “I’ve read you blog. Never ever feel guilty for what you’ve done about ‘plagiat’. You’re doing a good job!”. Dan yang paling menarik adalah komentar seorang teman yang didahulukan dengan mempertanyakan apa poin dari tulisan saya yang panjang lebar ini. Saya jawab: “Poinnya adalah plagiator tetaplah plagiator, jangan beri dia ruang justifikasi hanya dengan alasan media melakukan plagiator (kepentingan akademik atau forum warung kopi), tujuan melakukan plagiator (menambah wawasan orang lain atau sekadar belajar menulis), apalagi harus dilihat perkategori (plagiator-teri atau plagiator-kakap). Atas jawaban itu, teman saya kembali menulis : “I agree with you.”</p>
<p>5.	Satu hal yang saya yakini, tidak ada seorang penulis handal pun saat ini yang mengawali karirnya dengan melakukan plagiat. Sekalipun sebagai plagiat-teri. [Maaf], seorang maling kelas teri jika terus diasah kemampuannya, siapa yang dapat memungkiri jika yang bersangkutan besarnya menjadi maling kelas kakap. Seorang petinju yang berangkat dari kelas bulu, dengan latihan keras dan pengalaman naik ring siapa bilang tidak bisa jadi petinju kelas berat. Seorang anak balita memang bagus diberikan kebebasan bermain untuk merangsang pertumbuhan fisik dan psikisnya, namun tetap saja jika balita tadi dibiarkan melakukan kesalahan tanpa menegurnya akan berdampak tidak baik bagi kepribadiannya di kemudian hari.</p>
<p>6.	For “Sukarnon”, I just want to say : “keep on writing, stop copying and pasting or you have to write down the source(s)!”</p>
<p>7.    Thanks for Bayu Biru sudah menggugah saya buat memosting tulisan ini yang sebenarnya telah saya kirim ke e-mail masing-masing nama yang terlibat dalam diskusi tentang plagiator termasuk “Sukarnon” sendiri.</p>
<p>Terima kasih atas perhatian semuanya. Semoga forum kita bisa menjadi ajang memuaskan hasrat menulis teman-teman yang punya talenta untuk itu. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.</p>
<p>Benteng Selayar, 21 Maret 2009 : 02.30 am</p>
<br /> Tagged: plagiator <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=102&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/23/plagiator-oh-plagiator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/plagiat11.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">plagiat11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAWANCARA ASSESSMENT TEST ONLINE</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/19/belajar-wawancara/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/19/belajar-wawancara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 15:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[test online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[WAWANCARA DENGAN DRS. KOENCARA BOEDI SAMBODO, PENGAWAS PELAKSANAAN ASSESSMENT TEST ONLINE PADA KPPN BENTENG “..menurut saya dengan adanya test ini akan meningkatkan kredibilitas bagi pelaksana.” Beberapa saat setelah selesai pelaksanaan tes, Rahman dari Majalah TI dan Portal DJPBN berkesempatan mewawancarai salah seorang pengawas tes. Untuk mengetahui jalannya pelaksanaan tes berikut pandangannya tentang tes yang baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=95&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/wawancara1.jpg?w=150&#038;h=134" alt="wawancara1" title="wawancara1" width="150" height="134" class="alignleft size-large wp-image-155" /><strong>WAWANCARA DENGAN DRS. KOENCARA BOEDI SAMBODO, PENGAWAS PELAKSANAAN ASSESSMENT TEST ONLINE PADA KPPN BENTENG</strong><br />
<em>“..menurut saya dengan adanya test ini akan meningkatkan kredibilitas bagi pelaksana.”</em></p>
<p>Beberapa saat setelah selesai pelaksanaan tes, Rahman dari Majalah TI dan Portal DJPBN berkesempatan mewawancarai salah seorang pengawas tes. Untuk mengetahui jalannya pelaksanaan tes berikut pandangannya tentang tes yang baru pertama kalinya dilaksanakan di DJPBN ini, berikut petikan wawancaranya:</p>
<p><strong>Bagaimana jalannya pelaksanaan assessment online di KPPN Benteng ini Pak?</strong><span id="more-95"></span></p>
<p>Eeeh.. berjalanannya assessment di KPPN Benteng, sementara ada sebagian dari tujuh peserta, 1 orang peserta soalnya terloncat-loncat atas nama Anthon (Anthon Misalayuk-red), yang lainnya saya kira sesuai dengan rencana, lancar. Waktu yang disediakan sekitar 45 menit, ternyata 28 menit sudah selesai semua. Bahkan karena si Anthon-nya mungkin soalnya lompat-lompat, mungkin ada sekitar 20 kebawah ada yang tidak sempat dikerjakan, dia mungkin 15 menit sudah selesai.</p>
<p><strong>Langkah apa yang akan Pengawas lakukan terhadap kegagalan salah satu peserta tadi Pak?</strong></p>
<p>Pertama-tama nanti mungkin kita akan buatkan berita acara bahwa ada 1 peserta yang soalnya tidak sesuai rencana atau dapat dikatakan soalnya tidak sempat dikerjakan beberapa. Kita buatkan berita acara untuk dilaporkan ke Pusat.<br />
Kemudian, bisa diberikan informasi Pak sebenarnya apa sih maksud diadakannya tes online seperti ini?<br />
Informasi sementara mungkin ini suatu pemetaan saja, bisa dikatakan eee.. kalau toh memang ada pelaksana yang memang mampu untuk… untuk… menguasai masalah IT, mungkin kalo di Pusat membutuhkan mungkin diantaranya akan dipanggil Pusat juga.</p>
<p><strong>Apa kesan Bapak terhadap ide pelaksanaan tes online yang digagas oleh Bagian Kepegawaian ini?</strong></p>
<p>Saya sangat mendukung sekali dengan adanya ini (tes online –red), menurut saya dengan adanya test ini akan meningkatkan suatu kredibilitas bagi pelaksana-pelaksana yang ada. Dan kayaknya test seperti ini kalau toh memang pengujinya nantinya fair, serta menggunakan metode penilaian seobjektif mungkin, ini akan menghasilkan yang bisa dikatakan eee.. membangun kepercayaan pada pelaksana di daerah, eee… tidak.. tidak.. beranggapan bahwa orang daerah tidak…tidak.. eh.. istilahnya juga dipikirkan oleh orang Pusat.</p>
<p><strong>Terima kasih banyak Pak.</strong></p>
<br /> Tagged: test online <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=95&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/19/belajar-wawancara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/wawancara1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">wawancara1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASSESSMENT TEST ONLINE : PERTAMA DAN SATU-SATUNYA DI DEPKEU</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/19/assessment-test-online/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/19/assessment-test-online/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 15:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[assessment online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Sebanyak 7 dari 13 pegawai KPPN Benteng melaksanakan online assessment test pada Kamis (19/3) yang dipusatkan di ruang front office dan middle office KPPN Benteng. Tes ini dilaksanakan terkait dengan proses rekruitmen tenaga yang menguasai teknologi dan infomasi dari berbagai instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Secara umum pelaksanaan tes [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=90&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/test-online.jpg?w=150&#038;h=111" alt="test-online" title="test-online" width="150" height="111" class="alignleft size-large wp-image-157" />Sebanyak 7 dari 13 pegawai KPPN Benteng melaksanakan online assessment test pada Kamis (19/3) yang dipusatkan di ruang front office dan middle office KPPN Benteng. Tes ini dilaksanakan terkait dengan proses rekruitmen tenaga yang menguasai teknologi dan infomasi dari berbagai instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Secara umum pelaksanaan tes berjalan lancar meski terdapat salah seorang peserta yang menghadapi loncatan soal yang tidak teratur.<span id="more-90"></span></p>
<p>Seyogyanya pelaksanaan tes dilaksanakan pada Selasa (17/3) sesuai dengan Surat Sekretaris Direktorat Jenderal Perbendaharaan nomor S-212/PB.1/UP.10/2009 tanggal 10 Maret 2009 Hal Assessment SDM Bidang Teknologi Informasi. Karena terkendala jaringan, maka tes diundur pelaksanaannya pada Kamis 19 Maret 2009. Dengan adanya penundaan tersebut, maka hasil tes yang sempat dilaksanakan oleh sebagian daerah pada pagi harinya dinyatakan batal.</p>
<p>Tes diikuti oleh 7 pegawai yang memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditentukan dalam surat tersebut di atas, yakni harus berusia maksimal 40 tahun, tidak sedang dalam proses perpindahan ke instansi di luar Direktorat Jenderal Perbendaharaan serta tidak sedang mengikuti beasiswa tugas belajar. Pelaksanaan tes dilakukan secara terpusat di ruang Seksi Pencairan Dana dan Seksi Bendum KPPN Benteng yang telah disiapkan dengan 5 unit komputer yang telah terpasang dan 2 unit laptop tambahan. Untuk ketertiban jalannya tes, Kepala KPPN Benteng menugaskan 2 orang pegawas yakni Kasubbag Umum dan Kepala Seksi Verifikasi dan Akuntansi KPPN Benteng untuk mengawasi jalannya pelaksanaan tes.</p>
<p>Soal tes terdiri atas 50 pertanyaan pilihan berganda seputar teknologi informasi yang pada umumnya sering dihadapi oleh pegawai. Materi tes belum mencakup hal-hal yang bersifat khusus. Peserta diharuskan untuk menjawab keseluruh soal dengan meng-klik pada pilihan jawaban yang tersedia. Soal akan berganti ke nomor berikutnya setelah peserta mengkonfirmasi jawabannya tadi. Tes diakhiri dengan soal berupa game picture puzzle yang harus diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat.</p>
<p>Pengawas tes menjelaskan bahwa secara umum pelaksanaan tes berjalan dengan lancar. Hanya saja, terdapat salah seorang peserta yang menghadapi soal yang muncul secara tidak teratur urutannya. Disamping itu, karena baru pertama kalinya melaksanakan tes sejenis serta kurangnya latihan menghadapi tes, banyak peserta yang salah klik tombol yang ada sehingga pertanyaan meloncat jauh ke beberapa nomor selanjutnya. “berjalanannya assessment di KPPN Benteng, sementara ada sebagian dari tujuh peserta, 1 orang peserta soalnya terloncat-loncat atas nama Anthon (Anthon Misalayuk-red), yang lainnya saya kira sesuai dengan rencana, lancar. Waktu yang disediakan sekitar 45 menit, ternyata 28 menit sudah selesai semua. Bahkan karena si Anthon-nya mungkin soalnya lompat-lompat, mungkin ada sekitar 20 kebawah ada yang tidak sempat dikerjakan, dia mungkin 15 menit sudah selesai,” demikian penjelasan Pak Kun, panggilan akrab Drs. Koencara Bodi Sambodo selaku pengawas jalannya tes (selengkapnya dapat dibaca pada kolom wawancara).</p>
<p>Belajar dari pengalaman pelaksanaan tes tersebut, terdapat beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh Kantor Pusat sebagai penyelenggara. Sempitnya jangka waktu pelaksanaan tes dengan surat pemberitahuan mengakibatkan kurang siapnya pihak penyelenggara untuk melaksanakan tes serupa. Hal ini tergambar dari pembatalan pelaksanaan tes dan hasilnya yang sudah masuk pada tanggal 17 Maret 2009. Demikian juga kurangnya sosialisasi dan uji coba pelaksaan tes mengakibatkan banyaknya peserta yang merasa kurang puas dengan pelaksanaan tes kali ini. Selayaknya panitia penyelenggara dapat mempertimbangkan untuk menggandeng pihak luar yang lebih berpengalaman melaksanakan kegiatan sejenis demi suksesnya pelaksanaan tes secara online. Namun, patut pula kita memberikan apresiasi kepada Kantor Pusat atas ide pelaksanaan tes secara online yang baru pertama kalinya dilaksanakan di lingkup Direktorat Jenderal Perbendaharaan, yang juga mungkin pertama kali di lingkup Departemen Keuangan. Bravo DJPBN!</p>
<br /> Tagged: assessment online <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=90&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/19/assessment-test-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/03/test-online.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">test-online</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RM BAWAKARRAENG: PENUNTAS LAPAR SELAYAR-MAKASSAR</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/16/rm-bawakarraeng-penghilang-lapar-penumpang-selayar-makassar/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/16/rm-bawakarraeng-penghilang-lapar-penumpang-selayar-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 14:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Kesibukan melanda sebuah warung makan yang terletak di poros jalan kota Bantaeng, 1 km dari pusat kota arah Makassar, pada Minggu (15/3) tepat pada saat jam makan siang. Kesibukan pada saat jam makan siang merupakan hal yang biasa terjadi di rumah makan manapun. Namun, yang terjadi di warung ini benar-benar di luar kebiasaan. Bagi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=80&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesibukan melanda sebuah warung makan yang terletak di poros jalan kota Bantaeng, 1 km dari pusat kota arah Makassar, pada Minggu (15/3) tepat pada saat jam makan siang. Kesibukan pada saat jam makan siang merupakan hal yang biasa terjadi di rumah makan manapun. Namun, yang terjadi di warung ini benar-benar di luar kebiasaan.</p>
<p>Bagi yang sering melakukan perjalanan Selayar-Makassar atau sebaliknya pasti pernah singgah di warung ini. Rumah makan yang terletak di Jalan Pahlawan 2 Bantaeng ini menyajikan berbagai macam menu khas Sulawesi Selatan. Mulai dari ikan bakar hingga sop konro yang menjadi menu andalannya. Tersedia pula makanan ringan khas Bantaeng-Bulukumba.<span id="more-80"></span></p>
<p>Siang itu nampak jumlah pengunjung Rumah Makan Bawakarraeng tidak seperti biasanya. Semua meja dan kursi yang tersedia dipenuhi oleh pengunjung yang sebagian besar merupakan sopir, kernet dan penumpang bis jurusan Selayar-Makassar dan sebaliknya. Di luar masih banyak penumpang yang belum mendapatkan giliran menikmati makan siangnya. Sambil menunggu kesempatan biasanya mereka menunaikan solat zuhur dan ashar sekaligus atau makan makanan ringan yang ada. “Seharusnya ditambah lagi tempat makan di luar, enak rasanya makan sambil berangin-angin di luar” seloroh salah seorang penumpang yang sedang menunggu dapat giliran tempat makan.</p>
