KISAH NADINE MENDAPATKAN TAS BARUNYA

30 03 2009

nadine2Nadine (5 tahun), anak kami yang pertama, semenjak kepindahannya dari TK Adituka ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri Benteng, kami perhatikan mengalami perubahan sikap menuju ke gejala konsumerisme yang berlebihan. Sikapnya ini dapat dilihat dari selalu menuntut dibelikannya segala sesuatu yang dimiliki oleh teman-temannya. Suatu sikap yang wajar terjadi pada anak-anak seusianya. Namun, sebagai orang tua kami harus mengarahkan sikapnya ini agar tidak mengarah kepada sikap yang kurang baik di kemudian hari.

Kepindahannya ke MIN Benteng pada usia yang sangat dini untuk ukuran seseorang memasuki sekolah dasar hanya dikarenakan alasan yang sebenarnya sangat sepele. Kami selalu merasa bersalah telah menempatkannya di TK tersebut manakala Nadine selalu mempertanyakan mengapa hanya dia saja (dan para gurunya) yang menggunakan jilbab, sementara teman-temannya (yang perempuan) tidak ada yang memakai jilbab. Pada satu kesempatan kami hanya bisa menjawab dengan menanamkan pemahaman padanya bahwa menggunakan jilbab itu adalah kewajiban kita sebagai orang Islam dan itu merupakan perbuatan yang baik. Namun, pada kesempatan lain di saat dia menanyakan kembali hal yang sama kadang kami kewalahan untuk memberikan jawaban lainnya kecuali kembali kami mengulang apa yang pernah kami tanamkan dulu. Demikianlah hingga akhirnya kami memutuskan untuk memindahkanya ke MIN Benteng yang dapat dipastikan tidak akan muncul lagi pertayaan semacam itu dikarenakan teman-teman satu kelasnya (yang perempuan) pasti menggunakan jilbab.

Seminggu yang lalu dia merengek-rengek minta dibelikan tas yang baru setelah melihat salah seorang temannya mempunyai tas yang menurutnya sangat bagus dari segi bentuk dan warna. Tas tersebut terdiri dari beberapa bagian atau sekat yang dapat menampung lebih banyak sesuatu yang dapat dimuat. Warna pink tas temannya itupun menarik perhatiannya. Baginya akan lebih menyenangkan jika mempunyai tas dengan bentuk dan warna demikian dibanding tas yang dimiliki sekarang yang dengan sedikit sekat dan kuning pula warnanya. Hingga malam tiba, Nadine masih meminta dengan sedikit memaksa untuk dibelikan tas tersebut malam itu juga.

Kami sepakat untuk tidak mengajarkan padanya bahwa ia akan dengan mudah selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Karena bagi kami, jika dituruti keinginannya malam itu juga, pasti hal yang sama akan terulang saat datang keinginannya untuk mempunyai barang-barang lainnya yang menarik hatinya. Dan itu adalah tidak baik bagi perkembangan sikapnya di kemudian hari. Untuk itu kami hendak mengajarinya bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu dia harus sabar menunggu disertai dengan pengorbanan darinya. Bentuk pengajaran itu sederhananya adalah Nadine harus mau menyisakan uangnya (menabung) dalam jangka waktu tertentu dari sejumlah uang yang kami berikan setiap hari padanya. Kami putuskan untuk memberinya uang lebih dari yang setiap hari diterimanya selama satu minggu. Seperti biasa, dia dapat menggunakan uang Rp. 1.000 untuk keperluannya jajan di sekolah, sedang sisanya harus ditabung untuk membeli tas yang dikehendaki. Untuk itu kami telah menyiapkan celengan tempat dia menyimpan sisa uangnya dan uang-uang ribuan yang akan diberikan setiap harinya.