<p>Kepadatan jumlah pengunjung ini disebabkan karena bersamaannya waktu singgah antara penumpang bis dari Selayar menuju Makassar dengan penumpang bis arah sebaliknya. Kesemuanya bertemu dan singgah di tempat dan waktu yang sama. Dalam sekali perjalanan, dua rute perjalanan itu biasanya memberangkatkan 6 bis AC, 6 bis non AC, beberapa mobil travel dan mobil/motor pribadi. Pertemuan dua arus keberangkatan biasanya terjadi antara pukul 12.00-12.30. Untuk rute perjalanan Selayar-Makassar, waktu tersebut terjadi setelah menempuh perjalanan 2 jam sejak ferry mendarat di Pelabuhan Bira, untuk kemudian menuju Makassar selama 5 jam kemudian. Demikian sebaliknya, waktu tersebut terjadi setelah menempuh perjalanan 4 jam rute Makassar-Selayar untuk kemudian menuju Selayar selama 6 jam berikutnya. Kesemuanya bertemu di satu tempat, waktu serta satu tujuan yang sama, yaitu menghilangkan rasa lapar yang sudah sangat menyiksa.</p>
<p>Warung makan yang menyediakan 3 ruangan dengan total 40 meja makan dan 160 kursi ini jelas-jelas tidak dapat menampung pengunjung yang siang itu berasal dari para penumpang 4 bis AC, 2 bis non AC dan beberapa penumpang berkendara mobil travel atau mobil pribadi serta pengendara sepeda motor. Kesibukan lebih terasa saat banyak pengunjung yang telah mendapatkan kursi duduk namun belum terlayani pesanannya oleh jumlah pegawai yang hanya 12 orang. Berbagai keluhan pengunjung mulai muncul, mulai dari lamanya pesanan tiba hingga tidak terangkutnya sisa piring makan yang masih ada di meja makan.“Pegawai kita hanya 12 orang, itupun semuanya sudah terbagi dalam tugasnya masing-masing. Ada yang menyiapkan pesanan, mengantar dan merapikan meja.” Ujar pemilik warung.</p>
<p>Berbagai menu disajikan setiap harinya dengan harga yang terjangkau. Ikan bakar hanya Rp. 15.000, ayam goreng dan Sop Saudara perporsinya masing-masing Rp. 17.000,- Hanya menu Sop Konro yang merogoh kocek penumpang lebih dalam, yaitu Rp. 25.000. Harga tersebut sudah termasuk lengkap nasi dan sop. Menu favorit para penikmat masakan khas Sulawesi Selatan ini adalah sop konro. “Meskipun melelahkan, namun, yang menarik dari perjalanan ke Makassar ini adalah makan sop konro di Bawakarraeng,” tutur Tino, salah seorang penumpang bis Sumber Mas Murni jurusan Makassar.</p>
<p>Pemilik warung setiap harinya menyediakan sekitar 38 ekor ayam dan tulang dan daging iga dari 4 ekor sapi serta 60 ikan segar untuk menghilangkan rasa lapar penumpang yang melaksanakan perjalanan jauh. Omzet perharinya dapat mencapai empat juta rupiah, belum dari hasil penjualan mie bakso atau makanan dan minuman ringan. “Kalau lagi ramai seperti ini, bisa dapat lebih dari 4 juta rupiah di tangan” tambah pemilik warung.</p>
<p>Lamanya waktu bis dapat berhenti istirahat di warung makan tersebut sepertinya telah ditentukan mengingat perjalanan masih jauh, terutama bagi yang masih melanjutkan perjalanan ke Selayar yang harus mengejar jadwal penyebrangan kapal ferry. Sangat disayangkan jika sudah menempuh perjalanan jauh dari Makassar namun tertinggal di pelabuhan dan harus menunggu keesokan harinya untuk hisa menyebrang. Lamanya waktu itu seukuran seseorang menunggu makanan tersaji, sampai selesai makan ditambah dengan istirahat sebentar untuk solat atau ke kamar kecil. Untuk itu setiap penumpang harus pintar-pintar mengatur waktu yang ada jika tidak ingin ditinggal atau menjadi cemoohan para penumpang lain yang telah lama menunggu. “Ah jadi gak enak makannya, baru aja dapat kesempatan duduk, udah diteriaki suruh buru-buru” gerutu salah seorang penumpang.</p>
<p>Akhirnya, perjalanan harus dilanjutkan menuju tempat tujuan masing-masing. Kecuali bagi yang mengendarai kendaraan pribadi atau travel arah Makassar, dapat lebih lama singgah di sana sambil menikmati pemandangan Gunung Bawakarraeng (atau yang lebih dikenal Gunung Lampo Batang oleh masyarakat sekitar) yang tampak dari depan rumah makan. Tinggallah sisa-sisa makanan penumpang yang masih berantakan di atas meja, wajah lelah para pegawai warung makan, serta wajah puas para penumpang yang masih harus melanjutkan perjalanannya. “Sampai bertemu lagi di lain waktu. Jangan lupa mampir ke Bawakarraeng jika ke Makassar atau Selayar” tutup sang kasir saat penulis membayar makan siang dan sedikit buah tangan siang itu. </p>
<p>Selayar, 16 Maret 2009</p>
<br /> Tagged: wisata kuliner <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=80&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/16/rm-bawakarraeng-penghilang-lapar-penumpang-selayar-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKHIRNYA DATANG JUGA</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/01/akhirnya-datang-juga/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/01/akhirnya-datang-juga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 07:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedang]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan jurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulilhahi rabbil ‘alamiin. Itulah ucapan pertama yang terucap saat membaca isi surat S-45/PB.13/2009 tanggal 27 Pebruari 2009 perihal Hasil Seleksi Peserta Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media. Namaku terdapat di antara 31 peserta yang lolos seleksi dari 155 peserta yang mendaftar dengan cara mengirimkan karya tulis jurnalistik sebagaimana yang dipersyaratkan. Lewat tulisanku yang berjudul “Manajamen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=59&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Alhamdulilhahi rabbil ‘alamiin</em>. Itulah ucapan pertama yang terucap saat membaca isi surat S-45/PB.13/2009 tanggal 27 Pebruari 2009 perihal Hasil Seleksi Peserta Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media. Namaku terdapat di antara 31 peserta yang lolos seleksi dari 155 peserta yang mendaftar dengan cara mengirimkan karya tulis jurnalistik sebagaimana yang dipersyaratkan. Lewat tulisanku yang berjudul “<strong>Manajamen Kas dalam Uang Persediaan</strong>” sebagaimana yang telah aku muat di blog ini pada tanggal 24 Pebruari 2009 dengan judul yang sama. Segala penantianku sejak 2007 akan hadirnya kesempatan ini untuk kedua kalinya akhirnya  selesai sudah.<span id="more-59"></span></p>
<p>Sekilas aku coba <em>flashback</em> apa yang terjadi di tahun itu terkait kesempatan untuk mengikuti kegiatan bimbingan teknis ini. Uraian apa yang dulu pernah terjadi ini tidak ada maksud sedikitpun untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang telah “menahanku” untuk berangkat ke Jakarta. Untuk itu tidak akan ada penyebutan nama, inisial, maupun jabatan yang bersangkutan. Jangan pula diartikan <em>flashback</em> ini menandakan tidak bersyukurnya aku atas kesempatan yang datang untuk kedua kalinya. Ini semata-mata hanya untuk menginformasikan kepada pembaca semua betapa aku telah lama menunggu untuk hadirnya kesempatan ini.</p>
<p>                                                                                            &#8212;000&#8212;</p>
<p> Senin, 27 Agustus 2007 pukul 16.02 WITA, tiba faks dari Kanwilku yang berisi surat dari Kepala Bagian Pengembangan Pegawai nomor S-162/PB.13/2007 tanggal 24 Agustus 2007 perihal Peserta Tambahan Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media. Di lampiran surat tersebut terdapat dua nama yang diikutsertakan sebagai peserta tambahan, satu namaku satunya lagi Muhammad Rusna pegawai dari Direktorat Sistem Perbendaharaan. Aku kaget kenapa tercantum namaku sebagai peserta tambahan bimtek jurnalistik. Bidang yang belum pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Tapi aku yakin, di sana ada seseorang yang lebih mengetahui tentang kapasitas aku sendiri sehingga mengundangku untuk dating ke Jakarta. Kekagetan berlanjut ketika mengetahui begitu tiba-tibanya surat ini datang ke kantor mengingat lusa, Rabu 29 Agustus 2007, harus sudah registrasi di Jakarta. Itu berarti besok aku harus sudah berangkat menuju Makassar yang memakan waktu perjalanan satu hari. Singgah malam di Makassar untuk melanjutkan penerbangan ke Jakarta esoknya tepat di hari registrasi. </p>
<p>Hanya perlu waktu beberapa menit, segala hal terkait dengan keberangkatan esok hari telah aku persiapkan. Tiket bis Selayar-Makassar sudah ditangan, berangkat esok pagi jam 08.00 WITA diperkirakan tiba di Makassar pukul 18.00 WITA. Tiket pesawat Makassar-Jakarta sudah di<em>booking</em> teman di Makassar yang akan dilunasi pembayarannya ketika aku berangkat esok pagi. Satu lagi persiapan yang belum aku selesaikan saat itu, yaitu membuat tulisan (bisa artikel, esai atau feature) terkait topik terkini tentang pelaksanaan tupoksi Ditjen Perbendaharaan. Masih ada cukup waktu nanti malam untuk membuat tulisan orisinal sesuai yang diminta, pikirku.</p>
<p>Menjelang malam, setelah mempersiapkan segala keperluan untuk dibawa esok, kumulai menuangkan sesuatu yang telah muncul di pikiran ke dalam baris-baris kalimat terstruktur mungkin. Cukup sulit ternyata membuat suatu tulisan yang benar-benar asli dari pemikiran kita. Apalagi dilakukan di kamar yang hanya diterangi beberapa batang lilin mengingat saat itu tepat terjadi pemadam listrik. Di Selayar pemadam listrik saat itu merupakan sesuatu yang sudah biasa terjadi mengingat sumber tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan satu kabupaten ini hanya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dimana 2 dari 4 mesin yang digunakan dalam keadaan rusak. Akhirnya tepat pukul 02.00 WITA, Selasa 28 Agustus 2007 selesai konsep tulisan yang kubuat di kertas folio. Listrik di kota telah mulai menyala kembali. Langsung kubergegas menuju kantor guna menyalinnya menggunakan komputer. Dingin malam mulai datang menyempurnakan gelap yang ada. Hanya beberapa ratus meter jarak rumah menuju kantor, namun dengan jarak sedekat itu sudah ketemukan puluhan anjing liar yang malam itu menjadi raja jalanan dengan tidur berbaring seenaknya di tengah jalan. Akhirnya tulisan bisa aku selesaikan tepat menjelang azan shubuh berkumandang. Segera kucetak hasilnya agar lengkap sudah semua persiapan berangkat. Meski rasa kantuk menggelayut berat setelah solat subuh, kucoba untuk tidak tertidur meski sejenak khawatir akan terlambat bis yang berangkat pukul 08.00 WITA dari terminal. Waktu kuisi dengan menyelesaikan pekerjaan untuk hari itu hingga waktu keberangkatan menjelang.</p>
<p>Tepat pukul 07.00 WITA, pagi-pagi sekali pejabat sementara kepala kantor saat itu datang ke kantor guna memberitahukan sesuatu kepadaku. Dia mengabarkan bahwa dia telah ditelepon oleh pejabat di Kanwilku untuk menahan keberangkatanku ke Jakarta dengan alasan ada sesuatu yang lebih penting. Entah sesuatu apa yang lebih penting bagiku saat itu daripada keberangkatanku ke Jakarta. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi demi mendengar berita itu. Begitu juga atasanku tadi. Meski sudah kejelaskan betapa sudah siapnya aku untuk berangkat saat itu juga. Begitulah resiko kami pegawai di daerah, yang tidak dapat berbuat banyak demi mempertahankan hak kami di sini jika “kebijakan” pejabat yang lebih tinggi berbicara lain.</p>
<p>Kepada siapa aku harus konfirmasi berita kegagalan keberangkatanku ini. Ke Kanwil? Tak mungkinlah itu aku lakukan mengingat perintah aku harus tetap di tempat datang langsung dari petinggi Kanwil saat itu. Pertama yang aku hubungi adalah keluarga kakak di Jakarta untuk memberitahukan hal ini mengingat mereka sudah aku beritahukan kedatanganku ke Jakarta lusa. Aku teringat seseorang lagi yang harus aku hubungi, yaitu pejabat di Pusat yang pernah menjadi dosenku di kampus dulu. Aku yakin bahwa undangan ke Jakarta itu atas sepengetahuannya mengingat pelaksanaan bimbingan teknis tersebut menjadi bidang tugasnya diperkuat lagi dengan paraf beliau yang tertera di surat undangan sudah kuhapal sekali. Kujelaskan semua kepadanya, mulai dari surat undangan yang kemarin kuterima, segala persiapanku yang sudah 100% siap berangkat, dan yang pasti kusampaikan juga mengenai perintah pejabat Kanwil yang menahan keberangkatanku. Sudah kuduga sebelumnya, beliau kaget mendengar penjelasanku. Arahannya saat itu adalah bahwa aku diminta untuk tetap di tempat sampai dia berhasil mengonfirmasi berita tersebut ke Kanwil dan memintaku untuk menghubunginya kembali beberapa menit kemudian. Selang waktu yang diminta, kuhubungi lagi beliau untuk mengetahui kabar selanjutnya. Ternyata pihak yang dituju di kanwil tidak berhasil dihubungi. Aku diminta untuk tetap menunggu di tempat untuk kabar selanjutnya. Aku hanya bisa menjelaskan bahwa di sini sudah mendekati waktu keberangkatan bis dan tak mungkin lagi aku harus menunggu untuk beberapa saat. Aku hanya bisa pastikan kepadanya bahwa bagaimanapun aku sebagai pegawai biasa hanya bisa patuh terhadap perintah atasan. Tak ada keinginan menghubunginya agar bisa membatalkan perintah tadi. Sengaja beliau kuhubungi semata-mata agar dia mengetahui alasan kenapa aku tidak memenuhi undangannya. Itu saja. Beliau bisa memahami hal itu, namun sepertinya belum bisa memahami alasan pihak kanwil. Memang aku tidak diminta untuk menghubunginya lagi, namun beliau menyatakan masih akan berusaha menghubungi salah seorang pejabat di Kanwil. Selang beberapa lama setelah dapat kupastikan bahwa bis Selayar-Makassar telah berangkat menuju pelabuhan, untuk kali ketiga aku hubungi beliau untuk memastikan bahwa aku masih di tempat demi mematuhi perintah atasan dan meyakinkan beliau bahwa tidak sedikitpun aku protes ke Kanwil meski dengan menelpon untuk mengetahui alasan pastinya perintah tersebut. Tak lupa aku sampaikan bahwa tulisan karya jurnalistik yang sudah aku buat semalam akan aku kirim ke e-mail beliau sebagai tanda keseriusan aku untuk mengikuti diklat tersebut. Hubungan per telepon dengan Pusat telah selesai sampai di situ.</p>
<p>Pukul 08.00 WITA lebih. Aku masih di kantor. Mencoba menenangkan diri meski dengan menahan rasa kantuk yang sangat. Telepon kantor berbunyi. Sekretaris tidak ada di tempat, aku yang menerima. Ternyata telepon dari sekretaris Kanwil. Suaranya jelas menunjukkan kekhawatiran. Ternyata ia hendak memastikan bahwa pegawai yang bernama Abdul Rahman tidak jadi berangkat ke Jakarta. Sepertinya ia merasa bersalah setelah mengirimkan faks tanpa sepengetahuan atasannya. Pertimbangannya adalah bahwa surat tersebut sangat penting untuk segera diketahui oleh pegawai yang diundang, maka ia berinisiatif mengirimkan secepatnya. Ternyata atasannya berkehendak lain. Dengan rasa gemuruh menahan emosi di dada, ku jawab kekhawatirannya dengan mengatakan untuk tidak usah khawatir karena orang yang sedang berbicara dengannya adalah orang yang dimaksud. Dengan rasa penasaran aku bertanya bagaimana mengenai undangan itu akhirnya. Sungguh tak disangka jawaban di seberang sana menambah bergetarnya dada ini. Kanwil sudah mengirimkan orang lain menggantikan aku. Ya Allah, kuatkanlah iman dan jiwa hamba-Mu ini. Aku sedang tidak mempertanyakan keadilan-Mu yang sudah sangat adil Tuhan, namun aku mempertanyakan keadilan dan kebijakan manusia yang ada di sana. Di mana rasa keadilan dan kebijakan seorang pejabat saat memutuskan sesuatu sebelum menanyakan bagaimana kesiapan yang bersangkutan untuk berangkat.</p>
<p>Hari sudah beranjak siang. Aku masih mengenakan pakaian yang aku gunakan sejak semalam. Setelah kuyakini pekerjaan untuk hari itu sudah selesai aku beranjak pulang untuk menenangkan diri sejenak bersama keluarga. Sesampainya di rumah, istriku sudah memahami apa yang terjadi. Itu terlihat dari rona mukaku yang merah padam menahan emosi. Kujelaskan segalanya. Ia hanya bisa berkata agar aku bisa bersabar menerima semuanya ini. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang Maha Menentukan segalanya. Semoga di balik semuanya ini ada hikmah yang terkandung. Dalam batinku membenarkan segala ucapannya. Dimanapun aku berada akan selalu ada Hikmah di sampingku, karena kaulah surgaku, kaulah istriku tercinta.</p>
<p>                                                                                            &#8212;000&#8212;</p>
<p>Kini hikmah yang terkandung dari peristiwa satu setengah tahun lalu terkuak sudah. Inilah buah penantian panjangku. Semoga Allah melancarkan perjalananku mendapatkan pengetahuan yang lain dari yang selama ini aku terima. Sebuah pengetahuan yang hanya bisa didapat dari para ahli yang kompeten di bidangnya.</p>
<p>Satu hal yang aku catat dari proses penyeleksian ini adalah betapa aku memuji perubahan langkah yang diambil Pusat mulai dari tahap mengumumkan di media yang dapat diketahui oleh seluruh pegawai DJPBN yakni melalui situs resmi DJPBN hingga tahap penyampaian hasil seleksi yang disampaikan langsung kepada kantor dimana terdapat pegawai yang lolos seleksi. Dengan demikian tidak perlu lagi kantor di daerah menunggu sampai datang surat dari kanwil. Apalagi sampai terjadi intervensi pihak kanwil untuk mengatur siapa yang bisa berangkat dan siapa yang tidak.</p>
<p>Selayar, 1 Maret 2009</p>
<br /> Tagged: pelatihan jurnalistik <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=59&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/03/01/akhirnya-datang-juga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DETIK-DETIK YANG TERINGAT</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/25/detik-detik-yang-teringat/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/25/detik-detik-yang-teringat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 14:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Rohimah. Usianya baru beranjak 45 tahun. Masih terlalu muda untuk seorang ibu rumah tangga yang telah melahirkan 7 anak dan memiliki 2 cucu. Dari 7 orang anaknya, tersisa 4 orang yang masih hidup. Sepenggal perjalanan kisah hidupnya berikut ini sempat terekam dalam ingatan anak ketiganya, Arman. Sabtu, 15 Nopember 2003, 62 hari menuju hari-H. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=38&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/02/ayah-ibu.jpg?w=141&#038;h=150" alt="ayah-ibu" title="ayah-ibu" width="141" height="150" class="alignleft size-large wp-image-136" />Namanya Rohimah. Usianya baru beranjak 45 tahun. Masih terlalu muda untuk seorang ibu rumah tangga yang telah melahirkan 7 anak dan memiliki 2 cucu. Dari 7 orang anaknya, tersisa 4 orang yang masih hidup. Sepenggal perjalanan kisah hidupnya berikut ini sempat terekam dalam ingatan anak ketiganya, Arman.<span id="more-38"></span> </p>
<p><strong>Sabtu, 15 Nopember 2003, 62 hari menuju hari-H</strong>. Arman selesai mengantarkan istrinya dari Rumah Sakit Bersalin Budi Kemuliaan Jakarta. Tak didapati ibunya setibanya di rumah sederhana itu. Si Ragil memberitahukan bahwa ibu mereka sedang menjenguk nenek yang dikabarkan sakit. Setelah pamit kepada sang istri, Arman bergegas menuju rumah neneknya yang memang tak jauh dari rumah ibunya. Didapatinya seoranak sedang memijat ibunya yang terbaring lemas di tempat tidur dengan mata terpejam. “Assalamu’alaikum”.  Ucapan salam Arman memaksa sang nenek membuka matanya dan si ibu menoleh ke arahnya. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, jawaban salam mereka kompak sekali. Persis seperti dua anak kembar menjawab salam. “Sakit apa nek?” Tanya Arman sambil mencium tangan sang ibu dan nenek. “Sudah biasa aja kok Man, lemas tiba-tiba”. Jawabnya lirih. “Oh iya, Bu. Tadi kandungan Hikmah di-USG. Alhmadulillah janinnya sehat-sehat aja. Kata dokter anak Arman belum bisa diketahui laki-laki atau perempuan, karena kelaminnya belum jelas terlihat.” Ibu Rohimah hanya mengangguk tanpa melepaskan pijatan pada tubuh ibunya. Tanpa komentar apapun tentang calon cucunya nanti. Entah  apa yang  sedang dipikirankannya. Apakah pikirannya sedang dipenuhi rasa gundah akan sakit ibunya. Neneknya pun demikian, diam seribu bahasa. Namun, sikap sang  neneknya itu dapat dimaklumi Arman mengingat sakit yang sedang dirasa.  Arman tampak bingung dengan sikap ibunya itu.  </p>
<p><strong>Jumat, 10 Januari 2003, 6 hari menuju hari-H</strong>. Setibanya Arman pulang dari tempat dinasnya di luar kota yang kebetulan tidak begitu jauh, ibunya sudah membuka pembicaraan.  “Man, ibu kok lagi kangen sama Hikmah. Coba besok kamu bawa dia datang kemari. Sekalian kamu beli asinan sayuran seperti biasa.” “Iya Bu, insya Allah besok Arman bawa kesini. Sudah lama kita tidak makan siang bersama-sama.” “Ingat, hati-hati naik motor. Istri kamu kan sedang hamil muda.” Si ibu mengingatkan Arman.   Istri Arman memang sejak awal usia kandungannya tinggal bersama orang tuanya di bilangan Jakarta Barat. Hanya sesekali dibawa main ke rumah orang tuanya. Sepertinya begitulah kebiasaan anak perempuan yang inginnya selalu dekat dengan ibunya ketika mengandung anak yang pertama. Tak jauh dari rumah keluarga istrinya memang terdapat warung asinan sayur kesukaan ibunya.   </p>
<p><strong>Sabtu, 11 Januari 2003, 5 hari menjelang hari-H</strong>. Siang harinya Arman tiba dengan membawa serta istrinya yang tengah hamil 3 bulan. Tampak senyum bahagia Ibu Rohimah saat melihat anak mantunya yang kelak akan memberikannya cucu ke-3 dari anak lelakinya. Dibawakan pula asinan sayur kegemaran ibunya. Memang nikmat sekali makan siang dengan asinan sayur yang pedas. Arman, memperhatikan betapa ibunya sangat menikmati sekali makan siang itu. Baginya, sepertinya inilah makan siang terindah bersama orang-orang yang disayanginya.  “Malam ini kamu harus tidur di sini ya.” Pinta Ibu Rohimah kepada kami berdua, sambil melanjutkan, “Biar nanti hari Senin pagi baru kamu kembali ke Rawa Belong diantar Arman sebelum berangkat kerja.” Kami berdua mengiyakan, karena memang seperti itulah waktu-waktu Arman diisi ketika liburan akhir pekan. Bolak balik antara Kebayoran Lama-Rawa Belong.  </p>
<p><strong>Minggu, 12 Januari 2003, 4 hari menjelang hari-H</strong>. Pagi ini Arman sudah bersiap-siap mengantar ibunya ke tempat hajatan teman lamanya. Jaraknya memang agak jauh, Ciledug. Sebenarnya kakak Arman, Jamal, yang tinggal tidak jauh dari rumah ibunya siap dan bersedia mengantarkan ibunya. Sang kakak berpendapat bahwa Arman harus dibiarkan menikmati hari-hari libur bersama istrinya saat di Jakarta, mengingat besok ia harus sudah kembali ke tempat kerjanya di luar kota dan meninggalkan istrinya. Tapi entah kenapa, sang ibu hanya mau diantarkan oleh Arman. </p>
<p>Sepulang dari tempat hajatan, ibunya meminta Arman mengantarkannya ke rumah neneknya. Ibunya mau berangkat bersama neneknya siang itu ke pangajian bulanan keluarga. “Nyak, aye gak ikut pengajian dulu kali ya. mau datang lihat ada acara besanannya tetangga. Aye mau lihat calon mantunya.” Memang ibunya Arman memanggil ibunya dengan sebutan Nyak atau Enyak.  Mendengar ucapan ibunya, Arman sedikit memprotes, “Loh, ibu kok malah mengorbankan acara pengajian demi melihat calon mantunya tetangga kita. Masak sih ibu lebih mementingkan urusan dunia dari pada urusan akhirat?” Mendengar protes cucunya, sang nenek hanya diam saja demi membenarkan ucapan Arman. Ibu Rohimah pun demikian. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkinkah ia menerima kekeliruannya atau malah sedikit marah dengan protes dirinya, pikir Arman dalam hati. Ah, semoga saja ibunya tidak marah dengan protesnya tadi. Arman pun pamit pulang setelah meninggalkan ibunya tetap di rumah neneknya.  </p>
<p>Malam harinya, kembali ibunya meminta Arman mengantarkannya ke rumah majikan ayahnya. Ibunya minta diantarkan untuk memelihara tali silaturahmi setelah majikan ayahnya itu telah datang ke rumahnya pada hari raya idul fitri tahun ini. Kali ini, keluarga mereka datang lebih dahulu daripada keluarga kami. Memang begitulah kebiasaan kami pada hari raya, saling mengunjungi satu sama lain. Setibanya di rumah yang dituju, kami menunggu beberapa saat di ruang tamu. Ibu tuan rumah sedang menyusui anaknya yang hendak beranjak tidur, sedangkan suaminya belum kembali pulang kerja. Tuan rumah keluarga ini memang masih terhitung saudara dengan ayah ibunya Arman. Keluarganya pun terkenal baik hati meski kepada orang lain. Termasuk kepada ayah Arman yang dibantu dengan dipercaya mengoperasikan angkot yang dibelinya. Saat itu ayahnya Arman sedang tidak memiliki pekerjaan semenjak angkutan bemo dilarang pemerintah untuk beroperasi di Jakarta. Alasan pemerintah, kendaraan bemo tidak manusiawi yang mengotori citra dan udara Jakarta. Sebuah alasan yang tampaknya dibuat-buat. Citra Jakarta sebagai ibukota tidak akan hilang dengan tetap hadirnya bemo, seperti halnya terlihat di New Delhi India. Demikian pula, seberapa besar asap bemo yang jumlah armadanya tidak seberapa banyak menyumbang polusi ibu kota dibanding dengan banyaknya kendaraan pribadi.  Sambil menunggu tuan rumah, ibunya asyik memperhatikan betapa besar dan bagusnya rumah saudaranya ini. Dia berkata kepada Arman, “Enak kali ya punya  rumah sebesar dan sebagus ini Man.” “Iya Bu. Tapi kan kalo punya kekayaan berupa rumah sebagus dan sebesar ini lebih lama pertanggungjawabannya di akhirat nanti. Banyak pertanyaan yang harus dijawab. Mending seperti kita sekarang, apa adanya aja Bu.” Ibunya mengangguk mengiyakan ucapan Arman. Kali ini Arman terlihat bahagia, bukan hanya karena ibunya mengiyakan ucapannya namun juga merespon ucapannya. Tidak lagi seperti tadi siang ketika dirinya memrotes ibunya yang hanya mendatangkan kebingungan di diri Arman. Sampai menjelang Arman dan ibunya pamit, tuan rumah laki belum juga pulang dari tempat kerjanya. Si istri tuan rumah mengabarkan, bahwa suaminya banyak pekerjaan malam itu. Dengan menitip salam kepada tuan rumah, mereka berdua pamit. Di perjalanan, ibunya kembali membicarakan mengenai betapa seharusnya kita mensyukuri harta yang kita miliki. </p>
<p><strong>Senin, 13 Januari 2003, 3 hari menjelang hari-H</strong>. Pagi-pagi sekali sebelum masuk waktu subuh Arman sudah mengantarkan istrinya kembali ke rumah orang tuanya di Rawa Belong. Sudah disepakati berdua bahwa untuk mengontrol keadaan sang istri, Arman akan pulang setiap hari Rabu dan Jumat setiap minggunya. Sebelumnya Arman hanya pulang setiap Jumat sore saja. Sekembali di rumah orang tuanya, Arman mendapati ibunya sedang melaksanakan solat shubuh. Begitupun ia langsung menunaikan solat shubuh sebelum terlambat tertinggal bis yang akan membawanya ke tempat kerja. Untuk mencapai tempat kerjanya, ia harus tiga kali berganti bis. Dari rumahnya menuju Slipi. Dari terminal bayangan Slipi menuju Cawang dan langsung menunggu bis arah Purwakarta. Setelah pamit biasanya sang ibu hanya mengantar sampai pintu rumah saja. Tapi tidak kali ini. Tidak seperti biasanya, subuh itu ibunya mengantarnya berangkat sampai ke pintu pagar belakang rumah. Seakan ingin lebih jauh mengantarkan anaknya kalau saja dia tidak ingat bahwa saat itu ia masih mengenakan pakaian solat. Sikap ibunya itu benar-benar membingungkannya. Benar-benar membuatnya berat meninggalkan ibu dan istrinya di Jakarta. Hal yang tidak dia temui pada hari-hari sebelumnya. </p>
<p><strong>Rabu, 15 Januari 2003, 1 hari menjelang hari-H</strong>. Sore ini selepas jam kerja seharusnya Arman kembali ke Jakarta sesuai janjinya pada sang istri. Diteleponnya sang istri untuk menyampaikan maafnya jika ia tidak bisa kembali ke Jakarta dengan berbagai alasan. Di seberang sana, si istri hanya bisa menerima alasan tersebut dengan penuh kekecewaan. Sebenarnya alasan kenapa Arman tidak ingin kembali sore itu ke Jakarta adalah berdasarkan hasil hitung-hitungannya pada malam sebelumnya.  Sebuah penghitungan yang kelak akan disesal seumur hidupnya. Setelah masuk waktu malam, Arman mulai dirasuki rasa bersalah karena telah membuat istrinya kecewa. Ia juga berpikir bahwa jangan-jangan ibunya juga kecewa atas ketidakhadirannya malam ini di Jakarta. Untuk melupakan rasa bersalah tersebut, segera ia pergi tidur demi membunuh waktu menunggunya hingga  Jumat sore tiba. </p>