Pikir kami, waktu satu minggu adalah waktu yang sangat singkat untuk memberikan pelajaran yang akan sangat berguna baginya di beberapa tahun kemudian. Namun, tidak bagi Nadine. Baginya waktu satu minggu tersebut masih terlalu lama. Sehingga wajar saja, jika pada malam hari pertama dia menabung tetap merengek untuk dibelikan tas saat itu juga dengan hasil uang tabungannya. Kembali kami harus bisa mengalahkan keinginannya itu demi memberinya satu pelajaran berguna seraya mencari cara mengekang keinginannya. Akhirnya kami ajak dia untuk membuka tabungannya. Tentu saja uang yang terkumpul baru sedikit. Saat itu baru terkumpul Rp. 12.000,- hasil pemberian uang dari kami Rp. 10.000,- dan sisa uang jajannya Rp. 2.000,-. Akhirnya kami ajak dia untuk menghitung betapa masih banyak uang yang harus diperlukan untuk memperoleh tas yang baru. Kami contohkan padanya bahwa harga tas yang baru adalah Rp. 60.000,- sedangkan uang yang dimilikinya baru Rp. 12.000,-, dengan menuliskannya di white board, Nadine mencoba menghitung kekurangannya. Ya, Rp. 48.000,-. Dia dapat mengetahui betapa masih banyak uang lagi yang harus dikumpulkan dan akhirnya bisa memahami bahwa keinginan untuk memiliki tas barunya masih terlalu dini untuk direalisasikan malam itu. Kami pun tak lupa mengiming-imingi bahwa ia bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi untuk ditabung jika mau membantu kedua orang tuanya melakukan sesuatu semampu dia. Kami berikan contoh padanya, misalkan membantu membereskan rumah, menjaga adiknya, atau sekadar memberi pijatan dan urutan tangan halusnya yang pikir kami belum terasa apapun di badan kami. Malam itu kami lega karena beberapa pelajaran penting sudah kami tanamkan dan sepertinya dia bisa menerimanya.

Kami merasa dengan teknik-teknik seperti itu dia akan mau menunggu sampai malam ke-tujuh. Ternyata dugaan kami meleset. Pada malam ke-dua, kembali Nadine meminta dibelikan tas baru saat itu juga seraya membawa celengannya dan mengatakan bahwa uang yang terkumpul telah cukup baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Habis sudah cara yang dapat kami perbuat untuk meyakininya bahwa waktunya belum tiba. Kembali cara-cara semula kami gunakan kembali. Kami ajak dia untuk membuka kembali tabungannya. Ternyata malam ini memang jumlah uang yang terkumpul lebih banyak dari sebelumnya. Kini uang tabungannya menjadi Rp. 26.000,-. Kembali dia berhitung di whiteboard untuk mengetahui jumlah yang masih harus ditabung. Ternyata tetap masih banyak kekurangan pikirnya. Kesabarannya sudah hilang. Nadine masih merengek-rengek seraya mengajak kami untuk mengambil uang di ATM BRI guna menutupi sisanya dan membeli tas malam itu juga.

Memang kami selalu mengajaknya ke ATM BRI manakala kami hendak melakukan penarikan tunai. Sudah menjadi kebiasaan bahwa dialah yang akan mengambil struk transaksi penarikan tunai berikut uangnya saat keluar dari mesin ATM untuk selanjutnya menyerahkannya kepada kami. Dia sendiri sepertinya sudah hapal betul kapan waktunya tanda bukti transaksi keluar dan kapan uang yang keluar dengan mendengar suara mesin ATM saat menghitung nominal yang akan dikeluarkan. Tanpa kami sadari, bahwa apa yang kami lakukan itu ternyata sudah memberikannya pelajaran yang buruk. Pikirnya, untuk mendapatkan uang hanya tinggal datang ke ATM tersebut, memencet sejumlah tombol maka keluarlah uang yang kita kehendaki. Dia belum dapat memahami apakah saldo uang kita ditabungan masih mencukupi atau tidak untuk melakukan penarikan tunai.

Terang saja ajakannya untuk ke ATM BRI kami tolak. Tentunya dengan penjelasan bahwa untuk menarik uang dari ATM harus melihat berapa jumlah uang yang kita simpan di bank itu. Tentunya dia belum memahami hal itu. Nadine pun masih belum puas. Kali ini dia meminta saya untuk menuliskan di secarik kertas bahwa saya harus berjanji membelikannya tas pada saat yang telah ditentukan. Kami terkesima. Subhanallah. Bagaimana caranya muncul sebuah ide yang kami pikir sangat brilian bagi seorang seusia Nadine. Mau tidak mau saya turuti kemauannya. Akhirnya di selembar kalender, tepatnya di bagian bulan Maret 2009, saya tuliskan kata-kata dengan ukuran besar yang dapat terbaca olehnya sebagai berikut: “Abi janji, insya Allah minggu depan, tanggal 29 Maret 2009, akan membelikan Nadine tas yang baru. [tanda tangan saya].” Janji saya inilah yang selalu dia bacakan setiap harinya guna mengingatkan saya agar tidak lupa.