<p><strong>Kamis, 16 Januari 2003, Hari-H</strong>. Pagi-pagi sekali HP Arman sudah berbunyi. Arman yakin saat itu pasti sekitar pukul 05.00. Karena memang pada pukul 05.00 itulah HP Arman sudah ter-switch on secara otomatis. Ternyata dari sang kakak di Jakarta. “Ibu sakit keras Man. Ini lagi mau dibawa ke rumah sakit. Cepetan pulang.” Suara kakaknya yang menahan sedih di sana. Sepertinya dia sudah menelpon berkali-kali sebelumnya namun baru bisa masuk setelah HP Arman dalam keadaan stand-by. “Iya Po, bawa aja cepetan ke rumah sakit. Arman setelah solat shubuh langsung ke sana.”  </p>
<p>Setelah sebelumnya pamit pada Kepala Kantor yang rumahnya tepat di depan mess yang Arman tempati, dia langsung menaiki bis yang menuju Jakarta yang memang jalurnya melewati depan rumah dinas atasannya itu. Dia bersyukur bisa mendapatkan bis secepat itu, biasanya pada jam pagi seperti ini belum begitu banyak bis yang beroperasi. Perjalanan bis Purwakarta-Jakarta ditempuh dalam waktu 2 jam. Dalam waktu selama itu Arman senantiasa memanjatkan doa untuk kesembuhan dan kekuatan ibunya yang sedang menghadapi musibah dunia yang paling besar ini. Sepanjang perjalanannya itu juga tak lepas dari panggilan masuk keluarganya di Jakarta yang menanyakan posisi dirinya saat itu. Di tengah doa yang selalu dipanjatkannya, kembali Arman menyesali ketidakkembalinya ke Jakarta kemarin sore. Arman mengingat kembali perhitungannya pada malam sebelumnya. Dia menghitung perbandingan biaya yang harus dikeluarkan jika kembali ke Jakarta dengan biaya jika seharusnya dia tetap di Purwakarta. Dari perhitungan tersebut menghasilkan surplus Rp. 9.000,-, artinya jika ia tidak kembali ke Jakarta, Arman bisa saving dari uangnya sebesar sembilan ribu rupiah. Sungguh perhitungan yang benar-benar akan disesali seumur hidupnya. Dia lupa betapa Rp. 9.000,- tidak akan bisa menggantikan kebahagiaan pertemuannya dengan istri dan keluarganya di Jakarta. Terlebih lagi, demi mempertahankan uang yang tidak seberapa, dia harus rela tidak menatap wajah ibunya untuk yang terakhir kalinya. “Oh, tidak!!! Ibu harus sembuh. Ibu tidak boleh meninggalkan Arman dulu.” Begitu batinnya memberontak akibat penyesalan yang menyudutkannya itu. Telepon dari kakaknya masuk. “Dimana Man?” “Masih di jalan tol, ibu gimana Kak? Arman mau bicara sebentar sama ibu Kak.” “Ibu sudah tidak bisa diajak bicara Man. Kamu hati-hati aja ya di jalan. Nanti dikabarkan lagi.” Bis yang membawanya dari Purwakarta tiba di daerah Cawang. Arman harus turun untuk mengganti kendaraan menggunakan taksi langsung menuju rumahnya. Di tengah perjalanan taksi kembali handphone Arman berbunyi. Kali ini kakak iparnya yang menelpon. Kakaknya awalnya menanyakan posisi sekarang berada. Arman heran kemana kakak kandungnya yang sejak awal selalu memantau posisinya. Hingga pada akhirnya, kakak iparnya menambahkan. “Man, ibu udah engga ada. Mohon diikhlaskan ya. Sekarang kamu langsung saja ke rumah sakit Pertamina. Di rumah engga ada siapa-siapa. Semuanya ada  di sini.” Arman seperti tidak bisa berbicara lagi demi mendengar kabar yang paling ditakutinya selama ini. Tak terasa air mata Arman menetes keluar. Betapa hancur hatinya membayangkan wajah ibunya yang tidak sempat ditatapnya pada akhir hidupnya. Terjawab sudah rasa herannya selama ini. Kenapa ibunya tidak merespon cerita pemeriksaan janin istrinya di RS. Arman menjadi tahu ternyata ibunya hendak menikmati saat-saat terakhir bersamanya dengan selalu minta diantar kemana saja, sampai-sampai mengantar kepergian Arman senin subuh itu. Yang Arman tidak tahu adalah kenapa ia membatalkan kepulangannya kemarin sore.</p>
<p>Selayar, 25 Pebruari 2009<br />
Untuk Ibu tercinta yang sedang beristirahat di sana.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=38&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/25/detik-detik-yang-teringat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rahmanjakarta.files.wordpress.com/2009/02/ayah-ibu.jpg?w=141" medium="image">
			<media:title type="html">ayah-ibu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MANAJEMEN KAS DALAM UANG PERSEDIAAN</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/24/manajemen-kas-dalam-uang-persediaan/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/24/manajemen-kas-dalam-uang-persediaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 23:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Pada hakikatnya pembayaran atas beban APBN tidak boleh dilakukan sebelum barang/jasa diterima. Demikian yang tercantum dalam pasal 21 ayat (1) Undang-Undang nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Hal ini dimaksudkan bahwa pengeluaran yang dilakukan negara benar-benar terjadi terhadap barang/jasa yang sudah diterima dan siap untuk dimanfaatkan. Dengan demikian, mekanisme pembayaran atas beban APBN [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=34&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Pada hakikatnya pembayaran atas beban APBN tidak boleh dilakukan sebelum barang/jasa diterima. Demikian yang tercantum dalam pasal 21 ayat (1) Undang-Undang nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Hal ini dimaksudkan bahwa pengeluaran yang dilakukan negara benar-benar terjadi terhadap barang/jasa yang sudah diterima dan siap untuk dimanfaatkan. Dengan demikian, mekanisme pembayaran atas beban APBN akan menggunakan sistem pembayaran langsung.<span id="more-34"></span></p>
<p>Namun tidak semua pengeluaran negara dapat dilaksanakan dengan pembayaran langsung, terutama untuk pengeluaran-pengeluaran insidentil yang jumlahnya relatif kecil.  Terhadap pengeluaran demikian, untuk kelancaraan pelaksanaan tugas kementerian negara/lembaga/satuan kerja kepada Pengguana Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dapat diberikan uang persediaan yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran.</p>
<p>Pengeluaran negara dengan menggunakan sistem pembayaran langsung jika dikaitkan dengan manajemen kas tentunya tidak mengakibatkan terjadinya idle money pada Bendahara Pengeluaran. Tapi tidak halnya pada mekanisme uang persediaan. Banyak terdapat idle money dengan diberlakukannya sistem pembayaran ini jika ditinjau dari peraturan yang ada. Sedangkan tujuan utama manajemen kas yang baik salah satunya adalah mengurangi terjadinya idle money pada Bendahara Pengeluaran.</p>
<p>Tulisan yang dibuat dalam rangka memenuhi persyaratan mengikuti seleksi Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media ini hendak menyoroti betapa peraturan yang ada tentang mekanisme uang persediaan masih menciptakan peluang lebih besar lagi terjadinya idle money pada Bendahara Pengeluaran. </p>
<p><strong>Pengertian Uang Persediaan<br />
</strong>Uang Persediaan yang selanjutnya disebut UP adalah uang muka kerja dengan jumlah tertentu yang bersifat daur ulang (revolving), diberikan kepada Bendahara Pengeluaran hanya untuk membiayai kegiatan operasional kantor sehari-hari yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. </p>
<p><em>An imprest fund is the method currently employed to allow an office to make reimbursements for small cash purchases or miscellaneous payments. This fund is replenished on a revolving basis when a reimbursement voucher is submitted to the Denver Finance Center (DFC).<br />
</em><br />
<strong>Mekanisme Penggunaan Uang Persediaan</strong><br />
Seluruh mekanisme penggunaan uang persediaan yang disebut berikut ini disarikan dari Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor PER-66/PB/2005 tanggal 28 Desember 2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.</p>
<p>Uang persediaan diberikan kepada bendahara berdasarkan SPM-UP yang diajukan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang dibebankan pada akun pengeluaran transito. Akun 825111 digunakan pengeluaran uang persediaan yang dananya berasal dari rupiah murni, akun 825112 digunakan untuk uang persediaan yang berasal dari Pinjaman Luar Negeri dan akun 825113 untuk uang persediaan yang dananya berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).</p>
<p>Uang persediaan dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran Belanja Barang dengan kategori 5211 (Belanja Barang Operasional), 5212 (Belanja Barang Non Operasional), 5221 (Belanja Jasa), 5231 (Belanja Pemeliharaan), 5241 (Belanja Perjalanan Dalam Negeri), dan 5811 (Belanja Lain-lain). Keseluruhan belanja barang tersebut merupakan belanja operasional kantor yang rutin ada setiap saat.<br />
Batas pemberian uang persediaan pun bervariatif tergantung pada jumlah dana dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) untuk masing-masing belanja barang yang diperkenankan UP. Untuk satker dengan pagu belanja barang yang bisa di-UP-kan sampai dengan Rp. 900.000.000,- maka besaran UP-nya adalah 1/12 pagu, maksimal dapat diberikan Rp. 50.000.000,-. Satker yang memiliki pagu Rp. 900.000.000,- sampai dengan Rp. 2.400.000.000,- maka besaran UP-nya adalah 1/18 pagu, maksimal dapat diberikan Rp. 100.000.000,-. Sedangkan bagi satker dengan pagu di atas Rp. 2.400.000.000,-, UP dapat diberikan sebesar 1/24 pagu, maksimal dapat diberikan Rp. 200.000.000,-. Ketentuan ini tidak bersifat rigid bagi satker, karena besaran tersebut dapat berubah berdasarkan ketetapan Direktur Jenderal Perbendaharaan.</p>
<p>Setelah dana UP dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari jumlah yang diterima, segala pengeluaran yang telah dilakukan dapat dilakukan penggantian untuk mengisi kembali dana UP sehingga saldonya kembali normal. Penggantian dana UP berlaku sekaligus sebagai pengesahan atas pengeluaran yang dilakukan. Pengajuan penggantian UP dilakukan dengan SPM-GU yang dilampiri Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB). Pembayaran yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu rekanan/penerima dengan menggunakan UP tidak boleh melebihi Rp. 10.000.000,- kecuali untuk pembayaran honor.</p>
<p>Dalam hal satker yang bersangkutan belum dapat mengajukan penggantian karena penggunaan belum mencapai 75%, sementara dibutuhkan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia, maka satker dimaksud dapat mengajukan permintaan Tambahan Uang Persediaan. Tambahan UP dimungkinkan sampai batas Rp. 200.000.000,- atau jika hendak melebihi batas itu harus mendapat dispensasi dari Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan setempat.</p>
<p>Sedangkan untuk penyediaan UP bagi dana yang berasal dari PNBP dapat diberikan sebesar 20% dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal Rp. 500.000.000,-. Apabila UP tersebut tidak mencukupi, dapat mengajukan Tambahan UP sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memperhatikan batas maksimum pencairan.</p>
<p><strong>Uang Persediaan dan Manajemen Kas<br />
</strong>	Langkah termudah untuk menghindari idle money adalah dengan melakukan pembayaran dengan sistem pembayaran langsung. Atau setidaknya mengurangi pembayaran dengan sistem uang persediaan jika masih belum dapat dihindari sistem tersebut. Banyak terdapat hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan manajemen kas yang baik dari pengaturan mekanisme UP sebagaimana disebutkan di atas.</p>
<p>Banyaknya kategori belanja barang yang dapat diperkenankan pengeluarannya dengan mekanisme UP mengakibatkan besarnya UP yang harus diberikan. Hal ini tentunya dapat memperbesar idle money di Bendahara Pengeluaran. Seharusnya ada pembatasan terhadap belanja barang yang dapat diperkenankan UP, misalnya terhadap belanja pemeliharaan (5231) dan perjalanan dinas (5241) yang jumlahnya melebihi Rp. 10.000.000,-. Untuk pengeluaran-pengeluaran tersebut seharusnya dilakukan dengan pembayaran langsung kepada pihak ketiga yang berhak atau yang melakukan perjalanan dinas. Mekanisme UP seharusnya juga tidak diterapkan terhadap akun 5811 (Belanja Lain-Lain) yang pada hakikatnya belanja tersebut tidak terkait langsung dengan operasional rutin kantor.	</p>
<p>Pengaturan batas pemberian UP sebenarnya sudah tepat dengan mengklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok batas maksimal UP yang dapat diberikan. Hanya saja pengaturan tentang batasan ini dapat dikecualikan berdasarkan permohonan satker yang bersangkutan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan. Seharusnya jika satker merasa bahwa jumlah maksimal UP yang dapat diberikan masih kurang untuk membiayai pengeluaran yang dilakukan melalui UP, mereka dapat mengajukan permintaan Tambahan UP. Pemberian disepensasi untuk dapat diberikan UP di atas batas maksimal yang telah ditetapkan menambah besar jumlah uang yang menganggur di dalam pengelolaan bendahara. Jika dikembalikan kepada konsep dasar, bahwa berapapun besarnya UP pada bendahara adalah merupakan idle money yang seminimal mungkin harus dikurangi jumlahnya.	</p>
<p>Ketentuan batas minimal penggunaan 75% dari UP yang diterima untuk dapat dilakukan penggantiannya juga tidak sejalan dengan manajemen kas yang baik. Di sana terdapat kemungkinan adanya idle money setidaknya 25% dari nilai UP. Jika terdapat satu satker yang memiliki nilai UP sebesar Rp. 200.000.000,- (batas tertinggi UP yang dapat diberikan), maka jika satker bersangkutan mengikuti ketentuan bahwa ia dapat meminta penggantian setelah UP minimal digunakan sebesar Rp. 150.000.000,- (75%) maka akan terdapat uang yang menganggur di tangan bendahara sebesar Rp. 50.000.000,- sampai satker yang bersangkutan mengajukan penggantian UP. Jumlah tersebut akan menjadi sangat fantastis ketika diasumsikan hanya 10% dari sekitar 21.972 satker yang ada dan memiliki UP Rp. 200.000.000,- menerapkan ketentuan penggunaan minimal 75%,  maka akan terdapat idle money untuk sekali pengajuan penggantian UP saja sebesar Rp. 109,85 milyar. Suatu jumlah yang sangat disayangkan jika dana tersebut tidak dipergunakan dan dibiarkan mengendap di tangan para bendahara. Oleh karena itu, seharusnya batas minimal UP yang sudah digunakan untuk dimintakan penggantiannya ditingkatkan pada batas antara 90-95% hingga hanya menyisakan idle money 5-10% dari UP. </p>