Hal yang sama dilakukannya ketika kami berdua memakai uang tabungannya untuk keperluan mendesak yang memerlukan uang kecil. Di bawah tulisan saya ditulisnya pula kalimat dengan gaya penulisannya sekadar untuk megingatkan kami berdua: “Umi Abi boleh ngutang tapi diganti 7500.” Begitulah kira-kira peringatan kepada kami ketika menggunakan uangnya Rp. 7500,- untuk membayar sesuatu yang saat itu kami tidak memiliki uang kecil. Kami mengagumi daya nalarnya untuk segera mencatat segala sesuatu terkait utang piutang. Dapat dimungkinkan tanpa dilakukan pencatatan, kami berdua di kemudian hari akan lupa. Memang demikianlah Alquran mengajarkan kita untuk segera mencatat segala transaksi sebagai bukti saat diperlukan.

Hari demi hari selalu saja dia menghitung sisanya menuju hari minggu. Ada saja yang dia tawarkan untuk dikerjakannya demi mendapatkan tambahan uang selain yang secara rutin kami berikan. Kejadian merengek-rengek memang sudah tidak dia lakukan. Namun, kebiasaan untuk membuka tabungannya pada setiap malamnya tetap saja terjadi. Seperti biasa, setelah menghitung hasil uang yang terkumpul, dia lakukan penghitungan terhadap kekurangan uangnya. Semakin sering dia menghitung, semakin ceria saja pancaran wajahnya. Hasil pengurangan antara jumlah uang yang seharusnya ada dengan yang sudah terkumpul semakin kecil. Terbayang olehnya hari yang dinantikan saat hasil perhitungannya mendapatkan jumlah angka 0.

Kini, hari yang ditunggu-tunggu itu datang. Baginya menunggu satu minggu saja sudah seperti melakukan penantian berpuluh-puluh tahun. Lengkap dengan rasa tersiksanya lantaran terkekang dari keinginan memiliki sesuatu. Tapi bagi kami, waktu seminggu sangatlah singkat untuk memberikannya pelajaran tentang pengorbanan dalam memiliki sesuatu. Di tengah-tengah kami berempat sudah siap celengan yang akan dibuka. Kami pun telah rapi berpakaian karena memang akan keluar membeli tas setelah menghitung uang tabungan Nadine. Begitu dibuka, keluarlah semua apa yang dikumpulkan selama ini. Mulai dari uang logam nominal 500 rupiah hingga yang terbesar 10.000 rupiah. Total seluruh uang tabungan Nadine Rp. 38.000,-. Kami rasa tidaklah akan terlalu banyak uang tambahan untuk membelikan tas barunya. Dengan wajah cerah ceria dia bergegas menyeret kami mengajak toko langganan kami di sini.