<p>Jumlah idle money yang disebabkan mekanisme UP lebih besar lagi terjadi pada pemberian UP untuk satker yang dananya berasal dari PNBP. Betapa tidak, mereka dapat diberikan UP sebesar 20% dari pagu dengan maksimal UP sebesar Rp. 500.000.000,-. Sementara untuk mempertanggungjawabkan dana UP yang diterimanya tersebut, satker bersangkutan harus menyertakan bukti setoran PNBP minimal sebesar UP yang diterima agar dana UP dapat diisi kembali sejumlah yang telah dibelanjakan. Waktu untuk mengumpulkan bukti setoran PNBP sejumlah yang ditetapkan biasanya berbeda-beda pada setiap satker PNBP. Namun tetap saja akan terdapat idle  money sampai terdapat bukti setoran PNBP. Untuk penentuan batasan UP dari PNBP ini seharusnya dapat mengikuti ketentuan untuk pemberian UP yang berasal dari dana rupiah murni atau bantuan luar negeri sebagaimana yang telah dibahas di atas.</p>
<p><strong>Penutup<br />
</strong>Dalam rangka pelaksanaan pembayaran atas beban APBN tidak dapat dihindari adanya pembayaran dengan menggunakan sistem Uang Persediaan disamping dengan menggunakan pembayaran langsung. Penggunaan sistem uang persediaan memungkinkan terjadinya idle money, karena pada hakikatnya uang persediaan itu sendiri adalah uang yang menganggur. Upaya menekan jumlah uang yang menganggur merupakan salah satu tujuan langkah pelaksanaan manajemen kas yang baik. Oleh karena itu perlu adanya peninjauan ulang terhadap peraturan mengenai uang persediaan menuju pelaksanaan manajemen kas yang baik. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=34&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/24/manajemen-kas-dalam-uang-persediaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NYAMBUNG GAK SIH&#8230;?</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/18/nyambung-gak-sih/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/18/nyambung-gak-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 14:09:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat Negara memerlukan pembiayaan untuk menutup deficit yang bukan berasal dari luar negeri, dilelanglah surat utang Negara ke pasar dengan seri FRxxxx. Contohnya, pada akhir Juli 2004 lalu SUN menyerap dana Rp 3,5 triliun dari lelang SUN berjangka waktu lebih dari 12 bulan seri FR0023 dari total obligasi yang akan diterbitkan pada tahun tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=24&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada saat Negara memerlukan pembiayaan untuk menutup deficit yang bukan berasal dari luar negeri, dilelanglah surat utang Negara ke pasar dengan seri FRxxxx. Contohnya, pada akhir Juli 2004 lalu SUN menyerap dana Rp 3,5 triliun dari lelang SUN berjangka waktu lebih dari 12 bulan seri FR0023 dari total obligasi yang akan diterbitkan pada tahun tersebut senilai Rp 32,5 triliun.</p>
<p>Keberhasilan mendapatkaan sumber pembiayaan lain di luar pinjaman luar negeri dengan menerbitkan SUN seri <strong>FRxxx</strong> tak dapat dilepaskan dari peran Kepala Pusat Manajemen Obligasi Negara Departemen Keuangan saat itu. Sehingga wajar saja jika ada yang mengaitkan penamaan SUN seri FRxxxx dengan <strong>Fuad Rahmany</strong> (FR), Kepala PMON saat itu.<span id="more-24"></span></p>
<p>Ketika pertama kali launching <strong>Modul Penerimaan Negara</strong> (MPN), terbayang di pikiran saya sebuah buku tebal yang memuat seluruh aspek penerimaan negara, mulai dari pengertian, jenis, mekanisme penerimaan Negara dan seluruh sistem yang terkait. Ternyata bayangan saya salah. Modul Penerimaan Negara adalah sebuah aplikasi penerimaan Negara  yang menggabungkan 3 aplikasi sebelumnya ada: Sispen pada Bank/KPPN, MP3 pada Ditjen Pajak dan EDI pada Ditjen Bea Cukai.</p>
<p>Terlepas dari itu semua, ternyata ada saja yang memelesetkan MPN, modul Penerimaan Negara menjadi <strong>Mulia Panusunan Nasution</strong> (MPN), yang saat launching aplikasi tersebut beliau menjabat Direktur Jenderal Perbendaharaan.</p>
<p>Pada saat diperkenalkan Rekening Tunggal Perbendaharaan atau <strong>Treasury Single Account</strong>, dimaksudkan agar manajemen kas pemerintah dapat dilakukan berdasarkan international best  practices. Dalam system TSA, seluruh penerimaan dan pengeluaran dilakukan melalui satu rekening pemerintah yang ada di bank sentral.   Saat ini, penerapan TSA dinilai berhasil meskipun banyak hal yang harus disempurnakan.</p>
<p>Terlepas dari itu, lagi-lagi ada saja yang punya ide untuk memelesetkan TSA dengan “<strong>Tata Suntara Action</strong>” untuk mereferns system tersebut dengan Tata Suntara yang saat itu menjadi Direktur Pengelolaan Kas Negara, unit Es 2 di DJPBN yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan system tersebut.</p>
<p>Demikian halnya terjadi di penghujung tahun anggaran 2008 ketika Kantor Pusat meminta data perkiraan realisasi anggaran dan rencana pencairan dana bulan Oktober, Nopember, dan Desember 2008. Untuk mendukung permintaan tersebut, dilaunchinglah sebuah aplikasi yang disebut <strong>PERAN 2008</strong>.</p>
<p>Terlepas dari terkait tidaknya Perkiraan Realisasi Anggaran dan Rencana Pencairan Dana 2008 dengan akronim PERAN 2008, sekali lagi tampaknya ada usaha untuk memelesetkan akronim PERAN dengan  “<strong>Pram</strong>”  yang saat itu menjabat sebagai Kepala Seksi Perencanaan Kas Direktorat Pengelolaan Kas Negara . Memang saat itu Wibawa Pram Sihombing, S.E., Ak. adalah orang yang paling berkompeten terkait permintaan data realisasi anggaran dan rencana penarikan dana.</p>
<p>Kini beliau sudah menempati pos barunya sebagai Pj. Kepala KPPN Tipe B Rantau Prapat berdasarkan SK Menteri Keuangan Nomor 915/KM.1/UP.11/2008 tanggal 24 Desember 2008. Posisinya digantikan oleh Moch. Abdul Kobir, SE, SST. AKT, MSi, M.Com yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Curtin University of Technology, Australia. Ah, jangan-jangan di TA 2009 ini akan ada lagi permintaan realisasi anggaran dan rencana penarikan dana dengan menggunakan aplikasi <strong>KOBIR 2009</strong>, kepanjangan dari <strong>KO</strong>ndisi <strong>B</strong>ulan<strong> I</strong>ni dan <strong>R</strong>encana penarikan dana 2009.</p>
<p>Terakhir yang mengusik naluri keisengan saya adalah ketika dibentuknya Direktorat <strong>Sistem Manejemen Investasi</strong> (SMI) berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.01/2008, direktorat baru yang merupakan koalisi “partai PDI” dengan “partai PPP”. Entah kenapa tiba-tiba pikiran iseng saya kembali melayang bertanya-tanya apa hubungannya Bu Menteri <strong>Sri Mulyani Indrawati</strong> (SMI) terkait dibentuknya Direktorat Sistem Manajemen Investasi (SMI). Ah, semoga hanya kebetulan saja.</p>
<p>Pada akhirnya, seandainya 2014 nanti saya mendapat amanah menempati pos di Bagian Pengembangan Pegawai saya akan membuat aplikasi atau system <strong>Receipe And Hint of Management of Anger and Negotiation</strong> yang saya singkat RAHMAN2014.</p>
<p>Semoga.  Semua ini hanya tulisan santai saja. Mungkin seperti Kelirumologi-nya Om Jaya Suprana. Tidak ada maksud merendahkan seseorang pejabat atau institusi. Sekalipun ada yang tersinggung, mohon dimaklumi.</p>
<p>Selayar, 18 Pebruari 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=24&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/18/nyambung-gak-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PELAYANAN PRIMA DI TENGAH KETERBATASAN PERSONIL</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/18/pelayanan-prima-di-tengah-keterbatasan-personil/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/18/pelayanan-prima-di-tengah-keterbatasan-personil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 02:28:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 11 Januari 2009 pukul 19.00 WITA, dalam suatu acara yang sarat dengan rasa kekeluargaan KPPN Benteng secara resmi melepas kepergian beberapa pegawainya yang akan melaksanakan tugasnya di tempat yang baru. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor KEP-10/PB/UP.9/2008 tanggal 24 Desember 2008, Surat Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor KEP-11/PB.1/UP.9/2008 tanggal 24 Desember 2008 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=20&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 11 Januari 2009 pukul 19.00 WITA, dalam suatu acara yang sarat dengan rasa kekeluargaan KPPN Benteng secara resmi melepas kepergian beberapa pegawainya yang akan melaksanakan tugasnya di tempat yang baru. Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor  KEP-10/PB/UP.9/2008 tanggal 24 Desember 2008, Surat Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor  KEP-11/PB.1/UP.9/2008 tanggal 24 Desember 2008 dan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor  KEP-0143/WPB.23/BG.0101/2008 tanggal 23 Desember 2008 terdapat 5 (lima) pegawai KPPN Benteng yang dialihtugaskan. Mereka yang meninggalkan KPPN Benteng dengan segala suka dukanya adalah : Mir Azwan, SH (Kasubbag Umum), Syarifuddin, S.E. (Seksi Pencairan Dana), Edi Suwarno (Seksi Pencairan Dana), Wiwik Setiya Karyawati (Seksi Bendahara Umum) dan Lalu Fauzul Muna (Sub Bagian Umum).</p>
<p><span id="more-20"></span></p>
<p>Praktis, kepergian mereka semua akan menambah rasa sepi suasana kantor yang memang sejak semula dengan jumlah yang ada sudah terasa sepi. KPPN Benteng sebelumnya memiliki 17 orang pegawai dengan perincian : 1 kepala kantor, 1 kasubag umum dan 3 kepala seksi, serta 11 orang pelaksana aktif dan 1 pelaksana yang sedang tugas belajar. Dengan surat keputusan tersebut di atas, kini komposisi pegawai KPPN Benteng menjadi 13 pegawai  dengan rincian: 1 kepala kantor, 1 subbagian umum, 3 kepala seksi, 7 pelaksana aktif, dan 1 pelaksana yang masih melaksanakan tugas belajar. Ketujuh pelaksana aktif tersebut tersebar kepada : 3 pelaksana di Sub Bagian Umum, 2 pelaksana di Seksi Pencaiarn Dana, 1 pelaksana di Seksi Bendum dan 1 pelaksana pada Seksi verifikasi dan Akuntansi.</p>
<p>Sebagai ujung tombak bagi satker yang dilayani, jumlah personil yang hanya 2 pelaksana pada Seksi Pencairan Dana sangatlah dirasa kurang mengingat KPPN Benteng telah menerapkan standard and operating procedure (SOP) KPPN Percontohan sebagaimana yang telah diterapkan pada KPPN di berbagai kota besar. Dalam SOP KPPN Percontohan, SPM yang diajukan oleh Satker harus dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam setelah SPM tersebut diterima oleh bagian front office secara benar dan lengkap. Beratnya tugas personil di Front Office KPPN Benteng juga di berbagai seksi lainnya akan lebih terasa pada saat dimana satker sudah mulai mengajukan permintaan SPM, baik untuk keperluan operasional satkernya maupun untuk kegiatan kontrak yang telah direncanakan sebelumnya. Keadaan tersebut diperkirakan terjadi pada awal bulan Pebruari 2009 dan seterusnya hingga menjelang akhir tahun anggaran 2009.</p>
<p>Terlepas dari ada tidaknya penambahan jumlah pegawai di masa yang akan datang, para personil KPPN Benteng yang ada saat ini telah berkomitmen untuk melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada satker dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan semboyan yang kami pasang di salah satu sudut ruangan kantor “Senyuman Anda Komitmen Kami”.</p>
<p>Untuk menumbuhkan kebersamaan dari personil yang ada, seringkali kami melaksanakan kegiatan di luar kedinasan yang dibalut dalam suasana kekeluargaan, seperti acara pengajian rutin setiap bulan, olah raga bersama setiap Jumat, pergi berwisata ke pantai yang ada di Selayar sambil bakar ikan, maupun makan jagung bersama-sama di saat musim jagung tiba.</p>
<p>Selayar, 18 Pebruari 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=20&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/18/pelayanan-prima-di-tengah-keterbatasan-personil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SURAT UNTUK KEPALA KANTOR TENTANG GKM</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/16/surat-untuk-kepala-kantor-tentang-gkm/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/16/surat-untuk-kepala-kantor-tentang-gkm/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 15:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Yth. Bapak Kepala KPPN Benteng Salam Sejahtera Saya berterima kasih sekali bahwa kegiatan gugus kendali mutu telah dapat dilaksanakan untuk pertama kalinya. Namun belajar dari kegiatan yang pertama kali, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebagai masukan guna meningkatkan kualitas kegiatan GKM di kantor kita. Pertama, Penetapan Kepanitiaan. Kepanitiaan kegiatan GKM ini hendaknya dibakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=16&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yth. Bapak Kepala KPPN Benteng </strong></p>
<p>Salam Sejahtera</p>
<p>Saya berterima kasih sekali bahwa kegiatan gugus kendali mutu telah dapat dilaksanakan untuk pertama kalinya. Namun belajar dari kegiatan yang pertama kali, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebagai masukan guna meningkatkan kualitas kegiatan GKM di kantor kita.   <strong></strong><span id="more-16"></span></p>
<p><strong>Pertama, Penetapan Kepanitiaan</strong>. Kepanitiaan kegiatan  GKM ini hendaknya dibakukan dalam bentuk nota dinas kepala kantor yang bersifat mengikat untuk jangka waktu sampai dengan ada keputusan baru. Nota dinas dikeluarkan sekali saja pada saat awal pembentukan. Hal ini diperlukan untuk memberikan aspek legalitas kepada setiap pegawai yang ditunjuk. Penunjukan pegawai melalui nota dinas untuk setiap kali melaksanakan GKM (seperti yang selama ini dilaksanakan) akan menjadi tidak efisien.</p>
<p><strong>Kedua, Susunan Kepanitiaan</strong>. Melihat nota dinas yang berlaku dalam jangka waktu tak tentu, maka susunan kepanitian yang akan dibentuk dapat berlaku umum untuk setiap pelaksanaan GKM dan mencakup seluruh bidang yang akan di-GKM-kan. Susunan kepanitian, misalnya, dalam bentuk seperti ini:</p>
<p style="text-align:center;">Ketua 					                        : Edi Nuryadi</p>
<p style="text-align:center;">Sekretaris					                        : Suhendar</p>
<p style="text-align:center;">Bidang Penerimaan dan Cash Forecasting	: I. Kalla, SE (Ketua) 			  	 		                          Achmad DjunAidi (Anggota)</p>
<p style="text-align:center;">Bidang Pengeluaran				                : Akhmadi, SE (Ketua) 			  	 		                          Abdul Rahman, SST. Akt (Anggota)</p>
<p style="text-align:center;">Bidang Akuntansi dan Aplikasi 			: Drs. Koencara Boedi Sambodo (Ketua) 				  		                          M. Rosyid Ridho (Anggota) 				 		   Tino Adi Prabowo (Anggota)</p>
<p style="text-align:center;">Bidang Keuangan, Kepegawaian dan Umum	: Budiarto, SIP (Ketua) 						  Anthon Misalayuk (Anggota) 						  Supriyanto, SE (Anggota)</p>
<p style="text-align:left;">Perlu disampaikan bahwa seseorang yang menjadi anggota suatu bidang tidak terpaku hanya dapat mempresentasikan bidangnya. Yang bersangkutan dapat saja membuat bahan GKM menyangkut bidang lainnya sepanjang ia memang menguasainya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Ketiga, Uraian Tugas Kepanitiaan</strong>.  Uraian tugas panitia GKM sebagai berikut. Ketua bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan GKM dan hasil GKM yang disampaikan kepada beberapa pihak eksternal terkait. Sekretaris bertugas menyusun jadwal pelaksanaan GKM untuk satu periode tertentu misalkan satu tahun anggaran dan menetapkan person in charge untuk setiap pelaksanaan GKM. Sekretaris juga bertugas menyusun konsep surat beserta mengumpulkan bahan yang akan disampaikan kepada pihak eksternal. Masing-masing ketua bidang beserta anggotanya bertugas menyiapkan bahan yang akan di-GKM-kan sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Penyiapan segala peralatan guna mendukung presentasi GKM juga merupakan tugas tim yang akan tampil.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Keempat, Pelaksanaan GKM</strong>. Untuk memberikan kesempatan kepada tim yang akan mempresentasikan tulisannya, kegiatan GKM hendaknya dilakukan dalam rentang waktu satu bulan sekali. Mengenai urutan pelaksanaan presentasi dapat ditetapkan secara langsung pada saat sekretaris menyusun jadwal. Waktu pelaksanaan sebaiknya dipilih waktu di mana seluruh pegawai dapat mengikuti acara tersebut. Pelaksanaan GKM sebaiknya dilaksanakan dalam waktu  yang relative tidak terlalu lama, misalkan 1,5 jam termasuk  penyajian dan tanya jawab.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Kelima, Bahan Presentasi</strong>. Bahan yang akan dipresentasikan dapat berupa hasil penemuan baru terhadap aplikasi, prosedur kerja maupun ketentuan perundang-undangan. Tulisan dapat pula berisi uraian mengenai aplikasi baru yang perlu diketahui oleh seluruh pegawai atau kritisi terhadap peraturan perundang-undangan yang ada.  Demikian beberapa hal dapat saya sampaikan. Semoga dapat membantu Bapak dalam melaksanakan tugas memimpin kantor ini. Jika terdapat saran yang salah atau kurang berkenan kami mohon untuk dimaklumi.</p>
<p style="text-align:left;">Wassalam</p>
<p style="text-align:left;">Selayar, 16 Pebruari 2009</p>
<p style="text-align:left;">Abdul Rahman, SST. Akt.</p>
<p style="text-align:left;">NIP. 060089216</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=16&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/16/surat-untuk-kepala-kantor-tentang-gkm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PANASNYA AYAM GORENG SUHARTI</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/16/panasnya-ayam-goreng-suharti/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/16/panasnya-ayam-goreng-suharti/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 14:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sedang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Handphone-ku berbunyi nada masuk sebuah pesan saat hendak menaiki tangga pesawat. Sengaja tidak kubuka dulu HP-ku karena menunggu hingga nanti setelah kudapatkan nomor kursi yang tertera di boarding pass tiket Jakarta-Makassar. Setelah mendapatkan kursiku yang ternyata lagi-lagi berada di kursi dekat jendela, tempat favoritku setiap melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, aku letakkan tas laptop di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=11&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Handphone</em>-ku berbunyi nada masuk sebuah pesan saat hendak menaiki tangga pesawat. Sengaja tidak kubuka dulu HP-ku karena menunggu hingga nanti setelah kudapatkan nomor kursi yang tertera di <em>boarding pass</em> tiket Jakarta-Makassar. Setelah mendapatkan kursiku yang ternyata lagi-lagi berada di kursi dekat jendela, tempat favoritku setiap melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, aku letakkan tas <em>laptop</em> di bawah kaki dan memasang <em>seat belt</em> dengan benar. Memang aku biasa meletakkan tas berisi <em>laptop</em> di bawah kaki bukan di kabin untuk menghindari  penumpukan dengan barang bawaan penumpang lain yang tidak mengetahui isi tasku. Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Harus kuakui betapa disiplinnya jadwal penerbangan maskapai yang aku tumpangi ini. Setelah bisa duduk dengan tenang baru aku mulai mengingat-ingat betapa melelahkannya kegiatanku hari ini.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;000&#8212;</p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<p>Ya, aku baru saja menghadiri undangan teman-teman di Jakarta yang mengadakan acara makan siang di sebuah rumah makan. Sekaligus aku manfaatkan kesempatan ke Jakarta ini untuk berkonsultasi langsung dengan salah seorang pejabat di Pusat yang menangani urusan beasiswa S2 ADS. Kebetulan sekali, berbarengan dengan keberangkatanku ke Jakarta aku  dikabari seorang teman bahwa beasiswa S2 ku disetujui pihak ADS. Aku harus menyelesaikan masa <em>English for Academic Purpose</em> (EAP) di Bali selama 3 bulan sebelum akhirnya berangkat ke <em>University of Melbourne</em> di negara bagian Victoria, Australia. Kabar bahagia ini juga akan aku sampaikan langsung kepada saudara-saudara dan ayahku sendiri, satu-satunya orang tuaku yang masih ada.</p>
<p>“Selamat ya Man, akhirnya kamu berhasil juga mengikuti jejak teman-teman kita meraih beasiswa S2.” Begitulah di antaranya sambutan pertama dari teman-teman setibanya aku bertemu mereka semua di restoran itu. Disusul dengan ucapan selamat dari yang lainnya yang sudah hadir siang itu. Aku lihat di sana sudah ada sekitar 25 orang yang bertebaran di berbagai meja makan. Di sebuah meja makan kulihat teman-teman wanita yang kesemuanya menggunakan jilbab. Di balik jilbab yang mereka kenakan, ada beberapa orang yang tidak dapat aku kenali karena sudah lama tidak pernah bertemu mereka. Aku mengambil posisi duduk di meja tengah. Di sana sudah ada Bagas Restupati yang tadi menyambutku pertama kali, juga 4 orang temanku lainnya.</p>
<p>“Bud, thanks ya atas undangannya. Kamu sebar undangan macam ini ke <em>e-mail</em> masing-masing kan?” Aku membuka pembicaraan dengan berterima kasih kepada Budi Prakosa, penggagas acara ini. Aku memang mengagumi caranya mengundang hanya lewat <em>e-mail</em>, bukan diumumkan secara terbuka melalui milis yang kita punya. Tidak juga melalui <em>custome message</em> pada status Gtalk. Pikirku cara menyebar undangan terbatas seperti ini melalui milis atau Gtalk akan menyinggung perasaan banyak teman-teman di daerah. Betapa tidak, ketika mereka sedang menghadapi kehidupan yang serba terbatas fasilitas dan hiburan di daerah terpencil, mereka dipaksa menyaksikan beberapa rekannya berkumpul di sebuah restoran terkenal di ibukota dengan satu acara : makan bersama, tak ada yang lainnya.</p>
<p>“Man, setelah nanti kamu selesai S2, siap-siap bergabung bersama kita di Pusat. Kita wujudkan mimpi pendahulu kita membentuk DJPBN yang lebih profesional, <em>we build great people and great services</em>. Ingat loh, yang kita bangun DJPBN bukan yang lainnya.” Begitulah ucapan Bagas Restupati kepadaku begitu antusias dengan sedikit terdengar nada peringatan.</p>
<p>“Ah kamu terlalu berlebihan Gas. Belum juga berangkat sudah disambut begitu. Tapi terima kasih loh.” Sejenak aku berpikir, sebatas itukah tujuan aku bersusah payah mengejar S2 hingga ke luar negeri. Sebuah jabatan sebagai <em>front line manager</em> di kantor Pusat. Pantaskah aku mendapatkannya. Sepertinya aku tidak yakin aku bisa menjalankan amanah yang terlalu berat itu. Aku teringat teman yang seselesainya S2 UGM hingga kini masih menjadi pelaksana di KPPN. Entah apa yang terjadi padanya. Menurutku, dialah yang lebih berhak mendapatkannya terlebih dahulu. Kurang apa dia. Kemampuan, kapabilitas, kinerja sudah dia buktikan. Ditambah lagi loyalitas yang sudah dia tunjukkan dengan masih tetap setia terhadap institusinya.</p>
<p>Bagas Restupati masih antusias berbicara betapa pentingnya sikap pengabdian kepada institusi yang telah memberikan kita kesempatan untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Seakan tersadar dari lamunanku, secara spontan aku potong ucapan Bagas.</p>
<p>“Gas, kalau mau bicara loyalitas, tidak usah lagi lah aku ceritakan betapa setianya aku terhadap DJPBN saat salah seorang Kasubdit di DJA mengajakku begabung menjadi anak buahnya. Aku ingat saat itu aku baru saja menyelesaikan pendidikan D IV atas kesempatan yang diberikan institusi kita. Apalagi nanti jika aku sudah berhasil menyelesaikan S2. Pantaskah kita berpaling dari institusi yang sudah membiayai pendidikan sampai setinggi itu.” Nada suara kutinggikan pada bagian terakhir kalimatku. Sengaja kulakukan itu demi melihat Irfan Muhammad di seberangku. Dia adalah salah seorang penerima beasiswa S2 DJPBN yang kini berkarir di luar DJPBN. Semua terdiam demi mendengar ucapan terakhirku. Terlebih lagi Irfan Muhammad. Tapi bukan maksudku untuk membuat suasana menjadi seperti ini. Aku berharap dia bisa menyampaikan argumennya sendiri mengapa dia harus hengkang dari DJPBN. Meski berkiprah di luar DJPBN tetapi masih tetap memberikan kontribusi terhadap Departemen Keuangan secara umum. Begitulah kira-kira alasan yang sering aku dengar.</p>
<p>Di tengah kebisuan itu, tiba-tiba pelayan restoran datang dengan membawa makanan siang kita saat itu. Menunya adalah nasi putih hangat ditambah dengan ayam goreng yang sudah terkenal kelezatannya seantero Jakarta. Selain ayam goreng ada juga yang memesan ayam bakar. Pesananku adalah nasi putih dan ayam bakar dengan minuman jus jeruk. Sengaja aku tidak memesan ayam goreng, karena bagiku ayam goreng di Selayar justru yang aku rasakan paling nikmat sampai saat ini. Dan aku tidak mau kenikmatan ayam goreng Selayar itu aku gantikan dengan ayam goreng restoran ini. Sambil menyantap menu makan siang yang ada, aku teringat tentang nasib beasiswa S3 teman yang duduk di sebelahku, Syafi’ie Salim, yang katanya tidak berhasil tembus.</p>
<p>“Syafi’ie, semoga kamu tidak putus asa kali ini. Lain waktu pasti kesempatan itu tiba padamu.” Ucapku memberikan dia semangat untuk terus mencoba. Aku juga heran kenapa orang se-<em>smart</em> Syafi’ie Salim tidak berhasil tembus beasiswa S3-nya. Sempat aku menduga bahwa ketidaklolosannya itu lantaran pada saat pengajuan beasiswa S3 dia masih menjabat sebagai Kepala Seksi Perbendaharaan di KPPN. Jabatan kepala seksi di KPPN bukanlah jabatan pengambil keputusan. Sementara  ADS mempersyaratkan bahwa pemohon beasiswa S3 diharuskan berposisi sebagai pembuat keputusan (<em>policy maker</em>), peneliti atau dosen.“Jabatan eselon IV pada DJPBN memiliki dua karakteristik yang berbeda, tergantung pada lokasi unit eselon IV tersebut dalam struktur organisasi. Sebagai bagian dari struktur Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan, pejabat eselon IV adalah anggota perumus inti dari kebijakan-kebijakan teknis sedangkan para pejabat eselon IV di daerah (khususnya di KPPN) adalah ujung tombak dalam pengimplementasian kebijakan teknis yang dibuat Kantor Pusat.” Begitulah pendapat petinggi DJPBN yang aku kutip dari situs resminya. Kini Syafi’ie Salim sudah berpindah tugas sebagai Kepala Seksi di Direktorat Pelaksanaan Anggaran. Semoga posisinya itu memudahkannya mendapatkan beasiswa S3 tahun berikutnya.</p>
<p>Makan siangku telah bersih kuhabiskan. Tinggal setengah gelas jus jeruk yang masih tersisa. Aku permisi kepada teman-teman untuk ke toilet dan menumpang solat zuhur di ruangan istirahat para karyawan restoran. Seselesainya solat, Wahyu Mustari yang duduk di kelompok lain meja memanggilku untuk bergabung di meja makannya. Mereka juga sepertinya sudah menghabiskan makan siangnya. Sambil menikmati sisa minuman, mereka tengah asyik mengobrol.</p>
<p>“Kalau menulis cerita bisa kan tidak pakai bermimpi segala. Hadapilah segalanya di alam realita yang ada. Jangan beraninya bersembunyi di balik mimpi dan peran yang kau cipta.” Begitulah Wahyu Mustari mengomentari tulisan yang pernah aku muat di milis kami. Kritikan senada atas tulisan aku memang banyak disampaikan teman-teman. Mereka menilai aku “pengecut” dengan hanya menampilkan orang lain sebagai tameng. Aku dianggap tidak berani menghadapi kritikan lantaran tulisan yang dibuat hanya mimpi belaka. Aku memang selalu memberikan argumen atas berbagai pujian dan kritikan teman-teman dengan mengatakan untuk apa menciptakan pro-kontra atas tulisan yang hanya berupa mimpi-mimpi. Tapi aku pun memberikan janji kepada mereka bahwa suatu saat aku akan menulis sesuai dengan kenyataan yang ada dan dengan berani memunculkan karakter aku sendiri. Kulakukan itu untuk menghindari ragam persepsi atas tulisan yang sifatnya ke-aku-an, istilah salah seorang temanku yang kini ada di Jerman. Tapi entah apa aku bisa melakukan itu mengingat ke depannya aku akan disibukkan dengan urusan menyelesaikan pendidikan S2 yang merupakan bagian dari mimpi-mimpiku.</p>
<p>“Thanks Bos atas masukannya. <em>By the way</em>, tadi pagi sebelum kesini aku menemui atasan kamu. Kok engga ada kamu di sana ya?”</p>