Lama sekali Nadine mengamati setiap tas yang terpajang di toko itu. Kami biarkan dia untuk memilih sendiri tas yang diinginkannya. Mulai dari model, warna, maupun harganya. Bagi kami menentukan pilihan ada di tangannya adalah wujud pembelajaran berdemokrasi sejak dini. Kami beri dia kebebasan untuk memilih namun dia juga harus bisa mempertanggungjawabkan pilihannya. Demikian juga sebaliknya, kami harus menghargai apapun pilihannya. Se-norak apapun model dan warna tas pilihannya, kami anggap itulah pilihan terbaiknya. Setelah pilih sana pilih sini, lihat sini lihat sana, tenyata pilihannya jatuh pada tas dengan warna hijau tosca berbalut list oranye dengan gambar hamtaro. Hmm… pilihan yang smart, pikir kami. Tak terpikir sebelumnya dia akan memilih tas dengan warna tersebut. Bayangan kami justru tas yang akan dipilihnya berwarna pink dengan gambar boneka Barbie. Ada alasan dia memilih tas tersebut, selain karena warnanya yang eye cathing. Model tas itu banyak terdiri atas lembar yang dapat digunakan untuk menampung banyak keperluan, seperti yang selama ini dia inginkan. Selain lembar utama tempat menyimpan buku dan keperluan sekolah utama, ada juga tiga lembar tambahan di luar, tempat menampung barang-barang lainnya. Satu bonus lembar yang menjadikan Nadine tambah jatuh hati pada tas itu adalah adanya lembar untuk menyimpan uang jajannya. Bentuknya kecil dan terletak di dalam lembar utama. Setelah tawar menawar dengan pemilik toko, akhirnya harga tas tadi jatuh pada harga Rp. 45.000,- Berarti tidak terlalu banyak kami harus menambahkan uang tabungannya. Bagi kami tidak menjadi masalah jika harus mengeluarkan uang lebih banyak. Semahal apapun harga tas pilihannya, kami sudah sepakat untuk tetap membelikannya. Kami tidak ingin semangat untuk memiliki barang impiannya hilang begitu saja setelah dia rela berkorban untuk itu selama beberapa hari. Disinilah kami melihat bedanya antara konsumerisme berlebihan (yang cenderung ke hedonisme) dengan konsumerisme pembelajaran (istilah kami sendiri). Kini tas sudah berpindah tangan. Rasa ingin segera memakainya ke sekolah sangat membuncah di ubun-ubunnya. Kami pun memakluminya.

Selamat menggunakan tas baru, Nadine. Kami yakin, esok kamu di sekolah tidak akan menyombongkan tas barumu Nak. Karena selain kami telah mengajarimu untuk tidak boleh sombong, kamu dapatkan tas itu dengan pengorbananmu sendiri. Semoga pembelajaran ini akan berkesan di masa-masamu mendatang. Doakan selalu agar kita bisa bersama dalam suka dan duka.

Benteng, 30 Maret 2009.


Tindakan

Information

8 tanggapan

22 04 2009
Ebifs fadil Ihsan

Ho ho ho kedapatan neh tulisannya , pasti dah ge ambil tuk TE edisi terbaru
judulnya Kisah Nadine mendapatkan tas barunya

Eh lupa kalau mo ngirim berita kirim email kite neh
radiocontrend@yahoo.co.id
atau ke tanadoangekspress@gmail.com

salam hangat
Tetangga

22 04 2009
Ebifs fadil Ihsan

Hallow Bos , kedapatan tulisannya diredaksi pada ngakak eh eh ternyata papa nadine juga nulis ye . Ok kalo gitcu ngirim juga dong buat TE , caranya kirim via email : radiocontrend@yahoo.co.id atau ke tanadoangekspress@gmail.com

Klik juga di tanadoangekspress on line di google.

salam

22 04 2009
rahmanjakarta

Oke deh Bos Arsil. Silakan kalo mau diambil dari tulisan ini yang mana aja, asal dicantumkan sumbernya (ah engga pake diajarin juga Bos mah lebih tau ya). Oh iya tentang tulisan lampu merah di Selayar, masih banyak data yang gak update kali ya… perlu tuh di cek and recek lagi.

22 04 2009
rahmanjakarta

oh iya, jangan lupa honornya buat kita makan jagung di tahabira aja… wuakakak…

28 04 2009
OcanFather

nice story…
mudah2an suatu saat aq jg bisa ngajarin anakku kayak gini…
tapi….
mulai na dari mana ya???
hehehehe
Salam dr jakarta

5 06 2009
rere

hmmm…. kisah nadine ga jauh beda dengan Olan, yang suka ikut ke ATM ngambil struk, …tapi sekarang Olan sedang pengen nabung untuk bisa naik pesawat ke bandung katanya hehe, ngotot celengannya ga boleh dibuka-buka….

29 08 2009
Rosnany Mokodompit

makin sulit mendidik anak di era konsumerisme seperti sekarang pak, salut dengan kegigihan nya..

13 11 2009
iconk

Nadine…salam kenal dari Amel :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.