<p>“Oh… sepanjang pagi tadi sampai siang ini memang aku lagi ada tugas di luar. Sudah disampaikan semua yang ingin dikonsultasikan?” 	Aku memang menemui atasan Wahyu Mustari untuk mengonsultasikan persiapan kegiatan pematangan bahasa Inggris sebelum keberangkatan aku ke Australia dan segala hal lainnya terkait S2 aku. Disamping itu aku juga menanyakan kepadanya tentang kebijakan apa yang telah diambil Bagian Pengembangan Pegawai terhadap beberapa tenaga potensial di berbagai KPPN dan Kanwil yang ternyata tidak pernah bisa lulus <em>assessment test</em>. Apakah mereka yang dinilai potensial namun karena satu dan lain  hal gagal saat mengikuti tes assessment akan mendapat stigma yang sama sebagai pegawai yang tidak memiliki kapabilitas dan soft competency memadai untuk menduduki suatu jabatan tertentu. Lantas langkah apa yang sudah diambil oleh Bagian Pengembangan Pegawai guna meningkatkan <em>soft competency</em> seorang pegawai agar kemudian hari jika dilakukan lagi assessment test terhadap pegawai yang pernah gagal, mereka dapat keluar dari trauma bayang-bayang kegagalan untuk kesekian kalinya. Aku juga menanyakan kebenaran rumor yang berkembang bahwa pegawai yang tidak lulus mengikuti assessment test jangan berharap dapat masuk ke Pusat. Untuk berbagai hal yang aku konsultasikan dan tanyakan, atasan Wahyu Mustari menjelaskan dengan panjang lebar. Tapi tidak untuk hal yang terakhir aku tanyakan, karena itu bukan kewenangannya lagi katanya.</p>
<p>Waktu sudah beranjak menuju jam 1.15 siang. Sepertinya semuanya yang hadir sudah puas dengan jamuan makan siang kali ini dan siap-siap kembali ke kantornya masing-masing. Kecuali aku yang sedang cuti dan beberapa teman S2 UGM yang memang sedang menikmati masa liburan semesteran mereka. Berbagai kegiatan mereka lakukan di liburan yang cukup panjang ini. Ada yang magang di kampus UGM sehingga akhirnya dia bisa tahu seluk beluk penerimaan beasiswa S2 UGM. Ada yang kembali ke kantor asalnya untuk bantu-bantu teman karena diminta. Ada juga yang liburannya diisi dengan mencari tempat-tempat pemancingan baru yang lebih menantang. Aku jadi teringat Dudit Widodo di TransTv yang selalu mencari tempat-tempat ekstrem menyalurkan hobinya. Ada-ada saja kegiatan temanku ini pikirku.</p>
<p>Makan siang yang sangat berkesan bagiku. Entah kenapa salah seorang temanku tadi berbisik. “Ah, acara makan siang yang membosankan, garing. Masing-masing orang sibuk dengan obrolannya yang tidak bertema.” Begitu katanya sembari pamit padaku. Tapi bagiku tidak membosankan. Betapa aku bisa membuktikan bahwa tidak benar telah terjadi dikotomi DJA-DJPBN seperti yang selama ini aku dengar. Buktinya, semua BO 97 yang berasal dari DJA hadir atas undangan teman-teman DJPBN. Juga tidak benar ada dikotomi Pusat-Daerah. Terbukti, aku yang berasal dari daerah juga turut hadir. Jika tidak banyak perwakilan daerah yang hadir, itu hanya masalah jauhnya lokasi dan kesibukan masing-masing saja.</p>
<p>Waktu masih banyak sebelum aku berangkat menuju bandara untuk mengejar jadwal penerbangan pesawat pukul 09.00 malam nanti. Segera aku menuju ke rumah orang tuaku yang berjarak kurang lebih 20 km dari kawasan Thamrin ini. Banyak yang harus aku temui di sana, selain orang tuaku. Tak lebih dari 45 menit aku sudah tiba di rumah yang selama ini menjadi saksi tumbuh besarnya diriku. 	Ternyata di sana sudah berkumpul semua saudaraku. Mulai nenekku dari ayah maupun nenekku dari ibu, dua orang kakak dan seorang adikku lengkap dengan keluarga besarnya, tak lupa tentunya ayahku. Rupanya mereka sudah lama menunggu kedatanganku di sana. Memang informasi kedatanganku ke Jakarta kali ini aku buat seumum mungkin diketahui semua saudara kerabatku lewat SMS yang aku kirimkan ke mereka. Tidak lagi memberikan <em>surprise </em>seperti yang pernah aku lakukan dulu. Datang begitu saja dengan tiba-tiba muncul di halaman rumah mereka. Mereka mengetahui bahwa pesawatku mendarat di Jakarta pukul 09.00 WIB. Kusapa dan kucium semua tangan mereka, tentunya tidak kepada adikku dan suaminya.</p>
<p>“Katanya pesawatnya mendarat jam sembilan, kenapa baru sekarang muncul?” Itulah yang ditanyakan pertama kali kakak perempuanku.</p>
<p>“Kita di sini udah nunggu dari jam 9 tadi juga. Mana dihubungi HP-nya gak bisa-bisa. Sudah makan belum?” lanjutnya.</p>
<p>“Maaf deh, tadi Rahman ke Kantor Pusat dulu. Ada yang harus ditemui di sana. Setelah itu ada acara kumpul sama teman-teman di sebuah rumah makan. Jadi sudah makan siang di sana.” Jawabku sambil mengeluarkan <em>handphone</em> yang ternyata dalam keadaan <em>off</em>. Memang aku  tidak memberitahukan apa maksud kedatanganku kali ini kepada mereka dan rencana apa saja yang akan aku lakukan setibanya di Jakarta. Terlebih lagi <em>handphone</em> aku matikan demi menjaga sopan santunku ketika bertemu dengan pejabat di Pusat. Parahnya, aku lupa menghidupkannya kembali setelah pertemuan tadi hingga sampai diingatkan oleh kakak perempuanku.</p>
<p>Di hadapan ayah, nenek  dan semua saudara, kusampaikan maksud utama kedatanganku kali ini.  “Ayah, juga semuanya. Rahman pulang Jakarta ini maksud semula adalah mau menghadiri undangan teman-teman di Pusat. Tadi sudah ketemuan di Thamrin. Tapi saat mau berangkat ke sini, ada temen Pusat yang kasih tahu kalau Rahman akhirnya bisa berangkat S2 ke Australia…..”</p>
<p>Belum juga selesai ucapanku, semua yang ada di rumah itu serentak berucap syukur Alhamdulillah. Ayahku yang pertama kali berkomentar atas karunia ini.</p>
<p>“Akhirnya berangkat juga kamu Man.” Ucapnya sambil memelukku. Memang dahulu aku pernah  mengutarakan kepada ayah keinginan untuk mengambil S2 di luar negeri. Saat itu aku mau memastikan bahwa apakah dia mengizinkan aku menuntut ilmu ke luar negeri. Pada dasarnya ayah mengizinkan aku dengan satu peringatan untuk tidak melupakan solat meski di luar negeri.</p>
<p>“Iya yah, tapi apa izin ayah sekarang masih berlaku?” Tanya candaku untuk memastikan kembali bahwa sikapnya belum berubah hingga saat ini.</p>
<p>“Ya enggalah Man, masak kita-kita menghalangi kesempatan baik kamu itu. Malah kita disini semua akan bangga sekali, bahwa akan ada dari keluarga kita yang bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi, di luar negeri lagi.” Bukan ayah yang menjawab, tapi kakak laki-lakiku. Aku dan ayah masih saling berpandangan. Tanganku masih tetap memegangi pundaknya.</p>
<p>“Apa ayah senang jika Rahman pergi lebih jauh lagi meninggalkan ayah? Apa ayah tidak merindukan Rahman nantinya?” Tanyaku lagi dengan sambil menahan rasa sedihku karena terlalu sayangnya aku padanya. Kembali ayah memelukku. Kali ini dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya menangis di pundakku. Cukup lama ia berbuat itu. Saudara-saudaraku lainnya pun terharu menyaksikan kami berdua. Sampai akhirnya dia mau berucap sambil tetap memelukku.</p>
<p>“Kamu tidak usah pedulikan apa kata orang. Hanya ayah, kamu dan Allah yang mengetahui bagaimana perasaan ayah padamu, dari dulu hingga sekarang.”</p>
<p>“Ayah kok..…” belum lagi aku selesai bicara, dia sudah melepaskan pelukannya dan menatapku sambil berkata lagi.</p>
<p>“Iya, ayah tahu betapa gusarnya kamu dengan pernyataan orang lain kepadamu. Ayah tahu itu dari wajahmu Nak. Kenapa setelah 6 tahun kamu meninggalkan ayah di Purwakarta, kemudian ditambah lagi 5 tahun kamu di Selayar tidak pernah sekalipun kamu bertanya tentang perasaan ayah saat kamu tinggalkan. Kini, tiba-tiba kamu pertanyakaan itu justru di saat kamu akan kembali meninggalkan ayah ke tempat yang lebih jauh lagi. Saat kamu gusar, upayakan saja ayah tetap ada di setiap langkah dan doamu, karena seperti itulah adanya kamu di setiap langkah dan doa ayah.”</p>
<p>“Jika ibumu masih ada, kali ini pasti dia akan senang kamu tinggalkan.” Nenek dari ibuku yang sejak tadi hanya mendengarkan turut bicara.</p>
<p>Sore itu kami habiskan waktu dengan menikmati makanan yang memang sejak pagi sudah disiapkan oleh adikku. Kami saling berbagi cerita mengenai segala hal setelah sekian lama kami tidak berkumpul bersama. Tanpa terasa waktu sudah beranjak sore. Kami solat ashar berjamaah dan memutuskan untuk pergi bersama ke makam ibu. Di area pemakaman islam yang tidak jauh dari rumah kami, kudapati sebuah gundukan tanah penuh dengan rumput hijau yang tidak terlalu lebat. Tertata rapih dan terjaga perawatannya. Seperti itulah bayangan wajah ibuku saat dulu aku sering ke makamnya setiap jumat pagi hingga kini. Tampak awet muda dan tertata rapih. Tidak seperti wajah ayah dan nenen-nenekku yang semakin tergambar guratan wajah tuanya setiap aku memandanginya.</p>
<p>Pertemuan keluarga kali ini kami akhiri dengan makan malam bersama di warung nasi uduk kegemaran kami semua, tentunya juga kegemaran ibu sewaktu beliau masih ada. Tepat selepas maghrib kami sudah menghadapi makan malam lengkap dengan menu favorit masing-masing. Ayah lebih suka makan nasi uduk dengan sate tahu tempe. Kakak perempuanku beserta keluarganya memesan nasi uduk dengan soto babat. Sementara kakakku yang laki-laki memesan dengan menu sayur kari. Sedangkan aku sendiri dan keluarga adikku memesan nasi uduk lengkap dengan semur tahu tempe dan kentang. Demi melihat kekompakan kami itu, aku teringat dulu ketika suatu malam kami menghabiskan waktu makan malam serupa di tempat yang sama saat lengkap masih ada ibu. Jika beliau masih ada, pasti dia memesan menu yang sama dengan yang aku pesan.</p>
<p>Waktu sudah menunjukkan tepat pukul 19.00 WIB. Acara makan malam bersama usai sudah. Masih ada waktu dua jam sebelum pesawatku lepas landas. Masih di depan warung makan itu, aku pamit pada keluargaku semuanya. Kebetulan warung makan yang kami singgahi tepat berada di sisi jalan raya yang sering dilintasi taksi. Ketika taksi yang kami tunggu tiba, aku peluk mereka satu persatu dengan penuh haru.</p>
<p>“Oh iya semuanya, Rahman akan datang lagi ke Jakarta nanti ketika sudah ada panggilan untuk persiapan ke luar negeri. Insya Allah Rahman sempatkan beberapa hari untuk kita bersama-sama lagi sebelum ke Bali untuk persiapan bahasa Inggris, lalu langsung berangkat ke Australia.”</p>
<p>“Ya sudah, cepat itu taksinya sudah lama nunggu, nanti terlambat check in lagi. Jangan lupa kalau sudah sampai di Makassar atau di Selayar, kirim kabar lewat SMS.” Suami kakak perempuanku mengingatkanku untuk mengirimkan SMS.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;000&#8212;</p>
<p>SMS? Ya ampun, aku hampir lupa bahwa ketika masuk pesawat tadi HP-ku berbunyi tanda sebuah SMS masuk. Segera saja kuraih handphone dan membaca pesan yang hampir saja kulupakan. “Jadi pulang malam ini? Langsung saja singgah di rumah Jalan Bete-Bete Nomor 6 Makassar, aku tunggu di sana meski kamu tiba larut malam. Kamu harus cerita tentang pertemuan siang tadi, oke.” Begitulah pesan dari temanku di Makassar yang menawarkan agar aku bermalam di rumahnya sebelum besoknya aku harus melanjutkan perjalanan seharian menuju Selayar. Aku hanya jawab, “Insya Allah pesawat mendarat jam 12 malam waktu sana. Mungkin tiba di rumah kamu jam 1 pagi. Terima kasih kalau masih mau menuggu.”</p>
<p>Saat aku mengetik sebuah SMS balasan, penumpang di sebelah kursiku tampak sinis demi melihat aku yang masih saja mengaktifkan handphone saat pesawat sudah lepas landas satu jam yang lalu. Ternyata seorang wanita cantik, umur sekitar 25 tahun, hidung tidak terlalu mancung tidak pula terlalu datar, rambutnya hitam sebahu dengan kulit putih dan halus. Saking halus wajahnya, sampai-sampai terlihat bulu-bulu kecil di atas bibirnya. Ah, benar-benar fisik wanita seleraku. Handphone aku matikan sesaat aku dapat pastikan bahwa pesan balasan yang aku kirim telah diterima di sana.</p>
<p>Malam itu aku habiskan waktu bersama temanku di rumah orang tuanya dengan banyak menceritakan kembali pertemuan aku dengan temen-teman tadi siang. Aku juga banyak bertanya kepadanya tentang kegiatan perkuliahan S2-nya yang katanya sudah masuk tahap penulisan tesis. Hampir masuk jam tiga pagi baru kami kehilangan bahan untuk mengobrol. Di sisa waktu yang ada sebelum subuh menjelang, kupaksakan tidur meski sebentar. Enak sekali rasanya tidur di tempat di mana temanku dulu, 12 tahun yang lalu, memulai karirnya dari kamar ini. Kini dia sudah mencapai level eselon 3. Level jabatan tertinggi yang diraih orang semuda dia. Pencapaian yang sungguh membuat kami bangga menjadi bagian dari BO97. Akankah sejarah itu terukir kembali dari sini, mulai dari malam ini. Semoga tidak! Maksudku, semoga tidak perlu selama itu, ha..ha..ha..  Mimpi malampun segera datang menyelimuti tidurku dan menyempurnakan mimpi-mimpiku siang tadi.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;FIN&#8212;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=11&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/16/panasnya-ayam-goreng-suharti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGHADIRI UNDANGAN FORUM BO 97</title>
		<link>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/14/menghadiri-undangan-forum-bo-97/</link>
		<comments>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/14/menghadiri-undangan-forum-bo-97/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 15:10:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rahmanjakarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmanjakarta.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Handphone-ku berbunyi nada masuk sebuah pesan saat hendak menaiki tangga pesawat. Sengaja tidak kubuka dulu HP-ku karena menunggu hingga nanti setelah kudapatkan nomor kursi yang tertera di boarding pass tiket Makassar-Jakarta. Setelah mendapatkan kursiku yang ternyata berada di kursi dekat jendela, tempat favoritku setiap melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, aku letakkan tas laptop di bawah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=3&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Handphone-ku berbunyi nada masuk sebuah pesan saat hendak menaiki tangga pesawat. Sengaja tidak kubuka dulu HP-ku karena menunggu hingga nanti setelah kudapatkan nomor kursi yang tertera di boarding pass tiket Makassar-Jakarta. Setelah mendapatkan kursiku yang ternyata berada di kursi dekat jendela, tempat favoritku setiap melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, aku letakkan tas laptop di bawah kaki dan memasang seat belt dengan benar. Memang aku biasa meletakkan tas berisi laptop di bawah kaki bukan di kabin untuk menghindari  penumpukan dengan barang bawaan penumpang lain yang tidak mengetahui isi tasku. Setelah bisa duduk dengan tenang baru aku teringat tentang SMS yang belum lama masuk ke inbox HPku. Segera kubuka, ternyata dari teman di Jakarta. “Sudah sampai dimana? Jangan lupa ya, hari ini jam 10. Sudah tahu kan tempatnya?” Seorang temanku di Jakarta mengingatkan tentang acara yang akan kuhadiri siang ini. Ya, memang hari ini aku akan berangkat ke Jakarta  dari Makassar untuk menghadiri undangan teman-teman yang katanya akan membicarakan rencana pembentukan Forum Alumni Prodip III Anggaran Angkatan Tahun 1997. Dan yang tadi mengirim SMS adalah Bayu Sukmono, dia bertindak sebagai salah seorang panitia pelaksana. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul 8 pagi. Karena selisih waktu satu jam lebih awal di Makassar dengan penerbangan yang memakan waktu 2 jam serta perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju tempat acara sekitar 1 jam maka insya Allah aku bisa datang tepat waktu, pikirku. Ingin kujawab SMS tadi, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Satu yang aku ingat adalah dengan segera HP kumatikan demi mendengar instruksi dari pramugari nan cantik di depan sana. Selebihnya aku terlelap kembali dalam tidur yang nyenyak.<span id="more-3"></span></p>
<p>Setelah berhasil melewati ruang tunggu terminal kedatangan Bandara Cengkareng, segera kucari bis Damri yang menuju halte Stasiun Gambir. Rencanaku setibanya di Gambir akan aku lanjutkan ke Kantor Pusat DJPBN dengan menggunakan ojek agar tidak terlambat acara. Di dalam bis tak kulepaskan pandanganku ke berbagai sudut kota Jakarta yang dilalui rute Bandara-Gambir. Inikah wajah tanah kelahiranku setelah lama kutinggalkan. Selama 12 tahun bekerja di Departemen Keuangan,memang belum pernah aku merasakan penempatan  kerja di ibu kota negara ini, kota kebanggaanku dengan segala kelebihan dan kekurangannya.  Dalam pandanganku seakan jalan-jalan dan gedung-gedung yang aku lalui bicara, “Kenapa kamu tinggalkan aku, tanah kelahiranmu sendiri. Tidakkah kau mau mengabdi di daerahmu ini sambil mengembangkan aku. Kenapa kamu tega meninggalkan  jasad ibumu yang harus aku jaga tanpa perawatanmu, tanpa siraman air bunga mawar dan taburan bunga melati, tanpa panjatan doa yang dulu senantiasa kamu lakukan. Tidakkah kamu khawatir jika sewaktu-waktu ayahmu membutuhkanmu untuk hadir tepat di sisinya di saat Allah memenuhi permintaan terakhirnya. Mampukah kamu menjalani harimu bersama keluarga disana, di saat kamu mendapat kabar bahwa hari ini, disini, orang kamu cintai telah pergi meninggalkan kalian untuk selamanya dan tidak akan lagi kalian jumpai ketika datang kesini?” Segala pertanyaan yang menyudutkanku selalu saja muncul seiring berjalannya bis menyusuri jalan-jalan ibu kota. Sebisa mungkin kuusahakan menghapus penampakan gedung dan jalan yang memaki dan menyudutkanku dengan senantiasa beristighfar.</p>
<p>Alhamdulillah, segalanya berjalan lancar. Ojek yang kutumpangi melintasi depan Masjid Istiqlal lalu belok kanan tepat di depan kantor Departemen Agama. Sejurus kemudian tibalah aku di depan  komplek Departemen Keuangan, sebuah kantor megah yang selalu membayangi hari-hari sadar dan mimpiku selama ini. Aku sadar bahwa aku selamanya tidak akan berkantor di sana karena aku tidak lulus assestment. Aku mendengar adanya kebijakan itu dari seorang Pejabat  DJPBN. Semoga di hari ke depan kebijakan tersebut tidak berlaku lagi. Karena itu untuk sementara cukup dalam mimpiku saja aku berkantor di sana. Kulihat jam tanganku. Aha, tepat jam 11. Itu berarti baru jam 10 disini. Jadi tidak terlambat pikirku seraya menuju tempat pertemuan, sebuah aula yang berada di lantai 3 gedung utama DJPBN.</p>
<p>Salut buat teman-temanku, ternyata walaupun jam di dinding menunjukkan pukul 10.05 acara sudah dimulai tepat jam 10 tadi. Memang begitu seharusnya, generasi muda DJPBN harus menunjukkan komitmen pada waktu yang telah disepakati. Generasi muda prospektif itu tampak duduk di meja depan menghadap peserta rapat: Alim Afifi mewakili DJPBN, Ahmad Rustandi (DJKN), Irsan Abdul Muis (DJA), dan Diah Chandra Kirana (DJPU). Mereka adalah Tim Formatur pembentukan Forum. Aku tahu tentang tim tersebut dari surat undangan yang dikirim via email. Tapi aku malah tidak melihat Syakran Rudi, baik di depan maupun di jajaraan peserta. Padahal nama dia tercantum dalam undangan meski bukan sebagai Tim Formatur. Berdasarkan informasi dari Bayu Sukmono bahwa yang bersangkutan akan hadir di sela-sela mengikuti Rapimtas DJPBN yang berlangsung di gedung yang sama di ruangan berbeda. Mungkin saat ini acaranya sedang berlangsung.<br />
Aku ambil barisan paling belakang, karena memang hanya itulah kursi yang tersisa. Di sampingku duduk M. Taufik Hidayanto, perwakilan dari Kanwil Manado. Dengan tangan menjulur menyambut salamku, dia tersenyum sambil setengah berbisik, “Seharusnya Mas yang duduk di depan sana.” Lagi-lagi aku tidak bisa berbicara, entah kenapa. Kubalas bisikannya itu hanya dengan senyum. Ah, Taufik apa kamu tidak membaca postingan aku di milis belum lama ini sebagai reply atas postingan Mas Alim. Di sana pasti akan kamu dapatkan jawabannya, gumamku dalam hati tanpa mau membicarakan lebih lanjut. Aku khawatir obrolan kami dapat mengganggu acara karena di depan sana acara sudah masuk pada pembahasan program kerja.</p>
<p>Seorang peserta berdiri hendak menyampaikan sumbang sarannya. Ternyata dia adalah M. Sholeh, perwakilan dari Kanwil Semarang. Aku bersyukur bisa melihat dia hadir, karena ada hal yang ingin aku sampaikan selepas acara ini. Ada yang ingin aku tuntut darinya. Sebuah tuntutan atas pernyataannya jauh sebelum hari ini. Kembali ke acara. Poin yang dapat aku tangkap dari usulannya adalah agar pemimpin Forum nantinya dapat membangun kerjasama dan network yang lebih solid lagi dengan teman-teman satu almamater yang lebih senior. Misal, disana ada Mas Kobir (Dit. PKN), Mas Wahyu Musukhal (Bag. Pengembangan), Mas Suharno (Dit. PKBLU), dan banyak lagi. Banyak hal-hal positif dan bermanfaat bagi angkatan jika jaringan ini telah terbentuk, paparnya. Hmm, ide yang bagus pikirku. Memang anak ini dari dulu sejak di kampus terkenal dengan ide pembangunan jejaring (network development)  dengan teman-teman lainnya, baik yang seangkatan, di atas, maupun di bawahnya. Maklumlah, dia kan ketua Senat waktu itu.</p>
<p>Ahmad Rustandi yang dipercaya sebagai sekretaris Tim Formatur tampak sibuk mencatat poin-poin yang disampaikan peserta. Sementara Alim Afifi yang memimpin acara sedang mempersilakan seorang peserta untuk menyampaikan sarannya.<br />
Peserta kedua yang berbicara adalah Bayu Sukmono, perwakilan Dit. Anggaran III DJA. Setelah dipersilakan, dia berdiri sambil memegang beberapa lembar kertas. “Terima kasih pertama saya sampaikan kepada Mas Alim Afifi atas waktu yang diberikan kepada saya. Terima kasih yang kedua hendaknya saya, dan juga semua yang hadir disini, sampaikan kepada rekan kita Abdul Rahman.” Kaget rasanya mendengar namaku disebut di forum. Terlebih kaget lagi ketika Bayu menunjuk ke arahku di belakang. Kontan saja semua peserta dan Tim Formatur mengarahkan wajahnya ke aku yang masih bingung dengan maksud teman yang satu ini. Belum lagi rasa ge-er  ini memuncak menembus ubun-ubun, Bayu sudah melanjutkan bicaranya. “Kita harus berterima kasih kepada Rahman, karena dia telah bersusah payah mendata keberadaan teman-teman kita semua.” Bayu mengatakan itu sambil mengangkat dan menunjuk beberapa lembar kertas yang ada di tangannya.  “Berkat upayanya ini, kita jadi lebih tahu lagi tentang posisi terakhir para alumni Prodip III Anggaran 1997. Meskipun inventarisir yang dipublikasikannya belum sepenuhnya sempurna, namun semua itu sengaja dilakukan agar rekan-rekan yang lain dapat berpartisipasi. Dia sengaja memancing kita semua untuk menyadari, bahwa kita adalah bagian yang satu. Satu guru, satu ilmu, satu institusi, jangan ganggu. Atas upayanya itu, dia hendak menghilangkan adanya kesan dikotomi Pusat-Daerah yang ada di antara kita.”  Ah, Bay… jangan terlalu berlebihan begitu. Aku kan hanya menginventarisir saja. Toh temen-temen sendiri yang kasih masukan ke aku, termasuk kamu yang rajin memberi masukan, ucapku dalam hati. “Dari data ini, kita bisa tahu betapa masih banyak teman-teman kita yang masih berada di daerah pengabdian nun jauh di sana. Ada Deny Eko Cahyono di KPPN Waingapu, Suranto di KPPN Manokwari, Ruba’i Ohim di KPPN Baturaja, dan yang lainnya bisa dibaca di lembaran ini. Rahman sendiri sampai sekarang masih di KPPN Benteng sejak saat bersamaan dengan kita-kita yang masuk ke Pusat.”</p>
<p>Aku hendak menginterupsi pembicaraan Bayu Sukmono. Namun, kali ini sama seperti sebelumnya, tidak ada yang bisa aku perbuat. Jangankan untuk berbicara, mengangkat tanganpun aku tidak bisa. Sampai akhirnya, “Maaf, saudara Bayu, atas keterbatasan waktu mohon langsung poin usulan dimaksud!” Sela sang sekretaris. Tampaknya Ahmad Rustandi sudah capek mencatat panjang lebar perkataan Bayu namun belum dapat poin dimaksud.</p>
<p>“Maaf. Begini saja. Saya mengusulkan agar Tim Formatur setelah ini dapat menemui Syakran Rudi untuk membicarakan kemungkinan membantu teman-teman kita yang saya sebutkan tadi agar bisa ditarik keluar dari daerah penempatanya masing-masing ke tempat yang lebih layak. Minimal meminta bantuannya untuk tidak membiarkan teman-teman yang masih di daerah untuk terlalu lama di sana. Saya rasa Tim Formatur dan semua yang hadir disini sudah paham dengan maksud saya.”</p>
<p>Mendengar kalimat-kalimat terakhir  Bayu Sukmono, mau tidak mau aku harus berbicara. Aku harus bisa mengangkat tangan tanda minta izin diberi kesempatan berbicara. Aku harus bisa mengatakan kepada forum bahwa hal yang demikian tidak perlu dilakukan, khususnya bagiku. Entah kenapa aku harus mengatakan itu kepada forum, meski dalam hati akupun akan senang jika usaha teman-teman seperti yang diusulkan Bayu berhasil.</p>
<p>Akhirnya aku berhasil mengangkat tangan tinggi-tinggi ke udara. Ya, aku bersorak senang atas kemampuanku itu. Tinggal sekarang harus bisa bicara. Sebelum aku bicara, tiba-tiba ada tangan halus yang menggapai tanganku setengah menarik dari depan.<br />
“Bi..Bi…  Bangun Bi… Abi mimpi ya…? udah jam tujuh tuh. Nanti terlambat lagi handkey-nya. Nadine udah siap, udah sarapan dan minum susu. Siap berangkat.”</p>
<p>Oooh, ternyata aku hanya mimpi. Semalam memang aku terjaga sampai subuh menjelang. Berupaya menyelesaikan bagian terakhir tulisan ini serta mengeditnya. Baru tidur setelah solat subuh. Sebenarnya tulisan ini selesai 2 jam menjelang subuh. Aku pikir tanggung untuk tidur, kunyalakan televisi menonton HBO. Film yang diputar saat itu adalah Mr. Woodcock. Film yang bercerita tentang kondisi dilematis yang dihadapi Jhon Mc. Farley (Sean William Scott). Di satu sisi, buku terbarunya tentang bagaimana keluar dari masa lalu menyongsong keberhasilan mendatang menjadi best seller, di lain sisi dia sedang menghadapi problem bagaimana keluar dari bayang masa lalu guru basketnya, Mr. Woodcock (Billy Bob Thomton) yang selalu saja menganiaya dia dan anak latih lainnya. Sementara mantan gurunya itu akan menikahi ibunya.</p>
<p>Di atas Thunder 125 yang melaju tidak terlalu kencang dalam perjalanan mengantar buah hati ke sekolah, aku senyum-senyum sendiri. Aah, andai saja aku tidak dibangunkan tadi mungkin aku bisa menemui Sholeh untuk menuntut ucapannya yang pernah dia katakan dua tahun yang lalu ketika aku menemuinya sebelum kembali ke Selayar seselesainya D4 STAN. Tentang apa yang diucapkan, biarlah menjadi rahasia kami berdua. Atau juga bisa jadi aku berhasil menemui Pak Djoko Wihantoro yang memang sejak dari Selayar aku sudah agendakan menemuinya guna silaturahmi biasa, antara seorang pegawai dengan mantan bosnya. Biarlah aku tidak berhasil menemui keduanya, pikirku, yang penting anakku aman tidak terlambat sekolah dan TKHPKN ku aman tidak terpotong.</p>
<p>Selayar, 2 Pebruari 2009<br />
Rahman</p>
<p>Dedicated to :<br />
-	My beloved mother di sisi-Nya yang sedang bercengkrama dengan adik-adikku dan kakekku<br />
-	My beloved father di Jakarta yang ternyata memendam rasa kehilangan anaknya yang lama merantau<br />
-	Seluruh saudara, kerabat dan handai tolan yang merindukan kami. We miss you too<br />
-	Seluruh teman-teman Alumni Prodip III Anggaran 1997 di Jakarta dan dimanapun berada</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmanjakarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmanjakarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmanjakarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmanjakarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmanjakarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmanjakarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmanjakarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmanjakarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmanjakarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmanjakarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmanjakarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmanjakarta.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmanjakarta.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmanjakarta.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmanjakarta.wordpress.com&amp;blog=6582416&amp;post=3&amp;subd=rahmanjakarta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmanjakarta.wordpress.com/2009/02/14/menghadiri-undangan-forum-bo-97/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94e77a0a221844990eda471f6675820f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rahmanjakarta</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
